JAKARTA – Pesan Kedamaian dan Cinta akan mengalahkan segala bentuk Kekerasan dan Kebencian akan tersebar luas pada 18 Desember 2008 ini. Sebuah pembuktian bahwa Islam adalah agama yang damai, anti dengan kekerasan dan menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan beragama serta saling menghormati, menunjukan pula kalau pesantren penuh dengan nilai - nilai humanisme dan kedamaian, bukan tempat teroris seperti yang diperkirakan oleh orang-orang barat.
Harapan ini disampaikan seorang sutradara muda Nurman Hakimlewat film layar lebar perdananya yang berjudul 3Doa3Cinta. Setelah banyak membuat film pendek dan salah satu diantaranya pada tahun 2003 berhasil memenangkan festival film independent, Nurman Hakim kembali menulis dan menyutradarai 3Doa3Cinta dengan proses penulisan kurang lebih dua tahun. “Waktu pertama kali saya menulis film ini, terinspirasi dari tragedi WTC 11 September. Setelah saya menulis, ternyata script saya ini berhasil mendapatkan beberapa grant, dari Global Film Initiative di San Fransisco, Amerika Serikat; Goteborg International Film Festival Fund di Swedia dan Fond Sud Cinema di Perancis. Judul aslinya adalah Pesantren, biar lebih akrab saya buat menjadi 3Doa3Cinta,” terangnya.
“Saya memang pernah tiga tahun hidup di Pesantren, 3Doa3Cinta adalah film yang bercerita tentang proses pendewasaan santri yang dididik secara Islam dalam memahami kehidupan diluar pesantren. Saya mau berbicara tentang dunia pesantren di Indonesia yang penuh cinta dan kedamaian. Disini saya mencoba ingin menepis anggapan bahwa pesantren itu tempat orang-orang yang radikal, ceritanya sendiri sangat menyentuh dan dalam film ini kita dapat melihat potret kehidupan di pesantren yang diwarnai dengan cinta, ibadah, persahabatan, dan nilai kemanusiaan” ujar Nurman Hakim yang saat ini masih aktif sebagai pengajar di Fakultas Film dan Televisi, IKJ.
Kelebihan film ini, cenderung untuk menonjolkan kepada hubungan manusiawinya. Bagaimana kehidupan ketiga santri yang masih remaja menjadi tokoh ceritanya sehingga terlihat unik untuk dieksplorasi. Menampilkan bintang-bintang muda yang memiliki talenta seperti Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama dan Yoga Bagus, film ini bercerita tentang tiga orang sahabat, Huda, Rian dan Syahid, tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka.
Huda (Nicholas Saputra), adalah santri yang patuh pada gurunya, Kyai Wahab yang telah mengasuhnya sejak ibu kandungnya meninggalkannya begitu saja di pesantren itu. Huda mulai merencanakan hidupnya di luar pesantren nanti. Yaitu mencari ibunya yang kabarnya berada di suatu tempat di Jakarta. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang sangat seksi ketika di panggung dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta.
Rian (Yoga Pratama) santri dari suatu kota besar. Dia mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Rian seolah melihat dunia baru dari balik viewfinder, ia asyik merekam berbagai peristiwa yang ada di lingkunganya. Rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa itu membuat Rian semakin obsesif terhadap kamera.
Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Karena situasi sosial dan psikologis dirinya, membuat Syahid tergabung dalam kelompok islam garis keras yang berada di luar pesantren. Terlebih ketika sawah milik orang tua Syahid dibeli paksa oleh sebuah perusahaan ternama milik Amerika untuk dijadikan pabrik. Syahid merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya.
Kepada Banten Muda, Dian Sastro mengungkapkan kekecewaannya pada media yang menyamakan dirinya dengan film Mendadak Dangdut yang dibintangi Titi Kamal. ”Saya mendukung film ini karena aku suka film ini, banyak inspirasi dan pesannya besar sekali, suatu kehormatan bagi saya bisa terlibat dan film ini perlu ditonton oleh banyak orang,” tukasnya.
”Main dengan Dian tentunya menyenangkan sekali, karena kita sudah kenal satu sama lain, sudah tahu juga cara kerja masing-masing, jadi sudah paham dan tidak menemukan kesulitan juga dalam komunikasi” ungkap Nicholas Saputra.
Sementara Yoga Bagus menambahkan bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan di Pesantren sehingga tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam mengikuti film ini. Namun sebagai pendatang baru, Yoga juga banyak belajar dari rekan-rekannya yang lebih senior.
Walaupun proses penggarapan skenarionya memakan waktu lebih dari 3 tahun, Proses shooting filmnya sendiri hanya membutuhkan waktu 16 hari, yang dilakukan selama bulan April-May kemarin. Sebuah waktu yang terhitung singkat karena shooting film ini dilakukan di beberapa kota, Jakarta, Yogyakarta dan Magelang. Waktu yang padat ini tidak menjadikan film ini dibuat dengan seadanya. Seluruh kru film tetap serius dan total. Profesionalitas dan efektivitas kerja membuat film ini selesai tepat pada waktunya.
”Di film ini kita bisa lihat bagaimana Nicholas Saputra begitu menjiwai perannya sebagai seorang santri yang jatuh hati dengan penyanyi dangdut keliling, yang diperankan sangat apik oleh Dian Sastro yang juga melantunkan 2 buah lagu dangdut,” ujar produser film, Adiyanto Sumarjono.
”Untuk mendalami peran sebagai penyanyi dangdut kampung, setiap hari aku dengerin lagu-lagu dangdut, aku juga belajar joget dangdut. Aku dengerin semua lagu dangdut, diantaranya lagu pemenang-pemenang KDI, itu semua aku dengerin, kemudian setiap hari aku juga dengerin lagunya Ike Nurjanah dan Iyet Bustami,” jelas Dian.
Kerja keras itu pun mulai membuahkan hasil, pada bulan Mei yang lalu, 3Doa3Cinta diundang ke Cinema du Sud di Cannes Film Festival di Perancis dimana film ini diputar didepan para produser, sutradara dan distributor film international. Setelah World Premiere pada Oktober yang lalu di Pusan International Film Festival, Korea, 3Doa3Cinta berhasil lolos dalam Official Selection Competition di Dubai International Film Festival yang diselenggarakan tanggal 9-18 Desember 2008. 3Doa3Cinta terpilih dari sekitar 1800 film yang diterima oleh panitia festival. Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena sebelum film ini release di Indonesia sudah berhasil lolos dalam berbagai festival film di mancanegara.
Selain itu, di Festival Film Indonesia yang akan diselenggarakan di Bandung pada tanggal 12 Desember ini, 3 Doa 3 Cinta berhasil meraih 7 (tujuh) nominasi untuk kategori: skenario cerita asli (Nurman Hakim), penyuntingan (Sastha Sunu), tata suara (Khikmawan Santosa), tata musik (Djaduk Ferianto), pemeran utama pria (Nicholas Saputra), pemeran pendukung pria (Yoga Pratama) dan film secara utuh.
“Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, walaupun perlu diingat bahwa saya membuat film ini bukan untuk festival, melainkan untuk penonton. Film ini dibuat sangat ringan, sehingga penonton setingkat anak SMP pun dapat menikmati film ini, harapan saya agar penonton bisa mengerti juga nilai-nilai yang terkandung dalam film ini. ” tegas Nurman Hakim.
3Doa3Cinta merupakan produksi TriXimages dan Investasi Film Indonesia (IFI). TriXimages telah memproduksi antara lain “Bendera” dan terakhir “The Photograph” di tahun 2007. IFI sendiri telah membiayai lebih dari 6 film dan memproduksi antara lain Coklat Stroberi (2007), Radit dan Jani (2008) dan terakhir Coblos Cinta (2008).
Sebagian Harapan Nurman Hakim mungkin sudah tercapai. Tapi Bagaimana kehidupan Huda, Rian dan Syahid dalam film ini? terwujudkah segala impian dan harapan yang pernah mereka tulis di tempat rahasia itu ? Saksikan pada tanggal 18 Desember 2008, serentak di bioskop-bioskop kesayangan anda! (*)