Bella, Kau Membuat Banten Cemburu
www.bantenmuda.multiply.com
BELLA, KAU MEMBUAT BANTEN CEMBURU
Oleh: Firman Venayaksa dan Pramita Gayatri
Pada tahun 2006, saat World Book Day di Depdiknas, kami berjumpa dengan Izzati (8). Ia menulis novel yang diterbitkan Dar! Mizan. Dengan bahasanya yang polos, cerdas dan apa adanya, ia membeberkan proses kreatifnya. Sebelum masuk dalam dunia tulis menulis, rupanya ia anak yang keranjingan membaca. Sehabis diskusi, pikiran kami ke Banten. Mungkinkah ada anak seperti Izzati?
BELLA DAN PENULIS CILIK
Rupanya pertanyaan tersebut dibantah oleh Nabila Nurkhalisah Harris (Bella, 8 Thn), gadis kecil yang kini sekolah di di SD Peradaban kelas tiga. Pada awal Februari 2007, Bella meluncurkan novel yang diberi judul Beautiful Days, diterbitkan Dar! Mizan. Novel ini ia selesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Sebuah proses melelahkan untuk anak seusia Bella. Jelas, ini bukan isapan jempol. Di tengah kegalauan kita sebagai orang Banten yang dari sisi literasi sangat mengkhawatirkan, Bella telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Banten. Ia menjadi penyemangat, bahwa Banten bisa bersejajar dengan propinsi lain yang lebih dulu berbudaya literer.
Setelah membaca novel Bella, kami dibawa menuju imajinasi khas anak-anak. Novel ini menceritakan tentang sekumpulan anak-anak panti asuhan. Kendati kerap loncat-loncat, kami tetap asyik membacanya. Idiom yang dipergunakan dalam bahasanya pun membuat kami geli; polos dan tak punya beban. Dengan seting Banten, agaknya novel ini memiliki kekhasan tersendiri. Satu hal yang cukup membuat kami terperangah adalah empati yang digulirkan Bella sebagai penulis terhadap masyarakat kalangan bawah membuat kami sadar bahwa anak-anak, dengan apa adanya, memiliki kepekaan tak terbantahkan.
Jauh sebelum Bella, beberapa penulis anak mulai bermunculan. Setelah kesuksesan Izzati (8 tahun) dengan novel Kado Buat Ummi pada 2003, pada tahun 2004, Abdurrahman Faiz (9 tahun) meluncurkan buku puisi Untuk Bunda dan Dunia, dan langsung mendapatkan dua penghargaan tingkat nasional, yakni Anugrah Pena Forum Lingkar Pena 2004 dan Anugerah Buku Terpuji Adi Karya Ikapi tahun 2005. Ada juga gadis cilik bernama Qurota Aini yang meluncurkan buku di usia 7 tahun. Ia dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis termuda. Dan yang membuat orang geleng kepala adalah Faikar yang membuat buku berbahasa Inggris berjudul Dragon War.
KECERDASAN MAJEMUK
Konsep Kecerdasan Mejemuk yang digulirkan Howard Gardner (1983) membagi kecerdasan dalam 8 kelompok; matematik, linguistik, tubuh, musik, spasial, antar teman, diri sendiri, dan alam. Konsep kecerdasan ini memberikan sebuah legitimasi bahwa untuk menguasai suatu materi, pendidik perlu mengetahui “gerbang” kecerdasan anak yang paling potensial sehingga penyerapan materi ajar menjadi lebih mudah. Ironisnya sistem pengajaran yang diterapkan terkadang tidak menimbulkan motivasi intrinsik anak agar dapat menguasai materi lebih dalam. Dalam materi bahasa Indonesia, diperlukan cara mengajar yang tidak sekadar mengajarkan mengeja “ini ibu, ini budi, ini ibu budi”. Gong dan Tias memulai dengan baik sekali, yaitu dengan memperkenalkan buku di lingkungan rumah. Selain itu mereka membudayakan dongeng, bercerita, dan memfasilitasi anak-anak dengan memberikan buku bacaan anak-anak; dengan banyak gambar, ragam warna, dan sarat pengetahuan.
SIMPAN GOLOK, ASAH PENA
Menulis sebagai salah satu kegiatan otak tertinggi –karena melibatkan beberapa proses kognitif coding, decoding, dan encoding– tentu saja memerlukan suatu pembiasaan bagi para pelakunya. Seperti yang diungkapkan Pennebakaer, seorang Psikolog yang memusatkan perhatian pada kegiatan tulis-menulis dan efeknya, bahwa dengan menulis ‘ketel uap’ emosi akan terbuka dan ‘uap’ yang akan meledak dapat tersalurkan menuju udara bebas. Suatu analogi yang amat menarik, bukan?! Bayangkan saja jika menulis kita jadikan kegiatan rutin sehari-hari maka stress yang semula akan meledak dapat tersalurkan menjadi energi yang konstruktif. Oleh karena itu rasanya tepat jika idiom Toto St. Radik, “Simpan Golokmu Asah Penamu” lebih dikedepankan dalam menyelesaikan suatu kejadian. Artinya representasi pena sebagai simbol pemikiran yang konsturktif harus lebih diasah dan diutamakan dari pada representasi golok yang cenderung sebagai simbol represif dan destruktif.
Bella dan keluarganya adalah studi kasus yang patut dijadikan cermin bagi orang-orang Banten bahwa menulis dan membaca adalah gerbang menuju pencerdasan. Ya Bella sayang, kau membuat Banten cemburu. ***