bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

December 23, 2008

PENTAS MONOLOG DARI ANONIMUS

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 8:03 am

Ditengah keprihatinan belum adanya Gedung Kesenian di Banten, teater AnonimuS terus mewarnai perkembangan keaktoran di Banten. Sebuah pentas monolog bertajuk “AENG” dan “BAIKLAH, AKU JATUH CINTA” dipersembahkan pada Senin (22/12) yang lalu di Auditorium IAIN SMH Banten. Terlepas dari apresiasi penonton kepada kedua aktor yang tampil pada malam itu, penghargaan patut kita berikan kepada Anonimus yang terus berupaya melahirkan aktor-aktor baru di dunia kesenian Banten.

“Menunggu terealisasinya Gedung Kesenian itu cukup melelahkan memang, namun Kegiatan kesenian di Banten harus jalan terus. Dengan lahirnya aktor-aktor baru, diharapkan proses alih generasi dapat berjalan dengan baik. Usaha pewarisan dan pengembangan kesenian oleh insan seni di Banten hendaknya senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Mari berbuat sesuatu, walaupun dengan kondisi apa adanya,” ujar Mahdiduri dari Teater AnonimuS.

Pentas monolog adalah sebuah peluang bagi seorang aktor untuk menunjukkan kemampuan keaktorannya diatas panggung. Meski ia masih berharap pada bantuan properti, tata lampu dan musik, penampilan monolognya tetap sepenuhnya mengandalkan kemampuan olah vokal, olah tubuh, penghayatan tafsir serta ekspresifikasinya ke dalam akting, sebagai aktualisasi pada segala makna dari naskah yang dibawakannya.

Hal ini cukup disadari oleh Wahyu Lebbu yang tampil pada sesi pertama, cahaya lampu sorot temaram yang menyinari kain hitam menjadi sentral sepanjang pertunjukan berlangsung diatas panggung. Tubuhnya terbaring, nampaknya ia tertidur. Sekejap dirinya terusik dan marah oleh suara gedoran yang terdengar bertubi-tubi dan semakin keras. Ia berceloteh, menanti kematian. Kemudian berdialog sambil bermain-main dengan topi dan sebuah piring. Entah disengaja atau tidak, monolog AENG yang dibawakan oleh pria kelahiran Pandeglang ini mengingatkan para penonton akan kisah perjalanan Imam Samudera yang dieksekusi 9 November yang lalu. “Kalau sudah menderita orang jadi penyair, kalau sudah kepepet orang mulai bernyanyi. Dan kalau ada yang hendak dirampok orang berdo’a…” cibirnya.

Meskipun aktor monolog memiliki bahan narasi, kegiatan monolog berpotensi pada penampilan yang monoton. Maklum, si aktor hanya berbicara dan memperagakan sendiri, dan tidak ada aktor lain yang menolongnya membangun intensitas atau mempertahankan konsentrasi berakting. Situasi ini yang menjebak Zaenal pada penampilan berikutnya yang termehek-mehek disamping sebuah kursi yangmenyesali diri karena begitu sombong untuk mengakui bahwa dirinya sudah jatuh cinta. Berbeda dengan Lebbu yang pernah mementaskan beberapa naskah, pada pementasan perdananya ini zaenal masih tampak canggung memanfaatkan lebar panggung yang kurang mendapat dukungan tata cahaya dengan baik. Walaupun masih malu-malu, akhirnya Zaenal cukup mampu meneriakkan “BAIKLAH, AKU JATUH CINTA”… tapi terlambat sudah.

Menurut Dadie, budayawan dan praktisi seni Banten, salah satu penyebab penonton tidak dapat merasakan muatan naskah sangat besar apabila si aktor hanya mengekspresikan diri dari sisi permukaannya saja tanpa melihat kedalaman karakter tokoh yang sebenarnya menjadi substansi monolog. “Maka yang terjadi pementasan itu hanya sekedar panggung dengan seorang yang terus-terusan berbicara dancCuma tertarik dengan ocehannya sendiri. Selain itu, musik dan setting jelas merupakan bagian penting sebuah pertunjukan yang akan membangun kosmologi panggung, tidak terkecuali lighting” ungkapnya.

Pentingnya eksplorasi naskah oleh sang aktor ini juga diamini oleh Nazla Thoyib, aktivis dan pencinta seni dari Banten. “Seburuk dan sebaik apapun naskah, tetap menjadi tanggung jawab sang aktor. Elemen-elemen dasar dari keaktoran harus dikuasai, misalnya bagaimana teknik bermain, teknik vokal dan sebagainya. Walaupun settingnya minimalis, aktor harus mampu berkomunikasi dengan penonton agar tetap hangat dan segar,” katanya.

Ditambahkan oleh Nazla, akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. “Dialog yang baik ialah dialog yang volumenya baik, artikulasinya juga baik, lafalnya benar, dan menghayati sesuai dengan tuntutan peran yang ditentukan dalam naskah. Demikian juga dengan gerak, blockingnya harus baik, tidak ragu-ragu dan dapat dimengerti. Jadi saya sarankan kepada semua aktor untuk terus berupaya menggali kembali kaidah-kaidah pertunjukkan. Ini sangat penting karena monolog itu bukan teaterikal yang ada lawan dialog, di dalam pementasan monolog, si aktor berkomunikasi langsung dengan penonton,” jelasnya.

Namun demikian, Nazla dan Dadie memberikan apresiasi kepada Teater AnonimuS yang mampu menghidupkan teater di Banten yang sangat menyedihkan. Yang terpenting untuk dicatat dalam pementasan ini adalah semangat dan keberanian para pemainnya yang luar biasa. Mereka berharap apa yang dilakukan oleh AnonimuS dapat menginspirasi pencinta seni yang lain untuk dapat berbuat sesuatu daripada terus berkeluh kesah sehingga dapat menggugah pemerintah untuk lebih memperhatikan dunia kesenian di Banten.

Menurut Mahdiduri, pementasan monolog “AENG” dan “BAIKLAH, AKU JATUH CINTA” ini merupakan rangkaian kegiatan dari upaya dirinya untuk membuka ruang yang seluas-luasnya kepada pelaku seni untuk berkarya, “Kami selenggarakan pementasan ini karena isinya tepat dengan situasi sekarang. Kami ingin penonton bisa menyimak dan memahami maknanya, sehingga mendorong masyarakat untuk lebih mencintai seni. Pada hari Rabu (24/12) kami akan menggelar konser deklamasi berjudul “Demi orang-orang Rangkasbitung” di Auditorium UNTIRTA jam 14.00 s.d 15.30. Bagi pemula, pementasan kali ini akan menjawab rasa penasaran akan perbedaan membaca puisi dengan deklamasi, kemudian apa kaitannya WS Rendra dengan Rangkasbitung, untuk mencari tahu jawabannya akan sangat menarik bila kita saksikan sama-sama,” terangnya. (*)



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment