HTI-HATI DENGAN HATIMU
Sedalam-dalamnya lautan masih bisa diselami, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Kita hampir tahu semua kalimat itu, bahwa kalimat tersebut seringkali diucapkan sebagian orang untuk menilai seseorang. Dalam hidup memang hati menjadi pengendali segala perbuatan. Dari hatilah semua keinginan itu muncul untuk dilahirkan. Dari hati juga prilaku manusia ditentukan.
Pementasan monolog “Hati-hati dengan Hatimu” di Auditorium IAIN “SMHB” Serang Jum’at-Sabtu (19-20/12), dengan aktor Nazla Toyib Amir yang disutradarai Goetheng Iku Ahkin setidaknya membicarakan tentang hati.
Naskah yang berdurasi kurang lebih 45 menit itu dipentaskan dengan kolaborasi tarian yang ditimpali musik rebana dan olahan musik digital. Jadilah tontonan yang menghibur dan pembelajaran tentang sejauh mana kita memahami hati kita.
Nazla telah mewakili hampir semua penonton perempuan bahkan mungkin penonton laki-laki. Ia bicara tentang keinginan hati dari yang paling dalam. Keinginan yang meloncat-loncat hingga lupa siapa dirinya. Keinginan berselingkuh dan memuaskan nafsu birahi hingga keinginan untuk menjadi seorang selebritis dan politikus. Semua diungkapkan dengan sedikit jenaka menggunakan bahasa lokal yang akrab. Apa lagi pementasan monolog yang tak berjarak dengan penonton, menjadikan naskah yang digarap Goetheng lebih hidup.
“Naskah ini menceritakan kegelisahan seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seseorang yang sedang berbicara dengan hatinya, maka segala hal menjadi terungkap, berlompat-lompat tidak berurutan, jujur, apa adanya. Persoalan pribadi, tapi bisa juga dialami oleh banyak pribadi,” jelas Goetheng yang juga sutradara dari “Kiamat Sudah Dekat 3” di salah satu statsiun TV swasta.
Pementasan Nazla di auditorium IAIN SMHB Serang, mengingatkan kembali pada pementasan perdananya di Serang beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2003 yang mementaskan Motinggo Busye dengan judul “Barabah”.
Sayang pementasan pada malam terakhir tata lampu tidak maksimal, dan membuat kurang gregetnya ekspresi wajahnya terlihat jelas. Tapi setidaknya pementasan pementasan Nazla akan menjadi catatan akhir tahun tentang perkembangan teater di Banten, khususnya di Serang. (Gito Waluyo/”FB”).