Sajak-sajak Niduparas
BERHENTILAH TODONGKAN BELATI KE ARAHKU
berhentilah todongkan belati ke pangkal leherku
karena amuk penaku lebih ganas dari singa yang terlunta di savana. apalagi aku tahu, bualanmu tak menyelamatkan aku dari debudebu yang menggiringku mengunyah nikmat murka neraka.
“adakah dadaku tak seranum dulu?” kau lepas godaanmu pada darah yang terkuak belati. dan birahiku pun menjentik: busung dadamu masih setinggi kilimanjaro yang sulit dipanjat lintah sepertiku.
berhentilah todongkan belati ke batang kelaminku
karena parau rintihmu tak mengundang maut yang mengembarai belantara kabut. apalagi kau tahu, mautku lebih menikam dari beribu tombak iblis yang menyeretmu menjilat lezat deru Candu.
“adakah bibirku tak semesra dulu?” kau kuak
nafsumu lewat bibir yang digigiti dengan manja. dan kureguk rayuanmu: tidak, rekahnya masih
setipis guci retak yang mudah disusupi rayap
sepertiku.
berhentilah todongkan belati ke arahku
karena ia bisa meronta merayakan luka.
(2007)
HIDANGAN PEMBUKA
kuhirup dalamdalam bau malam
bersama sejumlah aroma pekat
hingga dada terhujam lembing ajal
menggelombangkan maut pula ke retina.
sup berkuah darah merendam mayatnya
menjadi hidangan pembuka perjamuan ini
katamu, “hatinya telah lebih dulu
membusuk sebelum ia mati.”
dan mataku menangkap siluet kekasih
bertengger di rahang jendela, tengah
menuliskan peta rindu di setiap punggung
yang berkelindan dengan gairah keraguan,
lumayan getir ditafsirkan memang,
meski teoriteori, rumusrumus, dan
mantramantra mengakar di sakral lidah kita.
(2007)
TERBERSIT KEMATIAN AYAH
dengusku mengaburkan warna hasrat ketika ingatan berbau humus merangkai silsilah menjadi mosaik.
dulu, aku mengemasi semua kepak burung dan lelawa, namun alpa melipat kepak malaikat mahapencuri.
hingga kau terbujur tanpa terpaksa tanpa rekayasa tanpa.
hanya erangan kafan tersampir di bahu mayat waktu mengganti katakata dari tulang lidahmu yang telah tabu.
sementara di langit terserakkan bentuk kepala celeng dan anjing meniup sangkakala menyebarkan angin bermiang.
aku terpekur tanpa tangis tanpa airmata tanpa.
sebab ini kali penghabisan segala lakon; kau tak mengenaliku, melupakan pula cara berebut udara.
lalu ke mana mesti kutaburkan remahremah jingga dari sisa senja yang kau kemas dalam kantung rindu?
sebab pertemuan kita kerap mencatat dusta dan khianat yang kini mewujud batu dan menindihku.
menggaritkan keterasingan di dada kiri, membaptis kepala srigala pada pintunya,
sampai kini, aku paling diberkati debu.
(2007)
PARASMU YANG TERATAI
wajahmu jatuh ke lengkung malam
lalu terperangkap pigura petang dan subuh
memendarkan cahaya kencana
pada jalan lungkrah yang kutiti
di sini, udara mati
mengapungkan bangkai waktu
tetapi parasmu yang teratai
beserta segumpal cinta yang terbaring
di atasnya, mengontaminasi arah langkahku
sementara percikan bunga malam
membakar rindunya yang parah,
membuat sekujurku tertegun
menata kesadaran;
mataku berzikir, rambutku sembahyang,
dan aku mirik menjadi makmumnya.
(2007)
SAJAK UNTUK PENYAIR TUA
hei, kau penyair tua!
aku datang dengan parang yang telah
diasah tujuh batu gunung, dikulum lama di
dasar neraka, dilulur kilat empat penjuru, serta
diberkati semesta raya, kuhunus untuk kuayun
ke batang lehermu.
sebab tanah ini sudah tak layak lagi diinjak penyair
busuk—yang cuma memajang luka petani yang
rekah seperti kering sawah, atau mengawetkan
derita ke dalam sebotol soda, pun meracaukan
kegelisahan akan sejarah kebiadaban—ke dalam
etalaseetalase toko dan rakrak buku sembari
diamdiam kaumengigau: karyaku paling maha.
sebab karya kau pun terlampau abadi dalam
realita, dalam generasiku yang remaja. jadi
bawa saja kisah pilu lorong debu itu ke dalam
lahat yang kusiapkan buat cangkang penuh borok
dan bisul yang pernah kau banggakan di depan
betina toilet itu. camkan!
dan darah muncrat ke ufuk pagi yang lekas
menyergap aroma maut yang meruap dari
lenguh terakhir penyair tua.
(2007)
KITAB DUSTA
baiklah, kita catat dusta sebagai pengganti sabda tuhan, sebab akibatakibat kelahiran manusia pertama yang rusuknya
bermetamorfisis menjadi eva, tak lagi menggairahkan untuk dibacakan di atas jembatan, seperti kita meneriakkan sajaksajak
mutakhir yang melilin. walau kerap gerimis pun meleleh pada angkuhku yang biru dan menyeretku ke laut; meniadakan kehangatan,
mengusir kupukupu bersayap loreng yang hendak menginap di kamar pengantin kita. tapi kelopak matamu tak mekarmekar,
padahal dusta kita belum usai, belum sampai ke palung terpahit, dan kupukupu tak jadi terbakar di matamu. maka bangunlah
mencusuar atawa istana pasir dari rajutan jiwa kita yang carutmarut, sekadar untuk menyorot kapal tanpa nahkoda, sepi
penumpang pula, agar tak terisap pusar arus atawa tertelan kerongkong kabut. lantas kita dustai segala, pun kitab dusta yang kita bikin.
(2007)
Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang kalau menulis Cerpen. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Bengkel Penulisan Sastra (Belistra-Untirta). Selain itu ia juga redaktur budaya Tabloid Kaibon, serta penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia Untirta. Tinggal di Serang.
date adult
LalWadlyacisy — October 28, 2008 @ 10:59 pm