bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

October 30, 2008

Cerpen : Sekadar Ingatan-ingatan

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 7:47 am

Sekadar Ingatan-ingatan

Cerpen: Niduparas Erlang

Selama tiga tahun berjalan, mencarinya, tak banyak yang bisa kulakukan. Selain terus menerus mempertajam ingatan, dan menuliskan sesuatu tentangnya sambil menceritakan pula kondisiku saat ini. Kutulis secara serampangan di secarik kertas. Dan aku menyebutnya sebagai surat. Namun, walaupun aku menyebutnya surat, aku tak pernah bermaksud untuk mengirimkannya ke alamatnya. Sebab aku pun tak tahu keberadaannya. Ini hanyalah sebuah upaya untuk merekam. Mengabadikannya lewat tulisan. Dan telah begitu banyak coretan-coretan itu. Dan kubiarkan saja menumpuk di dalam tas hitamku yang telah lusuh. Jika kau, kawan, bersedia mendengarkannya, baiklah akan kubacakan beberapa coretanku tentangnya:

Sayap rinduku membentang semakin lebar. Tapi sepertinya, masih begitu luas ruang yang menjaraki kebersamaan kita. Masih ada sekat yang sengaja kau pertahankan dalam pekat. Ah, Non, ingin kupugar pagar ragumu dengan segenap kesungguhanku. Walau bulu-bulu sayapku terkadang dirontokkan cuaca, dicukur ocehan-ocehan beberapa kawan yang merasa mengerti dan banyak mengalami cinta. Namun ketika hujan mendera, menggenangi ceruk hati, membikin rumah-rumah udara pendek usia, selalu aku kembali ke lampau waktu. Mengingat kenangan denganmu. Ya, rindangnya hujan selalu mengingatkanku pada rindang rambutmu yang nampak basah yang pernah kudapati di sebuah pagi yang panas. Dan bukankah pertemuan kita kerap ditandai dengan hujan? Kemudian bulu-bulu sayapku kembali bertumbuhan. Lebih rimbun dan lebih melebar lagi. Aku ingin merengkuhmu, Nona. Mesti ada dekap untuk menyelamatkan kewarasanku. Karena bulu sayapku yang rontok, tak kujadikan penanda jalan untuk mengantarku pulang. Dan aku telah melupakan muasal. Telah pula kutanggalkan pakaianku. Agar aku merdeka dari segala dalam perjalanan lamat ini. Perjalanan yang mempertemukanku dengan berbagai hal. Begitu banyak kutemui peristiwa, fragmen, yang sebelumnya tak terpikirkan sama sekali. Peristiwa-peristiwa yang terkadang membuatku harus menceburkan diri ke dalam kubangan kerbau. Dapatkah kau rasakan baunya? Terkadang juga aku mesti berebut tulang dengan anjing-anjing gila. Atau seringnya aku tersesat dalam labirin hari. Tapi, tak semua layak dan menarik untuk kuceritakan padamu. Sebab hujan dan angin yang kali ini menghampiriku, tak sedikitpun memberi kabar tentang keberadaanmu, atau paling tidak menyampaikan selarik berita tentang kondisimu. Apa kau telah sembuh dari sakit yang menyebabkanmu harus meninggalkan kota tempat kali pertama kita bersua dan bercengkrama? Yang membuatmu meninggalkanku? Akan tetapi, aku berharap, disaat angin dingin dan hujan menerpa senja raya seperti saat ini, kau sedang menikmati matahari yang seperti buah jeruk di ufuk barat. Namun sejenak kemudian, hujan tiba-tiba saja mereda. Hanya daun yang terceraikan ranting jatuh menimpah kegelisahanku. Aku pikir, barangkali inilah cenderamata darimu. Bahwa kau juga sama merindunya kepadaku. Walau aku tahu kau masih ragu. Dan aku pun tahu bahwa aku masih takut. Atau kita sama-sama pengecut. Aih, ternyata jujur telah melebur dalam warna-warna kabur. Tak seperti warna lengkung pelangi yang kendak kutiti itu. Yang barangkali di ujung sana tempatmu kini. Berluluran cahaya sembari mandi dan mengusir debu-debu yang melekat di tubuhmu. Dan aku ingin menemuimu setelah kau usai. Tubuhmu segar. Bolehkah aku memintanya secangkir saja? Agar kerongkonganku sedikit basah. Agar tulang lidahku tak kelu saat kukatakan: aku mencintaimu, mengagumi seluruhmu. Tapi simpul penat yang membebat kaki ini belum selesai kurelai. Istirah beberapa jenak ternyata tak mengembalikan energi yang tercecer seharian. Dan sedari tadi aku masih tergeletak di bawah pohon ini. Merenungi senja. Menikmati gemercik dan jeram-jeram liar dari sebatang sungai berair bening. Yang kemudian berkelebat keinginan untuk menghanyutkan diri di arusnya yang tak begitu deras. Manut mengikuti alurnya. Adakah ini akan bermuara di matamu? Ah, Non, matamu membuatku iri. Sekaligus membuatku takut jika terlalu lama berkaca pada beningnya. Tetapi, aku pun enggan berpaling jika sudah menatapnya. Aku memilih terhisap ke dalam pusaran arus matamu. Sebab bentuknya penuh dengan mosaik atau ornamen memesona, menyimpan misteri asing yang nampak akrab. Sorotnya mengalirkan denyutan yang meluncur kencang di dalam sarafku. Dan aku pun tenggelam. Berputar-putar seperti gasing yang dibanting tangan-tangan perkasa, dan menimbulkan suara desing yang sengau.

Seperti itulah surat yang kutulis di tahun pertama. Ditulis di tepi sungai, sebelum masuk ke sebuah perkampungan yang penduduknya ramah-ramah. Entahlah bagaimana aku bisa sampai ke kampung itu. Karena waktu itu, aku hanya berjalan mengikuti kehendak hati. Dan membiarkan saja kakiku melangkah semaunya. Hingga tengah malam, aku merasa lelah dan membaringkan tubuhku begitu saja di depan rumah panggung seorang warga. Esoknya aku terbagunkan oleh gonggongan anjing yang menggigiti sepatuku. Lalu segerombolan bocah-bocah yang hendak berangkat sekolah, terkesima menontoniku yang berebut sepatu dengan seekor anjing. Mereka tertawa-tawa nyaring. Dan setelah aku berhasil mengusir anjing itu, mereka pergi sembari terus tertawa-tawa. Kulihat ada seorang anak lelaki yang memiringkan telunjuknya di keningnya. Dan disambut anggukan kepala dari kawan-kawannya yang lain.

Tak lama setelah itu, si empunya rumah, seorang lelaki yang sudah lumayan tua keluar dari dalam rumah ini dan mendekatiku. Kukira, ia akan banyak menanyaiku perihal mengapa aku bisa tidur di rumahnya, atau semacamnya. Tetapi tak. Ia hanya melemparkan senyum sesaat. Lalu berkata: “Ikut saya.” Aku bingung, tak tahu mesti menjawab apa. Dan nampaknya pak tua itu dapat membaca kebingunganku dari air mukaku. “Tidak usah takut. Ayo,” ajaknya. Dan ia masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku semakin bimbang. Apa gerangan yang akan dia lakukan? Dan mengapa ia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. “Mari Nak, sini. Sarapan sama-sama.” Suara yang kudengar kemudian berbeda dari suara lelaki tadi, dan sepertinya suara perempuan. Ah, barangkali istrinya. Namun, mendengar kata sarapan, makhluk-makhluk liar di dalam perutku meronta. Mencabik-cabik lambungku. Dan tiba-tiba saja rasa lapar begitu sangat terasa menyiksa. Dan aku yang memang sudah dari kemarin tak makan, mendapat tawaran yang bagus, amat sayang untuk dilewatkan. Maka, kulepas sepasang sepatu yang solnya sudah menipis itu, dan dengan sedikit malu, agak canggung, aku mengendap masuk ke dalam rumah panggung itu.

Di dalam ternyata mereka telah menggelar makanan di atas tikar pandan. Dan hanya dua orang yang duduk menghadap makanan. Satu lelaki tua yang tadi mengajakku masuk, dan satunya lagi seorang perempuan yang sangat mungkin yang tadi suaranya terdengar mengajakku sarapan. Lalu dipersilakannya aku duduk. Kupandangi wajah mereka satu-satu. Dan mereka hanya tersenyum ramah. Apalagi perempuan tua itu. Lekuk dan kerut di wajahnya mengingatkanku pada nenek. Aih, nenek, maafkan aku yang tak bisa merawatmu—tapi maaf, aku tak hendak menceritakan nenekku.

Kemudian pak tua itu memimpin doa, dan yang perempuan mengamininya. Aku ikut-ikutan. Walau tak tahu doa apa yang mereka baca. Sebab, jika aku mau makan, makan saja. Tak pernah berdoa dulu.

“Mari, silakan. Makanan kami seadanya. Maklum di kampung,” kata perempuan itu sembari memberikan piring padaku.

Akh, apa-apaan ini. Mengapa mereka begitu menghargaiku. Seolah aku adalah tamu yang sengaja mereka undang. Dan perempuan itu bilang, makanan kami seadanya, padahal aku bisa dengan jelas melihat bahwa menu sarapan mereka sangat istimewa. Betapa tidak. Selain nasi putih yang masih mengepul di dalam bakul. Lauk yang mereka sajikan begitu beraneka; tempe goreng, tahu goreng, ikan asin panggang, tumis kangkung, sayur toge beserta irisan tahu, daun singkong yang direbus, mentimun, sambal, bahkan kerupuk. Jarang-jarang aku bisa temukan sarapan seperti ini. Biasanya sarapanku cuma seiris roti, dan segelas kopi, dan sebatang rokok. Dan itu harus bisa tahan sampai sore hari. Namun kali ini aku disuguhkan makanan yang begitu melimpah. Jelas tak akan aku sia-siakan. Rasa malu serta canggung yang tadi masih memuncak, tiba-tiba saja lenyap. Menguap entah ke mana. Lesap ke dasar entah.

Kusendok nasi yang masih hangat itu ke atas piringku sampai menggunung. Kulirik lagi wajah-wajah mereka. Dan lagi-lagi hanya senyum yang kudapati. Dan aku menafsirkannya sebagai ungkapan mempersilakan untuk mengambil sebanyak-banyaknya. Dua iris tempe, dua iris tahu, sepotong ikan asin, tumis kangkung, sayur toge, mentimun, daun singkong, sambal, dan kerupuk. Tumplek semua di atas piringku. Dan tanpa basa-basi, aku melahap makananku dengan rakusnya. Dalam hitungan beberapa menit saja, semuanya ludes, dan berpindah ke dalam perutku. Hingga aku benar-benar merasa kenyang, puas, dan bersendawa.

Tetapi perempuan ini masih menawariku untuk menambah order makanan. Dan aku menolak, sebab perutku sudah tak lagi sanggup menampung. Kemudian lelaki itu menawariku rokok. Jarum coklat. Tanpa malu-malu, kulolos sebatang dari bungkusnya. Namun, ketika ingin kupinta pemantik api dari tangannya, ia malah menyalakannya terlebih dulu dan menjulurkannya pada rokokku. “Terima kasih,” ucapku dibarengi embusan asap rokok.

Sementara istrinya membereskan piring dan semua sisa sarapan, aku dan lelaki itu saling melempar senyum sembari menikmati rokok masing-masing. Terkadang asap yang kukeluarkan dari mulutku membentuk lingkaran-lingkaran. Selang beberapa jenak, istrinya kembali sambil membawa dua gelas kopi hitam pekat dan menaruhnya di antara aku dan lelaki itu yang duduk tak tepat berhadapan. Dan mulai lagi pertanyaan-pertanyaan berseliweran di dalam kepalaku. Semakin lama, perasaanku semakin tak keruan. Serasa ada sesuatu yang janggal tengah terjadi. Maka, pelan-pelan kukumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan semua pertanyaan yang berkelindan di otakku dan menyoal perlakuan mereka yang seolah menyambut kedatanganku.

Dan dari berondongan pertanyaanku, akhirnya aku beroleh sebuah pengakuan dari lelaki itu. Bahwa sepuluh tahun yang lalu, anak perempuannya satu-satunya, diperkosa sekelompok orang tak dikenal. Lalu anak perempuannya kehilangan kewarasaannya. Ia lupa menyimpan alamat akal sehatnya. Sehingga ia tersesat di entah mana. Dan orang-orang kampung menyebutnya gila.

“Bapak sudah mencoba mengobatinya dengan berbagai cara, tapi Sumyati, Sumyati tidak sembuh-sembuh.”

Di ambang pintu menuju dapur, kulihat istrinya tertunduk dan bersedih. Lalu ia menceritakan bahwa, seorang dukun yang pernah ditemuinya untuk mengobati anaknya itu, memberikan semacam wewejang. Agar ia dan istrinya mau bersabar dan memberi makan kepada sembilan puluh tujuh orang yang secara tak sengaja mampir ke rumahnya. Dan menurut pengakuannya, aku adalah orang yang kedelapan puluh tiga selama sepuluh tahun ini.

“Apakah saya boleh melihat anak bapak?”

Ia dan istrinya saling menatap. Kemudian hening mengambang. Hanya derit pilu amben yang terdengar ketika aku memperbaiki posisi dudukku. “Boleh, pak,” pintaku lagi. Kulihat istrinya mengangguk pelan. Dan lelaki ini pun mengiyakannya. Lantas, diajaknya aku ke belakang rumahnya, ke tempat Sumyati dikurung.

Dan betapa tersentaknya aku ketika melihat anaknya terkerangkeng di dalam sebuah kandang. Ya, sekotak ruangan yang lebih mirip kandang kambing ketimbang tempat manusia. Dan siapa yang akan mengira kalau di dalamnya ternyata ada seorang perempuan yang dipasung karena dianggap gila.

“Bapak terpaksa memasungnya. Karena anak-anak kecil di sini, kerap melemparinya dengan batu dan mengolok-oloknya. Padahal, Sumyati tidak pernah mengamuk atau mengacak-acak apa pun.”

Sementara itu, Sumyati seperti tak menyadari kehadiran kami. Ia seakan asyik terpekur tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya sepenuhnya tertutupi rambut yang menjuntai ke depan. Kakinya berselonjor—atau terpaksa berselonjor—karena pergelangan kakinya diapit dua balok besar. Dan entah apa yang tiba-tiba merasuki tubuhku. Sebab aku begitu penasaran dan ingin melihat wajahnya. Maka pelan-pelan kudekati ia. Ayahnya memegang lenganku sambil mengisyaratkan agar aku jangan mendekati anaknya. Namun kubilang, tak akan apa-apa. “Saya hanya ingin menyapa anak bapak.”

Perlahan, kusibakkan rambutnya yang agak lengket berminyak dan sedikit menggimbal. Ah, perempuan malang. Dan Sumyati perlahan pula mengangkat wajahnya. Seberkas cahaya yang masuk lewat jendela, menyentuh kulit wajahnya yang pucat. Dan aku kembali tersentak, terkesiap, ada sesuatu meledak di dalam diriku. Tak mungkin! Bukan, bukan, dia…, aku tergagap, megap-megap. Kutilik lebih jeli lagi lekuk-lekuk wajahnya. Dan aku semakin tak percaya dengan apa yang kulihat. Mengapa wajahnya begitu mirip dengan seorang Nona yang aku cari selama ini. Ya, nyaris tak ada yang berbeda. Hanya saja, mata Sumyati kosong melompong. Tak menyiratkan tanda-tanda kehidupan. Bahkan ketika mata kami bersirobok hanya kekosongan yang kudapati. Akan tetapi, ada sesuatu yang sungguh tak dapat kucerna. Sesuatu yang rumit, yang berkitar-kitar di antara kami.

Sumyati tersenyum. Sedang aku terempas, retak. Diriku porak-poranda. Lebih dahsyat ketimbang aku mereguk senyum yang tersungging dari bibir Nona. Kini, aku tak hanya mabuk, melainkan juga hancur. Remuk-redam.

***

Dan aku kembali menulis surat:

Nona, kutemukan dirimu yang bukan engkau di dalam diri seorang, di dalam kondisi yang mengenaskan. Siapakah Sumyati? Siapakah engkau? Adakah kalian saling mengenal? Nona, sebenarnya aku yang telah benar-benar gila. Sebab telah kusingkirkan sekat pembatas gila dan waras. Kulupakan semuanya. Kubiarkan engkau membawa semua akal sehatku. Dan kini aku sungguh sekarat, sakitku bukan hanya psikis, melainkan juga fisik. Aku tersiksa, memang. Tetapi…, ah, biarlah. Engkau tak perlu merasa terbebani deritaku. Engkau hanya perlu tersenyum. Tersenyumlah!

***

Kutinggalkan kampung Sumyati dengan perasaan nyeri yang aneh. Aku mulai merasa asing pada diriku sendiri. Benarkah wajah Sumyati mirip dengan Nona? Atau itu hanya karena aku tak ingin melepaskan ingatanku tentangnya? Atau…, akh, serta merta saraf-saraf di kepalaku berdenyar. Sakit. Hingga tanganku terpaksa mencengkeram rambut. Menahan siksa. Tapi semakin lama aku menahan rasa sakit, seekor makhluk buas yang tengah merajam isi kepalaku semakin ganas mencabik. Tubuhku ingin berontak namun tak mampu. Aku hanya bisa meronta-ronta. Lalu terjerembab. Dan menggeliat-geliat seperti belut yang kepalanya dipukul benda tumpul.

Aku meraung. Lalu terkapar….

***

Lalu apa yang terjadi setelah itu?” barangkali kau, kawan, akan bertanya begitu.

Tak banyak lagi yang bisa kuingat. “Ia sakit, lalu pulang ke kampungnya.” Demikianlah kata seorang perempuan yang menggantikan posisinya sebagai kasir di wartel itu. Sementara aku yang semakin takut menerima kenyataan sebab mulai berpikir; bagaimana jika ia…? Hanya mampu berceloteh banyak menanyakan apa saja yang mungkin kuperlukan pada perempuan itu. Hanya saja, perempuan itu tak tahu banyak. Bahkan, ia tak tahu di mana alamat si Nona. Ia hanya menyebutkan sebuah nama kota kecamatan; Legok.

Ya, Legok. Sebuah kota kecamatan yang baru kali pertama kudengar. Agak asing. Namun, keinginan yang kuat memompa darah sampai ubun-ubun. Muncrat sampai ke kota senja, kota yang nyaman untuk melepaskan ruh. Dan ternyata, kota si Nona tak ada dalam peta, juga tak bermukim dalam malam yang kerap melemparkanku pada kegelisahan dan simpulan yang bukan-bukan.

Demikianlah, ingatan-ingatan dan kemungkinan-kemungkinan yang pernah tercatat dalam sejarah muram perjalanan. Tak semuanya bisa kau percaya. Dan memang kau perlu percaya, sebab aku pun sudah tak lagi bisa membedakan antara yang pernah kualami dengan yang kurekayasa. Namun semua itu terdapat pada bagian-bagian tubuhku. Hilang atau berkurang sedikit saja berarti cacat. Maka ceritaku itu harus tetap seperti itu. Sebab kini, tatkala aku mendusin, aku tak lagi bisa mengingat apa-apa. Bahkan, kemarin, aku lupa kenapa aku bisa terkapar di atas kuburan. Di atas segunduk tanah merah, yang di nisannya tercetak nama: EVA HERLIYANA. [#]

Rangkasbitung, 11022008

Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang hanya jika menulis cerper—agar terkesan agak genit sedikit. Karir kepenulisannya dimulai sejak bergabung dengan Akademi Sastra Tangerang (Astra), sebuah wadah atau semacam workshop hasil bentukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berkerja sama dengan Dewan Kesenian Tangerang (DKT). Tulisannya berupa Puisi, Cerpen, Esai, Resensi, tercecer di beberapa media massa cetak dan syber, sementara coret-moret omong kosongnya cuma untuk konsumsi pribadi. Kini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Komunitas Musikalisasi Puisi (Kompi) Banten, dan Bengkel Penulisan Sastra (Belistra-Untirta). Selain itu, ia juga sebagai Redaktur Budaya Tabloid Kaibon dan penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Sampai saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia, Fak. Bahasa dan Seni, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

October 28, 2008

“THE LEGACY” WUJUD EKSISTENSI T-FIVE

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:23 pm

Setelah sekian lama ditunggu para penggemarnya, awal bulan November 2008 ini T-Five direncanakan akan merampungkan album terbarunya yang ke 4. Konsep live performance (manggung) dari keenam personilanya tidak banyak berubah, tetap enerjik di panggung, harmonisasi suara vokalnya juga tetap sedap didengar telinga, dan T-Five juga tetap melantunkan rima-rima “Seni Berbicara Cepat” (Rapp) yang mendebarkan jantung dan menggelitik telinga para fansnya (T-Fiver’s).

Dengan formasinya yang baru, T-Five yang lahir pada 20 Juli 1999 terus berkarya diblantika musik Indonesia. Bersama Pandawa Kreasindotama sebagai pihak label, T-Five berhasil merampungkan sebuah album yang bertajuk “The Legacy”. Untuk penggarapan video klip pertama, lagu “Selingkuh Itu Income – (S.L.I.I)” menjadi pilihan mereka.Lagu yang bertemakan fenomena perselingkuhan yang dikemas secara menarik dan rapih ini merupakan kelanjutan Single “Tak Akan Hilang” yang telah dirilis sebelumnya oleh Twister Five Ent. Nuansa musik beraliran R&B/Hip Hop yang kental menjadi indikator bahwa T-Five tetap eksis pada jalur (genre) musiknya itu.

Selain menjadi obat pelipur kerinduan bagi para T-Fiver’s, beredarnya album “The Legacy” akan meramaikan industri musik Indonesia. T-Five berharap buah karya mereka kali ini kembali dapat menghibur hati para peminatdan pengamat musik Indonesia. (*)

T-Five are :

1. Andi Rustandi (And One) – Piano/Keyboard

2. Aswani Anshari (Ice Win) – Synthesizer/Keyboard

3. Tabriz Muhajier E.M.S (Tabriz) – Guitar

4. Paul Arnold (P.A) – Vokal/Soprano

5. Gordon Abraham (Goerdy) – Vocal/Tenor

6. Christian Marcus Nino (N9NE-O) – Vokal/Baritone – Rapp

BEM BANTEN SAYANGKAN KEGIATAN SUMPAH PEMUDA SEKEDAR SEREMONI SAJA

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:55 am

“Semangat Sumpah Pemuda itu sesungguhnya semangat kebangsaan yang kuat. Artinya, sebagai bangsa para pemimpin ini harus memikirkan bangsanya dengan merealisasikan pembangunan dengan baik. Kini di Banten khususnya semangat Sumpah Pemuda itu tidak diterapkan dengan sungguh oleh pemimpin di Banten”

Demikian disampaikan Presiden Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), Banten, Soeroyo, ditengah aksi demonstrasi bersama anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Banten, di gedung gubernuran, selasa (28/10). Menurutnya, semangat persatuan yang terkandung didalam teks Sumpah Pemuda sama sekali tidak tercermin dalam kehidupan para pemimpin di Provinsi Banten. “Tidak terlihat adanya perasaan senasib dan kebersamaan untuk memikirkan rakyat kecil. Mereka semakin terpuruk, terbukti dengan banyaknya berita warga makan nasi aking. Selain itu juga banyak pekerja wanita pergi keluar negeri hanya untuk jadi pembantu.”

Dalam aksi itu, ratusan mahasiswa nyaris bentrok dengan pihak keamanan. Mereka menuntut agar Pemerintah Provinsi Banten dapat merealisasikan APBD sebanyak 20 persen untuk pendidikan, meningkatkan ekonomi bagi rakyat kecil, dan melakukan pemberantasan korupsi dengan sungguh-sungguh.

“Para pemimpin Banten jangan hanya melakukan kegiatan seremoni dalam memperingati hari Sumpah Pemuda. Jangan mengaku satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa kalau kesenjangan semakin terbuka lebar. Seharusnya kalau mengaku satu bangsa ya bangsanya harus diangkat kehidupannnya,”katanya. *** (Ibnu PS Megananda)

October 26, 2008

Persembahan Terbaik dari GEN-Q

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 9:30 pm

Seperti sebuah percobaan kimia, Leo (Vocal), Dik2 (Bass), Joe (Guitar), Nana (Keyboard), Aba (Drum) dan Linda (Backing Vocal) merupakan lima personil Gen-Q dengan idealisme musik masing-masing menjadi unsur penyusunan utama yang bereaksi sempurna membentuk sebuah karakter musik. Nuansa Pop, Ballad, Soul dan Rock mengalir indah dari setiap lagu. Kedalaman makna lirik serta kejujuran dan kedewasaan dalam bermusik juga menjadi kekuatannya.

Gen-Q adalah sebuah band baru yang mempunyai potensi yang bisa diandalkan di dalam industri musik Indonesia. Memiliki visi dan kecintaan yang sama terhadap musik, sejak Desember 2007 untuk menggapai impiannya berbagai proses mereka lalui. Hingga akhirnya secara resmi terbentuklah Gen-Q pada 24 Maret yang lalu. Gen-Q sendiri diambil dari kata dalam bahasa Jepang : Genki, yang berarti sehat, baik, atau bersemangat. Interpretasi yang lain dari Gen-Q adalah sebuah keinginan untuk menjadi Generation Quality/Qualified.

Melalui tangan dingin sang Producer, John Paul Ivan mampu menghembuskan nafas baru untuk Gen-Q. Setelah melalui proses rekaman selama 6 bulan, Gen-Q siap meluncurkan album perdana mereka dengan 10 lagu yang kesemuanya diciptakan oleh personil Gen-Q. Tema Cinta mendominasi di album yang bertajuk “Persembahan Terbaik” ini, tidak melulu cinta sepasang kekasih tetapi juga bercerita tentang cinta yang universal. Hits single pertama mereka yang berjudul “Kau” bercerita tentang kekaguman seseorang pada orang lain, atau juga sesuatu yang lebih agung seperti sang Maha Pencipta.

Gen-Q bukan sekedar band pop, tapi groove dan ceria. Mulai bulan april yang lalu, saya berusaha untuk mengemas pop style untuk mewujudkan impian mereka. Gen-Q betul-betul di-create jadi sebuah band pop yang beda dengan yang lain. Disini saya bertugas untuk mengemas karya Gen-Q supaya bisa dipertanggungjawabkan di pasar, tidak mudah meramu masing-masing player yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dan berasal dari aliran yang berbeda, saya harus bisa mengerem ego mereka,” ujar Ivan.

Awal November 2008 ini Pandawa Production mewujudkan impian Gen-Q untuk memberikan Persembahan Terbaik kepada masyarakat pencinta musik Indonesia, mengungkapkan kecintaan dan visi mereka yaitu : “Music speak better than words…” ***

October 24, 2008

Jakarta 2008, 22nd Asian International Stamp Exhibition

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:16 am

JAKARTA 2008 yang digelar sejak 23-28 Oktober 2008 di Jakarta International Event and Convention Centre (JITEC), Mangga Dua Square Lt.8 ini bukan hanya pameran, melainkan juga ajang kompetisi yang menghadirkan peserta sebanyak 350 orang yang terdiri dari kelas Internasional (212 orang), kelas Nasional (78 orang), serta perwakilan dari stamp dealers (60 orang). Pameran bersifat kompetitif ini memperebutkan banyak medali, mulai dari large gold sampai medali perunggu (bronze) bagi koleksi-koleksi yang memenuhi syarat. Selain itu, sekitar puluhan “pedagang prangko” bukan hanya dari kawasan Asia-Pasifik, tetapi juga dari Eropa, akan membuka gerai penjualan benda-benda filateli mereka di pameran ini.

Kehadiran Budi Rachmanto, seorang kolektor prangko murni, misalnya, juga akan menjadi salah satu daya tarik dari pameran kali ini. Peraih rekor MURI pada Januari 2007 sebagai kolektor proof prangko dengan variasi terbanyak ini akan memamerkan koleksi-koleksinya.

Yang menarik, pada hari kedua pameran JAKARTA 2008 kemarin, PT Pos Indonesia meluncurkan joint stamp dengan Turki. Sekitar 1.200 frame koleksi prangko dari 24 Negara di Asia Pasifik yang dikompetisikan tampil dengan banyak keunikannya, sebut saja antara lain koleksi dari salah satu booth yang khusus memberi label produk prangkonya dengan ”amazing stamp”. Di stand ini, ditampilkan disain kumpulan-kumpulan prangko yang dibentuk bergambar calon presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, dan Albert Einstein, yang dipajang dalam sebuah bingkai besar.

Tidak lupa, untuk pengunjung anak-anak sekolah, JAKARTA 2008 menggelar lomba mewarnai prangko dengan hadiah-hadiah menarik. Lain halnya dengan kehadiran BMW milik mantan presiden RI kedua, (alm.Suharto) , yang dipajang di hall JITEC sejak sehari sebelum pameran berlangsung. Mobil BMW keluaran tahun 1981 ini sudah mulai ”ramai” ditempeli prangko ”seri Suharto” oleh para pengunjung yang hadir. ”Memang sengaja kami menampilkannya dan kami beri nama attribute to Soeharto mengingat besarnya kontribusi beliau dalam bidang prangko di Indonesia,” ujar Ketua Umum PFI, Letjend (Purn) R. Soeyono.

Dihari yang sama, JAKARTA 2008, 22nd Asian International Stamp Exhibition juga dikunjungi oleh para peserta Jambore Pramuka ASEAN 2008. Kunjungan ini sekaligus disertai prosesi penandatanganan Sampul Prangko Jambore ASEAN 2008 yang disaksikan oleh Ketua Umum PFI dan Direksi PT Pos Indonesia.

Sedangkan di hari kelima atau tanggal 27 Oktober, PT Pos Indonesia akan menghadirkan “seri Kuba” terkait peringatan Hari Kuba dengan memamerkan prangko seri Soekarno dan Che Guevara dan Soekarno dan Fidel Castro. Sekadar catatan, kedua prangko tersebut,– khususnya dari terbitan asli Kuba, akan dijual bebas di pameran dan akan sangat menarik dijadikan koleksi mengingat jumlahnya yang sangat sedikit.

Di hari terakhir, tanggal 28 Oktober, PT Pos Indonesia juga akan menghadirkan satu daya tarik lainnya. Yaitu, peluncuran prangko Prisma Laskar Pelangi dan akan dijual secara bebas kepada para pengunjung pameran. Sebagai daya tarik untuk anak-anak sekolah, JAKARTA 2008 juga diramaikan dengan dengan lomba menata, mendisain, dan mewarnai prangko.

Sementara itu, berkenaan dengan gelaran pameran ini, PT Pos Indonesia juga menerbitkan minisheet atau satu lembaran khusus seri JAKARTA 2008. Lembaran ini terdiri dari beberapa prangko yang menggambarkan perjalanan sejarah kota Jakarta sejak bernama Jayakarta, Batavia, dan selanjutnya menjadi Kota Jakarta.

Memang, setelah resmi dibuka kemarin (23/10) oleh Menkominfo, Moh.Nuh, perhelatan akbar filateli JAKARTA 2008, 22nd Asian International Stamp Exhibition ini mulai diramaikan oleh pengunjung. Pelaksanaan pembukaan ini dilakukan oleh Menkominfo dengan prosesi pemukulan gong dan penandatanganan Sampul Pameran JAKARTA 2008 secara bersama-sama dengan Ketua Umum Persatuan Filateli Indonesia (PFI), Letjend (Purn) R. Soeyono, Presiden Federation Inter-Asia Philately (FIAP), Mr Surajit Gong Vatama, serta perwakilan direksi PT Pos Indonesia.

Menurut Menkominfo Moh.Nuh dalam sambutannya, dengan berbekal kemampuan dan tetap menjaga semangat filateli, Indonesia dapat kembali mempersembahkan pameran prangko internasional ini dengan dukungan banyak pihak, yang salah satunya adalah FIAP sendiri sebagai salah satu wadah bagi para filatelis. Apalagi, tema yang diambil oleh JAKARTA 2008 ini adalah “Philately, a Bridge to Friendship among Men”, tentu sangat sesuai dengan prinsip-prinsip dan falsafah yang diemban oleh para filatelis.

Maka dengan sepenuh hati saya mendukung JAKARTA 2008 sebagai forum yang mampu memberikan harapan untuk saling bertukar pandangan di bidang filateli dalam banyak aspek yang berbeda,” ujar Moh.Nuh. “Dan mengingat tahun 2008 yang juga didedikasikan sebagai Visit Indonesian Year, saya pun mengucapkan selamat datang kepada para wakil Administrasi Pos & Telekomunikasi, Anggota Juri dan Komisaris, Peserta, Kolektor, serta stamp dealers untuk mengunjungi JAKARTA 2008,” tambah Menkominfo.

JAKARTA 2008 adalah pameran bertaraf internasional yang telah diakui oleh Federation Inter-Asia Philately (FIAP) dan dimasukkan ke dalam kalender acara tahunannya. Berbagai perwakilan stamp dealers dari berbagai negara turut hadir memamerkan karya filatelinya, bukan semata pameran saja, JAKARTA 2008 juga menjadi ajang kompetisi bagi peserta kelas Internasional dan kelas Nasional untuk memperebutkan banyak medali. Pameran ini terbuka untuk umum dan segala lapisan usia, JAKARTA 2008 memamerkan beragam koleksi benda filateli mulai perangko, kartu pos, sampul surat dan lain-lain terbaik dari negara-negara di Asia-Pasifik, termasuk koleksi milik para numismatik. *** (M. Latief).

October 16, 2008

DARI STUDI PEMBANGUNAN PEMUDA BANTEN KE BALI

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 6:42 pm

DARI STUDI PEMBANGUNAN PEMUDA BANTEN KE BALI

Kabupaten Jembrana bukanlah Badung, Denpasar atau Gianyar yang menjadi induk pariwisata di Bali. Disana amat jarang dijumpai turis asing yang datang dari Eropa, Amerika, Afrika, Australia, Jepang, Taiwan, China dan berbagai negara asing lainnya, pemandangan kegiatan petani bersawah atau memanen sayuran justru menjadi kekhasan daerah ini. Jembrana memang tergolong kabupaten miskin di Bali, tetapi hampir seluruh jajaran pimpinan dan pejabat daerah diseluruh Indonesia gencar melakukan kunjungan ke Kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali ini, apa gerangan yang menjadi daya tariknya?

Sekitar 50 Orang dari berbagai unsur pemuda di Banten juga memilih Kabupaten Jembrana sebagai salah satu tempat untuk melaksanakan Studi Pembangunan Pemuda (SPP) 2008 ke Provinsi Bali pada 14-16 Oktober 2008.

Program SPP 2008 yang diselenggarakan atas kerjasama Dinas Pemuda Olah Raga (Dispora) Provinsi Banten dengan DPD KNPI Provinsi Banten ini terbagi menjadi 5 kelompok yaitu Bidang Koperasi dan UMKM, Bidang Pemerintahan, Bidang Pendidikan dan Pemuda, Bidang Budaya dan Pariwisata, dan Bidang Pertanian. “Mereka melakukan identifikasi kondisi objektif di Kabupaten Jembrana, membandingkan potensi dan mempertajam kemampuan para pemuda Banten, sehingga diharapkan SPP 2008 ini dapat   memberikan kontribusi terhadap pembangunan di Provinsi Banten,” ujar Deni dari Dispora Banten yang turut mendampingi rombongan tersebut.

Kepada Banten Muda, Ketua DPD KNPI Provinsi Banten, Eten Hilman mengatakan bahwa Studi Banding sangat diperlukan. “Studi banding sangat diperlukan, bagaimanapun juga manusia pengetahuannya sangat terbatas dan butuh belajar sebagai langkah pengembangan wawasan. Prinsipnya perencanaan studi banding merupakan bagian integral pemenuhan kebutuhan untuk pengembangan pembangunan. Tujuannya adalah untuk belajar mengetahui lebih kongkrit kemajuan daerah lain untuk kemudian direkomendasikan untuk diterapkan kepada pengembangan pembangunan di Provinsi Banten,” paparnya.

Diceritakan oleh Nihlah, koordinator Bidang Pendidikan dan Pemuda, ditengah keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dimilikinya, Jembrana sejak tahun 2001 berani membebaskan siswa sekolah negeri dari biaya SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) mulai tingkat SD hingga SMA atau sederajat. “Bahkan, para siswa juga dibantu dengan buku-buku paket pelajaran, untuk sekolah swasta, Pemkab Jembrana menyediakan bantuan berupa beasiswa bagi sejumlah siswa berprestasi,” katanya.

Sementara menurut Maman Maruf dari Bidang Pertanian, keberanian Pemkab Jembrana untuk membebaskan para petani sawah dari beban pajak bumi dan bangunan (PBB) atas lahan usaha miliknya itu patut diberikan apresiasi, “Semuanya disubsidi oleh pemerintah setempat, ini menari dan perlu kita pelajari dengan seksama, bagaimana subsidi untuk melunasi pajak PBB lahan sawah para petani, sama sekali tidak membebani Pemkab Jembrana,” terang Maman.

Hal senada juga dipaparkan Koordinator Bidang Pemerintahan, Khoirul Umam. Pemkab Jembrana yang hanya memiliki 7 dinas, 2 badan dan 2 kantor ini mengundang perhatian banyak kepala daerah di Indonesia untuk meniru pola kepemimpinan Bupati Jembrana. “Selain membebaskan biaya pendidikan dan pajak atas lahan usaha petani sawah, masyarakat di kabupaten Jembrana dibebaskan juga dari biaya pelayanan kesehatan. Lebih menarik lagi terkait kebijakan perijinan, pelayanan dan kependudukan, jika melihat sistemnya, perizinan di Jembrana bisa selesai dalam waktu yang cukup singkat. Masyarakat yang membutuhkan perizinan cukup mendatangi kantor bupati, lalu membaca berbagai persyaratan yang diperlukan, setelah dilengkapi , berkas yang telah diregistrasi langsung dimasukkan melalui kotak khusus yang secara otomatis terbuka dan tertutup setelah warga yang bersangkutan menekan tombolnya. Ini menutup kemungkinan pejabat dapat bertatap muka langsung dengan warga, sehingga sempit pula kesempatan bagi pejabat melakukan pungutan liar atau korupsi terhadap warga,” jelasnya.

Sedangkan sektor mata pencaharian masyarakat Jembarana yang mayoritasnya petani, terdiri dari petani padi, kelapa, coklat, vanili dan cengkeh menjadi daya tarik dan kelebihan tersendiri bagi Jembrana. “Jembrana memang bukan kabupaten yang menempatkan pariwisata sebagai andalan ekonominya, tapi kami melihat pertanian terutama sawah, peternakan dan perikanan menjadi sebuah ikon Budaya dan Pariwisata yang memiliki nilai jual tersendiri. Pemandangan kegiatan petani bersawah atau memanen sayuran serta ruas jalan utama yang selalu dipadati oleh truk-truk bermuatan hasil pertanian menjadi kekhasan daerah ini, pemandangan ini sekaligus menggambarkan betapa kontrasnya dinamika dan denyut nadi kehidupan Jembarana dengan Bali pada umumnya, dan terbukti Jembrana  selalu dikunjungi banyak pihak,” ujar Yayah, koordinator Bidang Budaya dan Pariwisata.

Eten Hilman juga melihat Jembrana memiliki keunggulan dalam kebijakan pelayanan publik. “Menjadi daya tarik yang luar biasa karena ditengah keterbatasan PADnya, sejumlah kebijakan publiknya sungguh pro rakyat. Ini membuktikan Jembrana memiliki jiwa kemadirian. Kuncinya adalah kemampuan melakukan inovasi, kreatif dan efisiensi. Misalnya saja melakukan terobosan membuat pengadaan kartu pengenal pegawai negeri sipil (PNS) dengan bekerjasama dengan sebuah bank milik Pemerintah Provinsi Bali. Karena sekaligus merupakan kartu ATM, maka pengadaan untuk sekitar 5.000 PNS di Jembrana langsung dilakukan oleh bank yang bersangkutan. Dengan demikian terjadi efisiensi, sementara disisi lain jajaran PNS didaerah mereka dibiasakan menabung dan berhubungan dengan bank.”

Eten menambahkan, para delegasi Studi Pembangunan Pemuda 2008 mendapat banyak pelajaran dari banyak langkah terobosan cemerlang yang dilakukan Pemkab Jembrana hingga menghasilkan penghematan biaya 20-50 persen guna memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakatnya.

Selain berkunjung ke Kabupaten Jembrana, rombongan SPP 2008 bersilaturahmi dan berdialog seputar kepemudaan dengan jajaran pengurus DPD KNPI Provinsi Bali. Dalam kesempatan itu, Eten Hilman  memberikan cendera  mata berupa replika Menara Banten kepada ketua DPD KNPI Provinsi Bali, I Putu Gede Indriawan. *** (Wira)

October 12, 2008

CINTA SETAMAN

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 6:47 pm

CINTA SETAMAN

Sederet artis papan atas berkolaborasi dalam film karya Harry Dagoe Suharyadi berjudul CINTA SETAMAN. Sebut saja diantaranya Nicholas Saputra, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Ria Irawan, Djenar Maesa Ayu, Inul Daratista, Richard Oh, Marsha Timothy, dll.

Film ini mengisahkan delapan cerita sekaligus yaitu kisah anak kecil yang selalu bekerja keras seharian demi hanya sebotol air bersih dan sepasang sepatu roda, kisah kakak beradik penjual DVD bajakan yang mulai berseteru lantaran sang adik mulai keranjingan minum kopi starbucks, kisah anak seorang PSK yang mulai terpikat dengan seorang lelaki namun lelaki itu guru PMPnya, kisah orang Jepang yang harus mencari cinta sejati dan bertemu seorang gadis pemandu karaoke, kisah seorang sutradara televisi yang bergaji kecil mencari pelepasan dari tekanan isteri dan atasan kantornya, kisah seorang ibu Kepala Sekolah taman kanak-kanak yang berusaha menjalankan kaidah Islam yang diyakininya ditengah-tengah segala himpitan hal-hal duniawi, kisah mantan supir dari orang asing yang justru punya masalah besar setelah ia menerima kenang-kenangan dari seorang boss, kisah seorang wanita pedagang kain yang saat impian hidupnya naik haji bisa ditopang oleh sang anak satu-satunya, ia malah menemukan sebuah kenyataan lain…

Namun dalam CINTA SETAMAN, banyaknya artis dan kisah yang disajikan justru terasa indah karena terangkai dengan apik, ceritanya berbobot, segar, aktual, kritis dan sarat dengan pesan moral. Siapapun penontonnya akan terinspirasi oleh keunikan cerita film CINTA SETAMAN. Penasarankan? … Saksikan mulai 16 Oktober 2008 di bioskop-bioskop kesayangan anda, jangan sampai ketinggalan !!!

October 11, 2008

Jadi Pribadi Yg Penuh Daya Tarik

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:58 am

MENJADI PRIBADI YANG PENUH DAYA TARIK

Kadang kita menemukan seseorang yang kita kenal, yang begitu menyenangkan, hingga membuat kita merasa nyaman dan merindukan kehadiran orang itu. Bisa dibilang orang semacam ini memiliki daya tarik bagi orang lain. Daya tarik merupakan kualitas istimewa yang ada pada sesorang dan membuat keterpesonaan pada orang lain. Seperti misalnya bunga, alat untuk menarik lebah. Namun kabar gembiranya, kita semua dapat menjadi orang yang selalu dirindukan seperti itu. Daya tarik dapat ditumbuhkan. Anda dapat menciptakan getaran positif yang dapat melingkupi Anda. Sebuah aura positif yang dapat ditimbulkan dari perhatian, kasih sayang dan rasa hormat. Anda dapat mengikuti beberapa tips menumbuhkan daya tarik dibawah ini.

BERIKAN KEBAIKAN TANPA PERNAH MENGHITUNGNYA
Tuhan itu maha pemurah. Ada pepatah mengatakan lebih baik memberi dari pada meminta. Birikan kesediaan yang tulus untuk berbagi dengan orang lain. Dalam kehidupan sosial, orang cenderung memberi dan beramal semata-mata demi memuaskan ego. Namun sebenarnya, memberi dengan ikhlas dapat menumbuhkan perasaan positif. Belajarlah memberi tanpa mengharapkan imbalan, perasaan yang datang dari hati akan menumbuhkan kepuasan dan kesenangan.

HIDUP DALAM KERENDAHAN HATI
Kerendahan hati merupakan perwujudan dari kebanggaan hati, tapi pengganti dari membanggakan diri sendiri pada yang lainnya. Amal, toleransi dan kerendahan hati memiliki nilai yang tinggi. Kerendahan hati dan kedamaian saling bertautan. Percayalah pada diri sendiri, dan singkirkan keinginan untuk selalu membuktikan pada orang lain. Sementara orang berusaha untuk rendah hati, mereka harus menghentikan sikap egois, itu sebuah proses yang mutlak dan membangun.

KEMURNIAN
Keyakinan menarik hati. Keyakinan dan kesabaran merupakan kondisi awal dari sebuah ketertarikan atau daya tarik.

PENUH MINAT
Apa yang kita katakan pada diri sendiri, tentang kehidupan dan diri kita sendiri dari hari ke hari, merupakan efek yang luar biasa. Sepanjang waktu, lihat dan pikirkan diri Anda sebagai pribadi yang menarik. Pertahankan pandangan itu sejelas mungkin dalam pikiran Anda. Lalu, dengan sendirinya, Anda akan menarik segala yang penting untuk menyempurnakan pandangan itu. Jadilah orang yang ceria dan penuh harapan, dan buat dunia terpikat pada Anda.

WAJAH CERIA
Tertawa itu menyehatkan. Buat wajah Anda selalu ceria. Saat Anda tersenyum, otak akan bereaksi dan memproduksi endorphin (zat alami yang memindahkan rasa sakit). Selain itu, sebuah senyuman akan membuat Anda rileks. Sebuah senyum juga akan menebarkan kegembiraan pada orang lain. Tekankan dalam pikiran Anda, selagi Anda bersama orang lain, bahwa senyuman dapat memperpendek jarak antar orang lain.

ANTUSIAS DAN HASRAT
Dua hal ini merupakan ibu yang melahirkan sukses. Antusias dan hasrat dapat mendatangkan uang, kekuatan dan pengaruh. Hal besar tak akan dapat dicapai tanpa antusias. Yakinlah pada apa yang Anda kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan Anda dengan penuh cinta. Masukan antusias dalam pribadi Anda. Dan si antusias ini akan menciptakan hal luar biasa buat Anda.

TATA KRAMA
Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan membuat orang lain percaya pada Anda. Tata karma yang bagus membuat orang lain merasa nyaman bercakap-cakap dengan Anda. Tata karma merupakan sumber kesenangan, memberikan rasa aman dengan menunjukan penghormatan pada oran lain. Bersikap penuh tata karma bukan hanya berlaku pada sebagian orang, tapi pada setiap orang yang Anda kenal, tak peduli status dan kedudukan mereka. ***

Horas Kasih Sirait (Bungzhu),
Mahasiswa STTIKOM Insan Unggul Cilegon
Jurusan Teknik Informatika

October 8, 2008

Sajak-sajak Niduparas

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:57 pm

BERHENTILAH TODONGKAN BELATI KE ARAHKU

berhentilah todongkan belati ke pangkal leherku

karena amuk penaku lebih ganas dari singa yang terlunta di savana. apalagi aku tahu, bualanmu tak menyelamatkan aku dari debudebu yang menggiringku mengunyah nikmat murka neraka.

“adakah dadaku tak seranum dulu?” kau lepas godaanmu pada darah yang terkuak belati. dan birahiku pun menjentik: busung dadamu masih setinggi kilimanjaro yang sulit dipanjat lintah sepertiku.

berhentilah todongkan belati ke batang kelaminku

karena parau rintihmu tak mengundang maut yang mengembarai belantara kabut. apalagi kau tahu, mautku lebih menikam dari beribu tombak iblis yang menyeretmu menjilat lezat deru Candu.

“adakah bibirku tak semesra dulu?” kau kuak

nafsumu lewat bibir yang digigiti dengan manja. dan kureguk rayuanmu: tidak, rekahnya masih

setipis guci retak yang mudah disusupi rayap

sepertiku.

berhentilah todongkan belati ke arahku

karena ia bisa meronta merayakan luka.

(2007)

HIDANGAN PEMBUKA

kuhirup dalamdalam bau malam

bersama sejumlah aroma pekat

hingga dada terhujam lembing ajal

menggelombangkan maut pula ke retina.

sup berkuah darah merendam mayatnya

menjadi hidangan pembuka perjamuan ini

katamu, “hatinya telah lebih dulu

membusuk sebelum ia mati.”

dan mataku menangkap siluet kekasih

bertengger di rahang jendela, tengah

menuliskan peta rindu di setiap punggung

yang berkelindan dengan gairah keraguan,

lumayan getir ditafsirkan memang,

meski teoriteori, rumusrumus, dan

mantramantra mengakar di sakral lidah kita.

(2007)

TERBERSIT KEMATIAN AYAH

dengusku mengaburkan warna hasrat ketika ingatan berbau humus merangkai silsilah menjadi mosaik.

dulu, aku mengemasi semua kepak burung dan lelawa, namun alpa melipat kepak malaikat mahapencuri.

hingga kau terbujur tanpa terpaksa tanpa rekayasa tanpa.

hanya erangan kafan tersampir di bahu mayat waktu mengganti katakata dari tulang lidahmu yang telah tabu.

sementara di langit terserakkan bentuk kepala celeng dan anjing meniup sangkakala menyebarkan angin bermiang.

aku terpekur tanpa tangis tanpa airmata tanpa.

sebab ini kali penghabisan segala lakon; kau tak mengenaliku, melupakan pula cara berebut udara.

lalu ke mana mesti kutaburkan remahremah jingga dari sisa senja yang kau kemas dalam kantung rindu?

sebab pertemuan kita kerap mencatat dusta dan khianat yang kini mewujud batu dan menindihku.

menggaritkan keterasingan di dada kiri, membaptis kepala srigala pada pintunya,

sampai kini, aku paling diberkati debu.

(2007)

PARASMU YANG TERATAI

wajahmu jatuh ke lengkung malam

lalu terperangkap pigura petang dan subuh

memendarkan cahaya kencana

pada jalan lungkrah yang kutiti

di sini, udara mati

mengapungkan bangkai waktu

tetapi parasmu yang teratai

beserta segumpal cinta yang terbaring

di atasnya, mengontaminasi arah langkahku

sementara percikan bunga malam

membakar rindunya yang parah,

membuat sekujurku tertegun

menata kesadaran;

mataku berzikir, rambutku sembahyang,

dan aku mirik menjadi makmumnya.

(2007)

SAJAK UNTUK PENYAIR TUA

hei, kau penyair tua!

aku datang dengan parang yang telah

diasah tujuh batu gunung, dikulum lama di

dasar neraka, dilulur kilat empat penjuru, serta

diberkati semesta raya, kuhunus untuk kuayun

ke batang lehermu.

sebab tanah ini sudah tak layak lagi diinjak penyair

busuk—yang cuma memajang luka petani yang

rekah seperti kering sawah, atau mengawetkan

derita ke dalam sebotol soda, pun meracaukan

kegelisahan akan sejarah kebiadaban—ke dalam

etalaseetalase toko dan rakrak buku sembari

diamdiam kaumengigau: karyaku paling maha.

sebab karya kau pun terlampau abadi dalam

realita, dalam generasiku yang remaja. jadi

bawa saja kisah pilu lorong debu itu ke dalam

lahat yang kusiapkan buat cangkang penuh borok

dan bisul yang pernah kau banggakan di depan

betina toilet itu. camkan!

dan darah muncrat ke ufuk pagi yang lekas

menyergap aroma maut yang meruap dari

lenguh terakhir penyair tua.

(2007)

KITAB DUSTA

baiklah, kita catat dusta sebagai pengganti sabda tuhan, sebab akibatakibat kelahiran manusia pertama yang rusuknya

bermetamorfisis menjadi eva, tak lagi menggairahkan untuk dibacakan di atas jembatan, seperti kita meneriakkan sajaksajak

mutakhir yang melilin. walau kerap gerimis pun meleleh pada angkuhku yang biru dan menyeretku ke laut; meniadakan kehangatan,

mengusir kupukupu bersayap loreng yang hendak menginap di kamar pengantin kita. tapi kelopak matamu tak mekarmekar,

padahal dusta kita belum usai, belum sampai ke palung terpahit, dan kupukupu tak jadi terbakar di matamu. maka bangunlah

mencusuar atawa istana pasir dari rajutan jiwa kita yang carutmarut, sekadar untuk menyorot kapal tanpa nahkoda, sepi

penumpang pula, agar tak terisap pusar arus atawa tertelan kerongkong kabut. lantas kita dustai segala, pun kitab dusta yang kita bikin.

(2007)

Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang kalau menulis Cerpen. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Bengkel Penulisan Sastra (Belistra-Untirta). Selain itu ia juga redaktur budaya Tabloid Kaibon, serta penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia Untirta. Tinggal di Serang.

October 7, 2008

PEMUDA HARUS BANGKIT DAN BERJUANG

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 6:26 pm

Serang - Perjuangan adalah sebuah semangat untuk senantiasa melakukan sesuatu. Sekecil atau sesederhana apapun bentuknya, berbuat kebaikan akan mewarnai catatan sejarah untuk sebuah kemajuan dan kemuliaan masyarakat. Persoalan pengangguran, kemiskinan, narkoba dan akhlakul karimah yang terus membelit dikalangan anak muda jangan sampai membuat kita menyerah.

Pernyataan ini dikemukakan Eten Hilman, Ketua DPD KNPI Provinsi Banten, di Gedung Pemuda, Selasa (7/10). Di sela kesibukannya Eten mengatakan, “sebagai anak bangsa, bukanlah sikap bijaksana jika akhirnya kita menyerah pada keadaan ini. Masyarakat Banten, termasuk kalangan anak mudanya, harus bangkit dan berjuang. Bangkit melawan setiap bentuk penjajahan yang bernama dominasi atau intervensi kekuatan tertentu.”

Menanggapi banyaknya elemen masyarakat yang kecewa terhadap kinerja pemerintah daerah setelah delapan tahun terbentuknya Provinsi Banten, pria kelahiran 22 September 1968 ini mengingatkan untuk tidak begitu saja menyerah, “Bolehlah kita bertanya apa yang sudah dihasilkan dari berdirinya Provinsi Banten selama ini dan apa dampaknya buat rakyat Banten. Tetapi jangan sekalipun terlontar kata menyerah untuk sebuah perjuangan,” ujarnya.

“Saya berharap anak muda Banten bisa lebih kreatif, kerja keras dan disiplin sehingga dapat melakukan hal-hal yang positif,” tambahnya. Perjuangan ini pula yang sempat dilakukannya saat mengikuti proses pemilihan Ketua KNPI Provinsi Banten. Selain berjalan alot dan ketat, ada anggapan dari beberapa kalangan bahwa KNPI hanya bisa dimanfaatkan oleh kekuatan tertentu dan hanya dikuasai oleh anak-anak pejabat. Namun Direktur Utama PT. Hade Rona Bhakti ini mampu membuktikan bahwa sebenarnya semua mempunyai kesempatan yang sama, sebagai anak yatim, Eten malah mendapat amanat untuk memimpin KNPI Banten hingga 2010.


Diceritakan, Jiwa Leadership dan Wirausaha yang dimiliki oleh Eten Hilman sejak kecil membentuk dirinya menjadi orang yang pantang menyerah. Disamping kesibukan dirinya kuliah di Fakultas Tehnik Muhammadiyah Jakarta jurusan Sipil, ia aktif di Organisasi, menjadi Ketua Senat Mahasiswa, Pengurus Masjid, Asisten Dosen, dll, Eten juga sudah mulai berbisnis, ia mengambil emping (penganan yang terbuat dari buah blinjo dicetak tipis bundar lalu dikeringkan) dari Pasar Rau Serang kemudian didistribusikan ke 50 sampai 100 warung di sekitar kampus dan bisa menghabiskan 50 s/d 70 kg per minggu. Secara freelance bersama teman-temannya di Kampus, Eten juga membantu beberapa proyek dalam menghitung  struktur gedung dan jembatan, kemudian menjadi Supervisor di perusahaan telekomunikasi terkenal di Jakarta dan sempat dikirim sebagai tim ahli  ke Malaysia.


Melihat perkembangan di ranah Banten, alumni Pemuda muhammadiyah ini merasa terpanggil untuk kembali berorganisasi, “Disana jiwa sosial kita diuji, memang kita tidak bisa mencari hidup disitu, tapi inilah salah satu bentuk kepedulian saya terhadap pemuda propinsi Banten, mengajak mereka untuk berbuat sesuatu, minimal apa yang bisa dilakukan untuk membantu dirinya sendiri,” imbuhnya.

Pengusaha muda ini memang sering diundang menjadi pembicara seputar kewirausahaan dan kepemudaan, seperti dalam    kerja sama Asia - Europe Meeting (Asem) untuk pemasaran komoditas eskpor mewakili Kadin Banten. Program Kewirausahaan Pemuda, belum lama ini ia selenggarakan di salah satu hotel di Anyer. “Diharapkan nantinya mereka dapat  membuka peluang usaha bagi dirinya sendiri ataupun  teman-teman lainnya, Pemuda jangan alergi terhadap dunia usaha, saya juga memulai usaha dari nol, tanpa modal, pinjam sana sini, jangan takut  akan kegagalan, rugi itu hal biasa, bahkan saya juga punya pengalaman pahit, beberapa kali ditipu oleh mitra kerja, uang dibawa kabur sampai ratusan juta rupiah, tapi itu semua jangan sampai membuat kita berhenti, yang penting selalu lakukan evaluasi, terus maju dan jadikan pengalaman sebagai guru yang terbaik.” Terangnya

.

Dalam kesempatan itu, Eten juga mengatakan bahwa kesuksesannya menggelar silaturahmi nasional DPD KNPI seluruh Indonesia baru-baru ini berkat perjuangan dan kerja keras semua pihak. Dan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, beragam kegiatan telah disiapkan untuk memeriahkan peringatan yang jatuh pada 28 Oktober 2008 itu. “Serangkaian kegiatan akan diselenggarakan mulai 14 dengan kegiatan yang bersifat ilmiah dan membangkitkan semangat kepemudaan, seperti Seminar Pemuda dan Lomba Karya Ilmiah Pemuda. Kegiatan ilmiah ini untuk mengasah dan mempertajam balar intelektual Pemuda,” paparnya.

Untuk membangkitkan nilai-nilai perjuangan, sebagai acara puncak akan dilaksanakan Kirab Pemuda yang diikuti oleh para eksponen muda dan OKP, serta pengurus KNPI Kabupaten/Kota. Peserta Kirab Pemuda rencananya akan dilepas Gubernur Banten dan akan ada penyerahan bendera KNPI kepada bupati dan walikota se Banten. Eten berharap, para pemuda, pengurus OKP yang berhimpun dalam KNPI dan seluruh pengurus KNPI Kabupaten/Kota dapat berpartisipasi pada Kirab Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2008 ini. *** (Wira)