bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

September 28, 2008

Perubahan Akan Datang

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 11:56 pm

Cilegon - Lahirnya kemerdekaan suatu bangsa, tidak mungkin lepas dari cita-cita perubahan bangsanya itu sendiri. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang memiliki harapan dan peluang untuk berubah. Faktanya, setelah 63 tahun merdeka, sudahkah perubahan dan peluang itu kita rebut?

Demikian diungkapkan Yuddy Chrisnandi, anggota Komisi V DPR RI, pada acara dialog nasional yang digelar DPD KNPI Kota Cilegon di Aula DPRD Cilegon, Rabu (24/9). Hadir dalam dialog tersebut anggota DPRD Banten Tb. Iman Ariyadi, Ketua Ketua KNPI Cilegon Achyadi Sanusi, dan para aktivis muda dari berbagai unsur masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Tb. Iman Ariyadi memaparkan bagaimana para pemuda mampu mewarnai dan berperan penting dalam menentukan arah perubahan bangsa ini. Dalam perspektif historis keikutsertaan pemuda menorehkan sejarah dimulai dari Kebangkitan Nasional (1908), Sumpah Pemuda (1928), Proklamasi Kemerdekaan (1945), penumpasan pemberontakan PKI (1948) dan (1965), sampai Gerakan Reformasi di tahun (1998). Sebagai Politisi Muda, Tb. Iman Ariyadi berharap para aktivitas pemuda tidak hanya ikut-ikutan dalam terjun ke dunia politik, ”Paling tidak mereka harus mempunyai kapasitas untuk menjadi pemimpin yang baik, pekerja keras dan berani. Berani membangun tata pemerintahan yang bersih, serta menolak para intelektual dan politisi yang hanya mementingkan pribadi dan golongannya saja,” katanya.

Ditegaskan oleh Achyadi Sanusi, sudah saatnya kaum muda bangkit dalam mengisi pembangunan di daerahnya masing-masing. Salah satunya adalah berperan serta secara aktif mempersiapkan diri menjadi kader-kader pemimpin muda yang berkualitas. Dalam perspektif Demografis, pemuda adalah orang yang berusia 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Kedewasaan memilih menjadi bertingkat mulai dari pemula yang baru pertama kali mendapatkan hak pilih sampai dengan mereka yang sudah mendapat hak untuk dipilih. Sedangkan dalam perspektif Sosiologi, pemuda merupakan anggota masyarakat berusia produktif yang secara sadar mengambil perannya dalam konteks kepemimpinan, kepeloporan, dan kemandirian untuk memajukan kehidupan masyarakat. “Jangan sampai ketika yang tua sudah tidak mampu lagi memimpin, justru kader-kader muda tidak mampu menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan bangsa,” ujarnya.

Menanggapi keraguan moderator dialog nasional Sihabudin Siddik mengenai niatan Yuddy Chrisnandi mencalonkan diri menjadi calon presiden pada pemilu 2009 yang akan kandas oleh para calon presiden lainnya yang memiliki dana yang sangat besar, Yuddy mengatakan bahwa Soekarno, dalam meraih impiannya menjadi Presiden Pertama di Indonesia, hanya bermodalkan gagasan-gagasan dan pemikiran cemerlangnya yang ia sampaikan dari statsiun ke statsiun di seluruh pelosok tanah air. “Saya memiliki keyakinan bahwa keputusan untuk maju menjadi calon presiden harus diambil setelah sekian lama menahan rasa prihatin terhadap bangsa ini sebagai negara yang kaya raya tapi kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketidakadilan, dan ketergantungan pada pihak asing masih terus terpelihara dari waktu ke waktu,” tuturnya.

Menurut pria kelahiran Bandung, 29 Mei 1968 ini, meski sudah beberapa kali mengalami pergantian rezim, Kemiskinan, Kebodohan, Ketidakadilan, Korupsi, dan Ketergantungan pada asing masih tetap menjadi persoalan mendasar. “Kelima persoalan pokok kebangsaan yang saya beri nama “5 K” tak kunjung usai dikelola oleh presiden-presiden sebelumnya, mulai Habibie, Gus Dur, Megawati hingga Presiden SBY. Saya memandang persoalan ini sangat mendesak untuk segera dikerjakan oleh siapapun yang menjadi pemimpin bangsa ini,” tandasnya.

Anggota Komisi I DPR RI yang membidangi urusan Luar Negeri, Pertahanan dan Inteljen, yang juga sebagai Koordinator Koalisi Muda Parlemen Indonesia ini menawarkan 5 Agenda Membangun Bangsa Bermartabat; yaitu Indonesia Yang Makmur, Indonesia Yang Cerdas, Indonesia Yang Adil, Indonesia Tanpa Korupsi, dan Indonesia Yang Mandiri. “Indonesia ke depan adalah Indonesia yang harus berubah. Berubah menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan kita bernegara sebagaimana ditegaskan UUD 1945. Bahwa tujuan bernegara adalah melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Dan saya pun yakin perubahan itu akan datang bila yang memimpin bangsa ini adalah sosok yang memiliki visi jauh ke depan, cerdas dan amanah,” terangnya.

Di akhir acara, salah satu politisi muda asal Cilegon, Suardi, berharap Yuddy Chrisnandi bisa tampil seperti sosok Ahmadinejad, pemimpin muda Iran yang berani dalam membela kepentingan rakyatnya. Terlebih era globalisasi dan pasar bebas tidak bisa dihindari sebagai konsekuensi dari masuknya negara dalam sistem internasional. Pemimpin kedepan harus berani memberi pijakan yang kuat untuk melindungi kepentingan nasional yang berpihak kepada rakyat dan menghindari intervensi kekuatan asing.

Saya adalah pengagum Hugo Chavez di Venezuela, saya juga mengagumi Evo Morales di Bolivia dan Ahmadinejad di Iran. Mereka adalah sedikit dari pemimpin dunia yang berpihak pada rakyat. Mereka dicintai karena berani memproteksi kepentingan dalam negeri di tengah menguatnya intervensi asing. Jika saya menjadi presiden, insya Allah mereka berpengaruh banyak dalam pemikiran-pemikiran dan kebijakan yang akan saya ambil nantinya,” tegas Yuddy. *** (Wira)

September 27, 2008

Malam Seribu Bulan

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:22 am

Serang – Bulan Ramadhan identik dengan malam seribu bulan. Apa lagi pada malam-malam terakhir pada bulan puasa. Banyak sebagian kaum Muslimin mengadakan kegiatan di malam yang disebut dengan malam likuran dengan ragam kegiatan. Dari pengajian tadarus sampai i’tikaf di masjid yang dilanjutkan dengan sahur bersama.

Untuk kalangan seniman, dalam memaknai malam seribu bulan juga mempunyai tradisi sendiri. Pada Rabu (24/9) di IAIN SMHB Serang, beberapa komunitas kesenian di Serang, Kubah Budaya, Anonimus, Tasbeh, Pangeling Gusti, Bantampolis, Belistra, Kompi dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, mengadalan malam likuran dengan tema “Malam Seribu Bulan”. Acara yang diisi dengan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan musik religius ini dihadiri tak kurang dari ratusan pengunjung.

Menurut ketua pelaksana, Mahdiduri, acara “Malam Seribu Bulan” digelar untuk menambah keimanan para pelaku seni sebagai mahluk Tuhan, sekaligus mempertunjukkan nilai spiritual yang dikandung karya seni. Karya seni yang baik memang karya seni yang mengandung religius. Karya seni religius tidaklah harus selalu menyangkut agama. “Berkarya haruslah berangkat dari kesucian dan kejujuran,” jelas Mahdi panggilan akrab Mahdiduri, lelaki yang berambut panjang ini.

Seniman-seniman yang tampil membacakan puisi pada acara “Malam Seribu Bulan” antara lain Irwan Sofwan, Arumdanu, Wahyu Arya Wiyata, Ibnu PS Megananda, Niduparas, Reni GSC, Ado Zamzam, dan Suci Khairunisa. *** (Gito Waluyo).

September 26, 2008

Wanna B Production Berbagi Ceria

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 7:07 am

WANNA B PRODUCTION BERBAGI CERIA

BERSAMA 100 YATIM PIATU

BERBAGI ceria kepada sesama merupakan salah satu cara mengucap syukur atas segala nikmat dan berkah Allah SWT di bulan Ramadhan. Untuk itulah, Selasa (23/9/2008), bertempat di Wanna B Studio di Jl K.H. Ahmad Dahlan No.26, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Wanna B Production berkumpul bersama artis-artisnya untuk berbuka bersama dan menyantuni sekitar 100 lebih anak yatim piatu yang berasal dari kawasan sekitar studio Wanna B tersebut.

Hadir di acara tersebut adalah Baron Soulmates, Chili Band, serta Afgan Syah Reza. Acara dibuka dengan doa bersama oleh seorang ustad setempat. Setelah itu, tim manajemen Wanna B Production yang digawangi oleh Sytra Natasha dan Eci kemudian mengajak seluruh undangan anak yatim piatu dan rekan-rekan media hiburan dan infotainment berbuka bersama saat kumandang adzan Magrib menggema.

“Acara ini hanya sekadar ucapan syukur segenap manajemen Wanna B atas segala apa yang diraihnya selama ini,” ujar Sytra Natasha. Sytra mengatakan, sekecil apapun yang telah diraih oleh Wanna B bersama artis-artisnya baik itu Afgan, Baron Soulmates, atau pun Chili, merupakan berkah dari Allah SWT. “Ini memang momentum yang baik untuk berbagi dengan sesama, toh kita harus selalu ingat masih ada yang di bawah kita kan ?” kata Sytra.

Tentang Afgan, Baron Soulmates, dan Chili

APAPUN hasilnya, kerja keras haruslah disyukuri. Dan, apa yang disyukuri oleh Wanna B pada acara tersebut adalah segala proses pekerjaan mereka yang dinilai dan dirasakan cukup membawa hasil.

Sebutlah Afgan. Meskipun tergolong artis baru, saat ini boleh dibilang punya prestasi sejak diluncurkan oleh Wanna B pada Januari 2008 lalu. Album pertamanya, Confession No.1, sukses merebut hati pasar penikmat musik Indonesia .

Sebagai catatan, single perdana Afgan Terima Kasih Cinta meledak di pasaran hingga menembus Platinum. Dan kemudian, setelah beberapa bulan lalu melepaskan single keduanya, Sadis, Wanna B Production kembali menghadirkan Afgan dengan sebuah nomor single bernafaskan religi berjudul Padamu Kubersujud, yang sengaja sengaja dipersembahkan sebagai momentum menyambut bulan suci Ramadhan 1429 H ini.

Terakhir, dari ajang MTV Indonesia Awards 2008 pada awal bulan September kemarin, Afgan juga menorehkan prestasi dengan meraih dua penghargaan, yaitu Most Favorite Male dan Artis of the Year. “Bersyukur banget dong bisa dapat dua sekaligus, dan gue mempersembahkan ini untuk mama dan keluarga yang udah mendukung, serta produser dan manajemen Wanna B,” ujar Afgan, yang baru pulang menjalankan ibadah umrah ini. “Mungkin ini hadiah buat saya di bulan Ramadan, amin,” tambah Afgan.

Lain Afgan, lain pula Baron dan Chili. Sebagai dua band baru di industri musik Indonesia yang diluncurkan oleh Wanna B Production, keduanya mengaku tadi malam cukup bersyukur atas apa yang diraih sejak album mereka diluncurkan pada Agustus 2008 kemarin. “Sejauh ini gw merasa senang aja kerja bareng Wanna B, karena isinya orang-orang muda yang asyik dan enerjik untuk membuat kami selalu bersemangat kerja,” ujar Baron, sang punggawa Baron Soulmates.

Chili sendiri, selain punya kabar baru, kini mulai sibuk tawaran manggung promosi album perdananya, Langkah Besar. Kabar barunya? Pekan lalu, Wanna B baru saja menggarap single kedua untuk band ini dan menggelar syuting video clip mereka yang dibintangi oleh Tyas Mirasih dan Donny Alamsyah di Studio Alam TVRI Depok.

“Kami bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh manajemen Wanna B, wartawan dan para pencinta musik Indonesia yang telah mendukung kami sepenuhnya untuk terus kreatif dan pantang menyerah,” ujar Ithonk, personil Chili di sela-sela buka puasa. Ithonk mengatakan, sejak diluncurkannya album pada bulan lalu, kini nafasnya untuk berkreasi semakin panjang. “Latihan, manggung, latihan, manggung, seperti makan dan minum tiap hari,” celotehnya.

Di lagu ini, Chili yang terdiri Hery, Afan, Gilang, Ithonk, dan Sandy tetap mampu menghadirkan konsep easy listening lewat keinginan mereka untuk nge-rock dengan pilihan bermusik yang mellow rock. Tidak lain, nuansa musik rock yang mereka hasilkan berkat sentuhan efek gitar “rockestra” yang ditunjang permainan kibord yang soft namun lincah. Kematangan vokal dalam melantunkan tema cinta pada lagu ini pun rasanya semakin menguatkan kesan, bahwa easy listening is not as easy as they make music itself!

Menurut Sytra, video clip single kedua Chili Band ini bersiap ditayangkan setelah lebaran nanti. Sementara di radio, single yang bartajuk Maafkan ini pun sudah mulai banyak diputar dan dinikmati para penggemar Chili. “Kerja keras kami ketika meluncurkan Afgan dan band yang punya karakter dan kesulitan sendiri-sendiri dan kami sangat menikmati susah senangnya,” ujar Sytra. *** (M. Latief)

September 22, 2008

Mengukur Kinerja Presiden

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:32 am

Pemilu 2009 semakin dekat. Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan ini mulai terasa di hampir seluruh denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Seolah tak mau ketinggalan, stasiun televisi pun berlomba meraih posisi terdepan dalam menayangkan informasi serta kabar terkini tentang Pemilu 2009. Berbagai acara berita, debat maupun talkshow tentang Pemilu 2009 mulai bermunculan di televisi. Namun program-program tayangan ini umumnya memiliki pola yang hampir sama yakni memberi ruang kepada partai-partai untuk menyampaikan misi dan visinya atau dengan kata lain mengkampanyekan program dan janji mereka.


Lain halnya dengan Astro Awani. Saluran berita dan informasi yang kerap memperoleh penghargaan jurnalistik bergengsi ini meluncurkan program talkshow jelang Pemilu 2009 bertajuk Mengukur Kinerja Presiden (MKP). Namun, alih-alih menampilkan janji para politikus di masa mendatang , Astro Awani justru mengajak pemirsa kembali ke belakang menuju Pemilu 2004. Yang disasar adalah janji eksekutif, dalam hal ini pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta kabinet Indonesia Bersatu.


Sesuai namanya, acara berdurasi 60 menit ini akan menyoroti performa Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sejauh manakah janji yang mereka berikan saat kampanye dulu terealisasikan? Apa permasalahan yang dihadapi oleh kabinet Indonesia Bersatu? MKP menghadirkan suatu sudut pandang baru yang mungkin tidak akan Anda temui di program serupa di stasiun televisi lain.


“Melalui program ini kami ingin memberi gambaran pada pemirsa apa saja yang belum dan sudah dilakukan Presiden SBY yang telah memimpin negeri ini selama kurang lebih 4 tahun. Dahulu SBY - JK pernah mengumbar janji pada rakyat saat kampanye atau di masa-masa awal pemerintahan. Nah, sekarang kita lihat janji itu dilaksanakan atau tidak”, ujar Rizal Mustary, Editor Executive Astro Awani.


“Melalui MKP kami bermaksud memberikan sudut pandang yang lain terhadap Pemilu 2009. Bagaiman janji presiden terpilih kini diukur dan dikupas realisasinya. Sebuah kontrol sosial yang baik bagi pemerintahan. Program ini juga bisa dijadikan warning bagi presiden terpilih 2009, bahwa akan ada sebuah program yang akan mengukur kinerja mereka saat masa jabatan mereka akan selesai nanti”, terang Riza Primadi, editor in chief Astro Awani.


“Selain itu MKP merupakan sebuah tayangan yang idealis dan terbebas dari tuntutan pihak manapun karena kami tidak terjebak oleh tuntutan rating dan share layaknya TV swasta lainnya. Kami juga tidak dikejar target iklan pemilu ataupun blocking time dari partai yang kini mungkin sedang terjadi di TV swasta. MKP murni program yang didesain untuk kepentingan pemirsa untuk mendalami lebih jauh apa yang telah dilakukan presiden selama ini, sebagai pedoman atau bekal pemirsa untuk menjatuhkan pilihan di Pemilu 2009 nanti”, tambah Riza lagi.


Talkshow MKP berlangsung dengan pasing cepat, dinamis, dengan narasumber yang kompeten. MKP didesain menjadi sebuah talkshow serius dengan topik berat, namun tampil dinamis dan memikat dipandu oleh 2 host andalan Astro Awani Prima Genuita dan Cindy Agustina secara bergantian. Panggung MKP senantiasa menghadirkan dua kubu tetap. Kubu pertama diisi dua orang perwakilan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu. Perwakilan tetap di kubu ini adalah Dr. Andi Mallarangeng, juru bicara Kepresidenan yang dalam setiap episodenya didampingi menteri yang terkait dengan isu yang dibahas.


Kubu seberangnya diisi panelis pembahas dari kalangan akademisi atau pengamat dari lembaga studi. Mereka akan mengkritisi kebijakan pemerintah baik level policy making maupun tataran implementasinya. Panelis tetap adalah Dr. Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina. Dalam setiap episode ia akan didampingi oleh panelis tamu yang kompetensinya disesuaikan dengan topik yang dibahas.


Untuk memperkaya talkshow ini, dihadirkan footage dokumentasi SBY - JK dalam setiap kampanye resmi, pernyataan pada awal dan 100 hari pemerintahan, serta data-data ilmiah yang dihadirkan dalam bentuk grafis. Para penonton yang terdiri dari akademisi serta praktisi terkait dengan topik yang dibahas juga berhak memberikan pertanyaan atau pernyataan terhadap kedua belah pihak.


Mengukur Kinerja Presiden menjadi satu program talkshow unggulan dari Astro Awani yang akan hadir mulai 22 September 2008, pukul 22.00 WIB, setiap hari. Terbagi menjadi 13 episode yang dihadiri oleh 12 menteri kabinet Indonesia Bersatu dan wakil presiden Jusuf Kalla sebagai narasumbernya. Selain itu program ini juga akan ditayangkan di lebih dari 20 TV lokal yang tergabung dalam JPMC ( Jawa Pos Media Corporation) dan TV lokal yang tergabung dalam Asosiasi jaringan Televisi lokal Indonesia ( ATVLI). ***

September 19, 2008

MENYALAHKAN ORANG LAIN

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 3:55 am

Saya melihat seorang anak kecil sedang menangis karena kakinya tersandung batu, dan anak tersebut berlari kearah orang tuanya sambil berkata “mama aku jatuh tersandung batu …” dan orang tunya berkata ” Diam sayang batunya nakal nanti batunya mama marahi…” kenapa harus menyalahi batu…

Suatu ketika di lingkungan kantor “Kenapa kamu tak dapat mencapai target penjualan…”, Tanya seorang manager ke pada supervisornya “Iya saya mempunyai team yang kurang solid”, kenapa harus menyalahkan teamnya…

Ketika suatu saat saya mempunyai janji dengan kerabat untuk bertemu di satu tempat pada pukul 9.00, ternyata kerabat saya datang pada pukul 10.30, dan saya bertanya “kenapa telat….”, ” tadi supir taksinya jalannya pelan, dan jalanan macet” saudara saya berkata, kenapa menyalahkan supir taksi dan jalanan macet….

Begitu mudahnya kita melempar kesalahan kepada orang lain, disaat kita terdesak.. dari beberapa kasus yang saya tulis diatas. Dari kasus pertama saat kecil kita dibimbing untuk menyalahkan batu ketika kita tersandung dan jatuh… saat target penjualan tidak teracapai seorang supervisor dengan mudah melemparkan kesalahan kepada teamnya, kenapa tidak mengaku bahwa dia salah… karena mungkin salah strategy, atau malah dia tidak melakukan apa-apa hanya menyerahkan ke teamnya… dan saat kerabat saya datang terlambat dia menyalahkan supir taksi… apakah benar… kenapa kerabat saya tidak berjalan lebih awal atau memilih jalan alternative untuk tidak terlambat.

Menyalahkan orang lain sudah dikenal dengan sangat baik oleh umat manusia, dan kemasannya bisa nampak begitu indah sehingga pelakunya sendiri kadang tidak sadar telah melakukannya. Ketika dihadapkan pada sebuah masalah, maka solusi termudah yang bisa ditemukan biasanya adalah menimpakan semua tanggung jawab pada orang lain. Pada sebagian orang, kebiasaan ini sudah menjadi sebuah refleks.

Fenomena sosial ini sangat menyedihkan sedang terjadi pada masyarakat kita dimana masing-masing ingin mencari selamat, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. coba deh kita periksa diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain,kita tidak akan dihormati jika kita sentiasa bersikap selalu menyalahkan orang lain/menimpakan permasalah ke orang lain.

Mungkin kah, sikap melemparkan kesalahan tersebut berawal dari saat kita kecil di mana kita terbiasa menyalahkan dan melemparkan masalah kepada orang lain agar kita aman. Dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain tidak kah kita merasa salah dan tidak nyaman. Dan saat kita melemparkan kesalahan orang lain kita sebenarnya sedang membiasakan diri untuk berbohong kepada diri sendiri.

Dengan mencoba untuk melemparkan kesalahan kita kepada orang lain adalah suatu candu dan akan menghambat perkembangan jiwa kita… jika kita berhasil melemparkan suatu masalah kepada orang lain kita dan kita merasa aman dan berhasil, maka kita akan berusaha mengulang melemparkan setiap kesalahan kita kepada orang lain

Mengapa kita tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah salah kita dan kita bertanggung jawab atas resiko yang ada. Bagaimana perasaan anda jika orang lain melemparkan suatu masalah kepada kita…. Marah kesal dan kecewa bukan….

Jadi kenapa kita harus melempar kesalahan kepada orang lain.

Memang wajar jika manusia tidak ingin dipersalahkan. Tidak ada orang yang merasa nyaman mengakui kesalahan atau kekurangan dirinya. Akan tetapi, justru sikap inilah yang menjadi batas yang tegas antara manusia yang sukses (atau bakal sukses) dengan mereka yang sudah takdirnya menjadi buih di lautan luas.

Dengan menerima kesalahan, kita seharusnya senang karena kita mendapat pelajaran berharga dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan kita punn sangat marah jika kita terkena masalah dari lemparan orang lain. kita harus melatih jujur dan menumbuhkan jiwa sportif kepada diri kita sendiri. dengan mengakui kesalahan kita maka orang lain dan lingkungan akan sangat menghargai diri kita. Tidak percaya coba buktikan bersifat sportif, dan anda akan mendapat tanggapan yang baik… temukan jawabanya, dan jika saya salah anda dapat menghungi saya di smtcikarang.crew1988@gmail.com.

Jika Anda menghadapi masalah, merasa sedih, khawatir, marah, kecewa, atau kesal, maka cobalah berbincang-bincang dengan dirimu sendiri. Pertanyakanlah segala hal, dan bersikap jujurlah pada diri sendiri. Sebenarnya, masalah terbesar dalam hidup manusia bukanlah musuh yang kejam, melainkan ego pribadi. Karena ego, kita terbiasa menyalahkan orang lain dan larut dalam ratapan. Padahal, yang dibutuhkan adalah solusi, bukan melankoli.

Begitu indah jika kita tidak saling menyalahkan dan bersikap jujur dan sportif kepada orang lain, seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Dengan ini jika berkenan saya ingin mengajak sahabat-sahabatku untuk tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain, dan berjiwa sportif dan mengakui kesalahan kita jika kita salah, seperti seorang ksatria, dan wujud iman kita. serta berani mengakui kesalahan adalah sebuah langkah awal untuk menuju kesuksesan kita. dan dengan menyalahkan orang lain kita melakukan sebuah penarikan dalam bank emosi kita dengan orang lain.

“Berbahagialah orang yang dapat menyalahkan dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain”

” menjadi jujur seperti seorang ksatria yang sportif dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur (bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga”

” Walaupun menanam kejujuran terasa pahit, tetapi kejujuran akan menghasilkan buah yang manis. Jadi mari kita jujur, walau kejujuran itu pahit” *** (Horas Kasih Sirait)

September 14, 2008

Marcella Zalianty Awali Karir Sebagai Produser Film

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:40 am

Nama Marcella Zalianty sudah tercatat sebagai aktris papan atas tanah air. Sejak kemunculannya di film Bintang Jatuh (Rudi Soedjarwo), karirnya melesat dengan mulus. Cewek kelahiran 7 Maret ini lantas dikenal sebagai salah satu dari sedikit aktris yang punya pendirian kukuh ketika menerima tawaran berakting. “Saya selalu mengutamakan film dengan visi dan pesan moral serta edukatif. Saya juga sangat menghindari terlibat dalam sebuah project hanya karena ingin terlihat produktif. Harus jatuh hati dulu pada cerita dan peran yang ditawarkan, juga ada proses mempelajari hal baru , “ ujarnya. Ia pun selalu tampil total ketika berada di depan kamera. Hasilnya adalah Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI 2006.

Selama menjalani karir sebagai pemain film, Marcella diam – diam mengamati beragam aktivitas yang berkaitan dengan produksi film. Tanpa sungkan, icon brand sport dari MAP ini rajin bertanya kepada orang yang dianggapnya berpengalaman. Niat sebagai produser pun tertancap dihatinya. Tapi ia tak buru – buru mengejar mimpinya itu. Pemilik tinggi 172 cm ini mengaku pelan tapi pasti akan mewujudkan niatnya itu. “Saya pasti akan memproduksi film ketika menemukan sebuah cerita yang tepat dan bisa membuat saya jatuh cinta, “ katanya suatu ketika.

Dan mimpi itu sebentar lagi terwujud. Marcella akhirnya memutuskan mempersembahkan sebuah film berjudul LASTRI yang sekaligus merupakan proyek perdana dari Keana Production yang mendudukkannya sebagai President Director. “Lastri berkisah tentang ketegaran seorang perempuan, kekuatan cinta yang tak lekang oleh waktu, juga mempertanyakan nilai – nilai kemanusiaan yang selama ini kita yakini, “ tuturnya.

Ada sekelumit cerita tentang pertemuan Marcella dengan Erros Djarot. “Sebelumnya ketemu dengan Mas Erros untuk sebuah film yang tidak jadi diproduksi. Lantas saya ketemu dengan beliau di project teater ANTIGONE yang disutradarai Mas Slamet. Disini Mas Erros juga terlibat sebagai supervisi produksi. Lantas dari sinilah saya mulai berlatih di Teater Populer, “ jelas Marcella panjang lebar.

Persinggungannya dengan Teater Populer ditambah dengan diskusi mendalam dan panjang dengan Erros membuat keyakinan pada diri Marcella bahwa suatu saat ia akan bisa bekerjasama dengan maestro tersebut. Sampai akhirnya Erros menyodorkan buku SUARA PEREMPUAN KORBAN TRAGEDI 65 yang ditulis Ita F Nadia. “Disinilah awalnya saya dan Mas Erros menemukan kesamaan visi dan merasa bahwa project inilah yang selama ini kami tunggu – tunggu. Jadinya kami memantapkan hati untuk bekerjasama dan mudah – mudahan bisa menghasilkan sebuah karya yang tak hanya bermutu, namun juga menjadi persembahan bermanfaat bagi bangsa ini nantinya, “ ujarnya.

Kolaborasi Marcella dengan Erros diyakini akan menghasilkan sebuah karya yang baik. Terlebih kredibilitas Erros yang sudah teruji ditambah keseriusan Marcella menggarap project ini membuat LASTRI digadang – gadang akan menjadi salah satu film Indonesia yang patut ditunggu tahun depan. ***

Bella, Kau Membuat Banten Cemburu

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:34 am

www.bantenmuda.multiply.com

BELLA, KAU MEMBUAT BANTEN CEMBURU

Oleh: Firman Venayaksa dan Pramita Gayatri

Pada tahun 2006, saat World Book Day di Depdiknas, kami berjumpa dengan Izzati (8). Ia menulis novel yang diterbitkan Dar! Mizan. Dengan bahasanya yang polos, cerdas dan apa adanya, ia membeberkan proses kreatifnya. Sebelum masuk dalam dunia tulis menulis, rupanya ia anak yang keranjingan membaca. Sehabis diskusi, pikiran kami ke Banten. Mungkinkah ada anak seperti Izzati?

BELLA DAN PENULIS CILIK

Rupanya pertanyaan tersebut dibantah oleh Nabila Nurkhalisah Harris (Bella, 8 Thn), gadis kecil yang kini sekolah di di SD Peradaban kelas tiga. Pada awal Februari 2007, Bella meluncurkan novel yang diberi judul Beautiful Days, diterbitkan Dar! Mizan. Novel ini ia selesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Sebuah proses melelahkan untuk anak seusia Bella. Jelas, ini bukan isapan jempol. Di tengah kegalauan kita sebagai orang Banten yang dari sisi literasi sangat mengkhawatirkan, Bella telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Banten. Ia menjadi penyemangat, bahwa Banten bisa bersejajar dengan propinsi lain yang lebih dulu berbudaya literer.

Setelah membaca novel Bella, kami dibawa menuju imajinasi khas anak-anak. Novel ini menceritakan tentang sekumpulan anak-anak panti asuhan. Kendati kerap loncat-loncat, kami tetap asyik membacanya. Idiom yang dipergunakan dalam bahasanya pun membuat kami geli; polos dan tak punya beban. Dengan seting Banten, agaknya novel ini memiliki kekhasan tersendiri. Satu hal yang cukup membuat kami terperangah adalah empati yang digulirkan Bella sebagai penulis terhadap masyarakat kalangan bawah membuat kami sadar bahwa anak-anak, dengan apa adanya, memiliki kepekaan tak terbantahkan.

Jauh sebelum Bella, beberapa penulis anak mulai bermunculan. Setelah kesuksesan Izzati (8 tahun) dengan novel Kado Buat Ummi pada 2003, pada tahun 2004, Abdurrahman Faiz (9 tahun) meluncurkan buku puisi Untuk Bunda dan Dunia, dan langsung mendapatkan dua penghargaan tingkat nasional, yakni Anugrah Pena Forum Lingkar Pena 2004 dan Anugerah Buku Terpuji Adi Karya Ikapi tahun 2005. Ada juga gadis cilik bernama Qurota Aini yang meluncurkan buku di usia 7 tahun. Ia dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis termuda. Dan yang membuat orang geleng kepala adalah Faikar yang membuat buku berbahasa Inggris berjudul Dragon War.

KECERDASAN MAJEMUK

Konsep Kecerdasan Mejemuk yang digulirkan Howard Gardner (1983) membagi kecerdasan dalam 8 kelompok; matematik, linguistik, tubuh, musik, spasial, antar teman, diri sendiri, dan alam. Konsep kecerdasan ini memberikan sebuah legitimasi bahwa untuk menguasai suatu materi, pendidik perlu mengetahui “gerbang” kecerdasan anak yang paling potensial sehingga penyerapan materi ajar menjadi lebih mudah. Ironisnya sistem pengajaran yang diterapkan terkadang tidak menimbulkan motivasi intrinsik anak agar dapat menguasai materi lebih dalam. Dalam materi bahasa Indonesia, diperlukan cara mengajar yang tidak sekadar mengajarkan mengeja “ini ibu, ini budi, ini ibu budi”. Gong dan Tias memulai dengan baik sekali, yaitu dengan memperkenalkan buku di lingkungan rumah. Selain itu mereka membudayakan dongeng, bercerita, dan memfasilitasi anak-anak dengan memberikan buku bacaan anak-anak; dengan banyak gambar, ragam warna, dan sarat pengetahuan.

SIMPAN GOLOK, ASAH PENA

Menulis sebagai salah satu kegiatan otak tertinggi –karena melibatkan beberapa proses kognitif coding, decoding, dan encoding– tentu saja memerlukan suatu pembiasaan bagi para pelakunya. Seperti yang diungkapkan Pennebakaer, seorang Psikolog yang memusatkan perhatian pada kegiatan tulis-menulis dan efeknya, bahwa dengan menulis ‘ketel uap’ emosi akan terbuka dan ‘uap’ yang akan meledak dapat tersalurkan menuju udara bebas. Suatu analogi yang amat menarik, bukan?! Bayangkan saja jika menulis kita jadikan kegiatan rutin sehari-hari maka stress yang semula akan meledak dapat tersalurkan menjadi energi yang konstruktif. Oleh karena itu rasanya tepat jika idiom Toto St. Radik, “Simpan Golokmu Asah Penamu” lebih dikedepankan dalam menyelesaikan suatu kejadian. Artinya representasi pena sebagai simbol pemikiran yang konsturktif harus lebih diasah dan diutamakan dari pada representasi golok yang cenderung sebagai simbol represif dan destruktif.

Bella dan keluarganya adalah studi kasus yang patut dijadikan cermin bagi orang-orang Banten bahwa menulis dan membaca adalah gerbang menuju pencerdasan. Ya Bella sayang, kau membuat Banten cemburu. ***

September 5, 2008

Diari Roman

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:44 am

www.bantenmuda.multiply.com

Other men die; but I am not another; therefore I’ll not die

(Vladimir Nabokov, Pale Fire Canto Two, 213-214).

Diari Roman:

Di Papan Catur Kita Susun Dunia Baru

___________________________________________________

Enam Sajak Sulaiman Djaya

Dari Kata Ke Kata

Dari kata ke kata, dari nada ke nada, apa yang kutulis dalam diagram

senantiasa kembali lagi menjadi suku-kata. Hanya selantun jazz lama

yang tiba-tiba terdengar mengiba: Peluklah aku, sayang!

Yang mencintaimu dalam kesepian. Dan seekor cicak menyimaknya

dalam keheranan. Dan lembab yang terbakar lampu meresap pada kertas.

Setiap tetes tinta adalah hari-hari yang kujalani. Sebagai sebuah disiplin

yang mengalahkan matematika. Lalu apa yang ingin kubuktikan

selain sebuah kemegahan yang luput dari pengamatan. Seperti hari-hari

yang meresap pada cahaya lampu dan kertas. Dan kalau pun ada logika,

pastilah sebuah keterpaksaan yang tak terhindarkan.

Dan meski dalam duduk aku terus melangkah. Menyisir dan memasuki

ketiadaan. Dan mataku tak memandang apa-apa selain hidup

yang tak berbicara dalam kuasa remang dan kejenuhan.

Dari udara ke udara, dari ronga ke rongga, senyap pun pulas pada bayang

yang hilang. Dan apa yang ditemukan oleh tangan, akan kembali lenyap

ke haribaan angan dan impian.

Setiap keringat yang meresap adalah sedih dan keriangan tanpa kesimpulan.

Sama banyaknya dengan kematian yang dilupakan. Sebagai sebuah rumus

yang mengalahkan logika. Dan detik-detik menghitung sendiri

sebanyak tanda baca yang dihilangkan. Pada lembar-lembar catatan-harian

yang lebih samar ketimbang sejarah.

Dan meski pucuk-pucuk baru telah tumbuh, yang telah gugur tak mampu

melawan umurnya. Dan apa yang kutulis kembali menjadi ilusi.

Sebab aku tak pernah tahu apa yang kumau. Tak juga kata-kata

dapat mengurainya. Sebab aku tak pernah bisa menyulap bahasa

menjadi candu. Dan setiap sosok yang kugambar kembali buyar.

Dari sebuah kesenduan dan kedip lilin nan bergerak-gerak seperti tarian,

kueja peta pada sela-sela petang. Tempatku menduga-duga

sebebas yang kubisa. Dan sisanya biarlah melelah seperti lilin

yang terbakar dan mencair. Seperti sebenang sulaman yang tersisih

pada jejalin dunia. Tempatku mengembara di lembaran-lembarannya.

Dan apa yang ingin kutulis biarlah jari-jemari yang memutuskan.

Juga tak ada gunanya mencatat siang dan malam. Sebab musim-musim

yang bergulir bukan karena kepastian. Sebab keabadian adalah nama lain

ketiadaan. Dan sosokmu hanyalah bayang-bayang. Seperti cinta

adalah warna-warna yang tak pernah berkhianat pada siapa saja

yang mencintainya dengan gembira.

Dari kata ke kata, semuanya akan kembali ke awal mula. Sebagai sesuatu

yang tak pernah dituliskan. Sebagai sebuah keniscayaan yang luput dari ujaran.

Diari Roman

Bila redup September mulai menghinggap dahan

dan sisa keringat yang tertinggal di sela-sela sulaman saputangan

tak lagi hangat, aku pun tahu bahwa langit yang padam

akan merenggut keindahan yang kulihat.

Dan seketika aku pun segera membayangkan

November nan perak masa kanak. Dengan keindahan

dan kesenduannya yang riang itu pelan-pelan mulai jatuh

dan menitik detik-demi-detik pada mimpi seorang lelaki nan sepi.

Dan dengan ketabahan selayaknya kutulis kata-demi-kata

pada apa yang tersisa. Bahwa ada yang tak sia-sia,

bahwa ada yang percaya keabadian.

Meski tak selugu Juni yang kutinggalkan

di lembaran catatan harian yang mulai kusam.

Dan kuhitung daun-demi-daun pada angin nun melambung

di pucuk waktu. Dan pada suara patah-patah nan pelan bergetar

aku pun mencium semerbak ajal. Sebelum jam berdentang

pada rembang yang bimbang.

Dan seandainya setelah itu kuhirup cinta dari hembusan nafasmu

atau kuhitung rambutmu. Seakan kuhitung menit-menit hidupku

berlalu. Atau kuremas dengan hati-hati jemari tanganmu

dan mendengarkan bagaimana engkau mendesah dan berkeluh.

Seakan aku mendengarkan sebuah simfoni yang kekal.

Dan menghitung satu-satu bintang-bintang pada Aras nun jauh.

Yang menjelma kilau kunang-kunang di telaga matamu.

Dan aku di sini, sebagai seorang lelaki. Mencari arti

pada kata dan ilusi, pada apa yang tak kupahami.

Ketika hatiku mengembara ke segala entah. Dan menelusur

relung terjauh batas-batas mimpimu yang tak berjejak

pada sisa-sisa senja. Dan selebihnya hanya keraguan

dan kembimbangan dalam dada. Yang tak dapat dihitung

dan dijumlah pada kata dan bait-bait nada.

Jika Nyata

Jika nyata kata, yang kupungut sepanjang jalan ini,

nyatakah segala yang terbentang depan kaki.

Nyatakah puisi yang kutulis serupa igau, pada kilau.

Kadangkala aku tak sanggup beranjak pada awan.

Kutahu aku hidup dalam banyak tanda yang tak kukenal.

Kadangkala aku pun nyenyak

demi singgah sebentar pada kerjap yang tersisa.

Mungkin juga kutahu sesuatu yang tak mampu kutulis

seperti nasib. Dan pada udara rupa-rupa terus menjelma.

Dan yang bersayap melanglanginya.

Senyata senyap yang bergetar dalam sepi.

Pada kenyataan-kenyataan esok-hari. Sepanjang mataku menjauh

dari tubuh. Sepanjang impian-impian yang ada

nun entah di mana? Mungkin pada sebuah dunia yang masih

mencari kata. Mungkin pada tiada yang tak terjangkau mata.

Sepanjang pohon-pohon berjajar nan diam tertunduk.

Sepanjang raguku pada daun-daun yang terantuk.

Dan dingin yang menusuk tubuhku juga membius mataku

yang basah dan telungkup, pada hening nan terus meninggi.

Dan aku akan menulis dan bermimpi pada detik-detik yang hilang.

Pada gerimis nan sangsi, pada larik-larik nan melantuni

keremangan sepanjang angin. Dan gigil yang terus menjalar

seperti pohon rambat yang tumbuh dalam kegaiban.

Senyata rembang yang membentang.

Dan embun yang akan menitik pada kering lamunanku

yang letih, akan menimbang kenyataan-kenyataan

dan impian-impian esok-hari. Pada sekerdip bintang

dan bayang-bayang nan terus memanjang.

Lagu Hujan

Dan akhirnya hujan pertama membasahi mimpi-mimpiku

sepanjang sungai dan harum lumpur. Sejak udara berdebu dalam anganku

bertumpuk di usiaku yang bisu dan tertidur. Ketika dari segaib waktu

angin pun kencang berhembus ke tubuhku yang dungu dan termenung

pada hangus daun yang kucium.

Dan dalam goncang aku pun tahu ada yang jatuh dan terbangun.

Ketika hidup dan maut tiba-tiba bersekutu dalam gemuruh

yang melumpuh bisu renunganku. Kelabu pun membuncah dan luluh

dalam curah yang hancur. Dan burung-burung terceguk

karena cemas yang mengganas. Ketika galau cuaca

menghantam dan menghempas sayap-sayap serangga yang terombang.

Dan kudengar dalam riuh nan bimbang, bulu-bulu runtuh dari tubuh.

Dan mimpi-mimpi jatuh dari lelap usiaku. Meski pada lenyap kabut

tak ada sahut bersambut. Pada gelombang yang menebal seperti cadar.

Dan para unggas hilang ditelan kegelapan nan terus membentang.

Hanya rabun mataku yang mabuk terbius bayang-bayang.

Dan setelah hujan usai entah kenapa kata-kata memuaidan tak berdaya.

Sebisu arus air dan lumut pada batu. Meski cuaca seruncing paruh burung

mencucuk mataku.

Dan dari kejauhan kulihat seekor kumbang seakan bimbang

menimbang jalan kepulangan. Pada samar melagu sedendang merdu.

Dan sekuncup kelopak terbuka dalam lamunanku.

Seperti sekecup roman bunga pelataran nan berkembang pada bayang.

Dengan semerbak wanginya yang memabukkan.

Dan sang belalang seakan kepayang. Mengingatkanku pada seorang nabi

yang tiba-tiba birahi kerena mungil sepasang puting pada sebening air.

Dan hari terus berganti tanpa batas akhir. Seperti waktu yang meresap

pada tubuh tanpa kita kita tahu. Meski tak ada lagi jejak keperakan

pada irama angin yang kupandang. Pada gerak-gerak rapuh yang bersambutan.

Hanya awan yang terbenam sepanjang liuk sungai dan angan-angan.

Di Papan Catur

Dan kita akan bermain catur sambil menunggu ketukan di pintu (T.S.Eliot).

Sejenak akupun ragu, apakah kau mengerti permainan itu (Eugenio Montale).

Arms, and the man I sing, who forc’d by fate (Publius Virgilius Maro).

Lalu kau dan aku menyusun dunia-dunia baru yang kita mau.

Ketika masa depan masih sebatas impian yang ragu-ragu.

Delapan kotak bagi langkahmu-langkahku punya jebakan yang sama:

Entah ke surga ataukah ke neraka, entah malang ataukah bahagia.

Dengan 16 kelokan yang menyesatkan dan 32 alasan

yang tak punya jawaban. Seperti perpustakaan Borges yang membingungkan.

Dan dulu, di sebuah negeri nun jauh

di abad-abad silam, di sebuah kota yang sepi dan tinggal puing

seorang lelaki berlari-lari dan berteriak: “Binasalah kau Azazil!

Binasalah kau Azazil! Sekalian seluruh penghuni langit!”

Tapi Azazil tertawa girang dan berkata: Kau lihatkah sendiri, Tuhan?

Ayub pun mengutuk-Mu dalam kekalahan.

Tapi mari kita teruskan permainan! Setelah Ayub seperti Oedipus

yang dikutuk. Sambil menyusun dunia-dunia baru yang kita mau.

Sebelum kau dan aku seperti Eneas dan Dido yang melarikan diri

demi menyelamatkan kemalangan yang tak diinginkannya.

Dan dalam persembunyian itu, mereka pun resah dirundung takut.

Ketika para bidak mulai jatuh dan tersungkur oleh tombak dan peluru.

Ketika asap bercampur latu dan amis debu terus bergulung di kota itu.

Ayo kita bermain sambil menunggu ketukan di pintu.

Meski kita tak pernah tahu akhir langkahmu-langkahku

di persimpangan-persimpangan takdir dan waktu.

Ketika masa depan masih sebatas impian yang ragu-ragu.

Ayo kita mainkan lagi kisah pengkhianatan Dawud Sang Raja

atas Uriah Sang Panglima, demi Batsheba Sang Ratu.

Atau kita mainkan kembali kisah Raja Sulaiman membius Seba

dengan azimat kembang Mandragora di ranjang asmara.

Ketika ia bosan pada senja dan dinding pualam istana.

Dan setelahnya kita susun dunia-dunia baru.

Ketika masa depan masih sebatas impian yang ragu-ragu.

Dan mari kita teruskan kembali permainan, sambil menunggu

ketukan di pintu. Meski aku ragu apa kau sendiri tahu nasibmu.

Sebab oleh waktu, renungan pun rapuh dan runtuh.

Sebab oleh sangsi, tubuh pun lumpuh dan jatuh.

Seperti Samson yang menyerahkan surainya dan terbujuk

rayuan Delilah, di altar persembahan para dewa yang rakus darah.

Atau kau dan aku sama-sama membayangkan seumpama Sang Ksatria

atau hanya Sang Bidak yang menyerbu benteng Troya demi Helena.

Seperti Paris yang tiba-tiba kecut menghadapi maut.

Bimbang atas pilihan yang sama-sama membingungkan.

Atau kau Dayang Sumbi dan aku Sangkuriang, kau Jocasta

dan aku Oedipus yang terkutuk.

Entah Raja atau pun Jelata, marilah kita andaikan kau dan aku

menelusuri lorong-lorong gelap Dedalus si Perancang itu.

Dan setelahnya kita susun dunia-dunia baru,

meski masa depan masih sebatas impian yang ragu-ragu.

Kau sebagai Ariadne dan aku sebagai Theseus, di Papan Catur.

Dan kita akan selalu bermain catur sambil menunggu ketukan di pintu.

Tapi sekarang akan kita masuki kotak Pandora yang penuh tanya.

Karena itu teruskan saja langkah, sebab di sini sejarah digigit para nyamuk.

Di sini, anyir darah dan nyawa manusia hanyalah angka-angka.

Karena itu teruskan saja langkah sebelum harga diri kita diperkosa.

Sebelum mimpi-mimpi kita kembali rapuh seperti sayap-sayap Ikarus.

Karena itu teruskan saja langkah, sebab di sini maut pun ragu.

Sebelum tiba giliranku memasuki panggung seperti Hamlet yang dungu.

Dan layar ditutup tanpa adegan yang penuh dengus dan nafsu.

Dan kita kembali ke lorong-lorong gelap Sang Maut.

Dan kita merangkak seperti seorang anak yang kehilangan Sang Ibu.

Dan kita bercinta setelah membunuh Sang Bapak yang cemburu.

Dan kita bercinta tanpa dosa dan kutuk pada tubuh.

Dan dunia baru yang kita susun, mungkin akan kembali runtuh

oleh desing peluru. Tapi kita akan selalu bermain catur, sayangku!

Setelah Puisi

Dan biarlah kini, kubaringkan sajakku pada sedaun waktu.

Seakan aku merebah di pangkuanmu. Dan menyandar ragu

pada gerimis Agustus di hatimu. Dan setelahnya tertidur senyenyak maut

di haribaan waktu. Menanti ajalmu-ajalku melepas umur dan tubuh.

Selepas kata tak lagi punya sisa pada diam cakrawala.

Ketika angka-angka tak sanggup menghitung dengus atau hangus.

Ketika pada kelender yang bisu hanya ada sesuatu yang tak ada. Seperti usia

pada kata. Dan kita pun jadi tahu cuma tubuh milik kita satu-satunya.

Maka rebahlah segala yang terluka pada alun Biola.

Maka nyanyikanlah baris Rubayyat pada bait-bait nada.

Setelah keraguan dan kebimbangan nan terus mengalun

pada denting-denting basah nada-nada gubahan.

(2005-2008).

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Salah seorang pendiri Surosowan Forum ini sehari-hari menjalani hidupnya sebagai petani. Sambil sesekali menjadi pembicara dan membacakan puisi-puisinya di kampus-kampus, komunitas-komunitas penggiat seni, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan di Banten. Selain itu ia juga menjadi narasumber mingguan untuk talk-show pemikiran dan kebudayaan di Radio Dimensi FM 94.9.