bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

October 8, 2008

Sajak-sajak Niduparas

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:57 pm

BERHENTILAH TODONGKAN BELATI KE ARAHKU

berhentilah todongkan belati ke pangkal leherku

karena amuk penaku lebih ganas dari singa yang terlunta di savana. apalagi aku tahu, bualanmu tak menyelamatkan aku dari debudebu yang menggiringku mengunyah nikmat murka neraka.

“adakah dadaku tak seranum dulu?” kau lepas godaanmu pada darah yang terkuak belati. dan birahiku pun menjentik: busung dadamu masih setinggi kilimanjaro yang sulit dipanjat lintah sepertiku.

berhentilah todongkan belati ke batang kelaminku

karena parau rintihmu tak mengundang maut yang mengembarai belantara kabut. apalagi kau tahu, mautku lebih menikam dari beribu tombak iblis yang menyeretmu menjilat lezat deru Candu.

“adakah bibirku tak semesra dulu?” kau kuak

nafsumu lewat bibir yang digigiti dengan manja. dan kureguk rayuanmu: tidak, rekahnya masih

setipis guci retak yang mudah disusupi rayap

sepertiku.

berhentilah todongkan belati ke arahku

karena ia bisa meronta merayakan luka.

(2007)

HIDANGAN PEMBUKA

kuhirup dalamdalam bau malam

bersama sejumlah aroma pekat

hingga dada terhujam lembing ajal

menggelombangkan maut pula ke retina.

sup berkuah darah merendam mayatnya

menjadi hidangan pembuka perjamuan ini

katamu, “hatinya telah lebih dulu

membusuk sebelum ia mati.”

dan mataku menangkap siluet kekasih

bertengger di rahang jendela, tengah

menuliskan peta rindu di setiap punggung

yang berkelindan dengan gairah keraguan,

lumayan getir ditafsirkan memang,

meski teoriteori, rumusrumus, dan

mantramantra mengakar di sakral lidah kita.

(2007)

TERBERSIT KEMATIAN AYAH

dengusku mengaburkan warna hasrat ketika ingatan berbau humus merangkai silsilah menjadi mosaik.

dulu, aku mengemasi semua kepak burung dan lelawa, namun alpa melipat kepak malaikat mahapencuri.

hingga kau terbujur tanpa terpaksa tanpa rekayasa tanpa.

hanya erangan kafan tersampir di bahu mayat waktu mengganti katakata dari tulang lidahmu yang telah tabu.

sementara di langit terserakkan bentuk kepala celeng dan anjing meniup sangkakala menyebarkan angin bermiang.

aku terpekur tanpa tangis tanpa airmata tanpa.

sebab ini kali penghabisan segala lakon; kau tak mengenaliku, melupakan pula cara berebut udara.

lalu ke mana mesti kutaburkan remahremah jingga dari sisa senja yang kau kemas dalam kantung rindu?

sebab pertemuan kita kerap mencatat dusta dan khianat yang kini mewujud batu dan menindihku.

menggaritkan keterasingan di dada kiri, membaptis kepala srigala pada pintunya,

sampai kini, aku paling diberkati debu.

(2007)

PARASMU YANG TERATAI

wajahmu jatuh ke lengkung malam

lalu terperangkap pigura petang dan subuh

memendarkan cahaya kencana

pada jalan lungkrah yang kutiti

di sini, udara mati

mengapungkan bangkai waktu

tetapi parasmu yang teratai

beserta segumpal cinta yang terbaring

di atasnya, mengontaminasi arah langkahku

sementara percikan bunga malam

membakar rindunya yang parah,

membuat sekujurku tertegun

menata kesadaran;

mataku berzikir, rambutku sembahyang,

dan aku mirik menjadi makmumnya.

(2007)

SAJAK UNTUK PENYAIR TUA

hei, kau penyair tua!

aku datang dengan parang yang telah

diasah tujuh batu gunung, dikulum lama di

dasar neraka, dilulur kilat empat penjuru, serta

diberkati semesta raya, kuhunus untuk kuayun

ke batang lehermu.

sebab tanah ini sudah tak layak lagi diinjak penyair

busuk—yang cuma memajang luka petani yang

rekah seperti kering sawah, atau mengawetkan

derita ke dalam sebotol soda, pun meracaukan

kegelisahan akan sejarah kebiadaban—ke dalam

etalaseetalase toko dan rakrak buku sembari

diamdiam kaumengigau: karyaku paling maha.

sebab karya kau pun terlampau abadi dalam

realita, dalam generasiku yang remaja. jadi

bawa saja kisah pilu lorong debu itu ke dalam

lahat yang kusiapkan buat cangkang penuh borok

dan bisul yang pernah kau banggakan di depan

betina toilet itu. camkan!

dan darah muncrat ke ufuk pagi yang lekas

menyergap aroma maut yang meruap dari

lenguh terakhir penyair tua.

(2007)

KITAB DUSTA

baiklah, kita catat dusta sebagai pengganti sabda tuhan, sebab akibatakibat kelahiran manusia pertama yang rusuknya

bermetamorfisis menjadi eva, tak lagi menggairahkan untuk dibacakan di atas jembatan, seperti kita meneriakkan sajaksajak

mutakhir yang melilin. walau kerap gerimis pun meleleh pada angkuhku yang biru dan menyeretku ke laut; meniadakan kehangatan,

mengusir kupukupu bersayap loreng yang hendak menginap di kamar pengantin kita. tapi kelopak matamu tak mekarmekar,

padahal dusta kita belum usai, belum sampai ke palung terpahit, dan kupukupu tak jadi terbakar di matamu. maka bangunlah

mencusuar atawa istana pasir dari rajutan jiwa kita yang carutmarut, sekadar untuk menyorot kapal tanpa nahkoda, sepi

penumpang pula, agar tak terisap pusar arus atawa tertelan kerongkong kabut. lantas kita dustai segala, pun kitab dusta yang kita bikin.

(2007)

Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang kalau menulis Cerpen. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Bengkel Penulisan Sastra (Belistra-Untirta). Selain itu ia juga redaktur budaya Tabloid Kaibon, serta penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia Untirta. Tinggal di Serang.



1 Comment »

  1. date adult

      LalWadlyacisy — October 28, 2008 @ 10:59 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment