bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

January 29, 2009

CERPEN: HUJAN DI WAKTU MALAM

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 4:18 am

Hujan di waktu malam yang Aku suka, dikotori oleh darah dari seorang lelaki yang belum selesai Aku rangkai puzzlenya. Seorang yang memperkenalkan dirinya ’Lelaki’. Tubuhnya telungkup dengan punggung tertembus peluru, lalu, air hujan menghanyutkan darahnya dan mencarikan lubang sisi jalan di bawah trotoar, dan terus mengalirkannya entah kemana. Lelaki yang menyisakan kalimat, ”Untuk keselamatan orang banyak, mestinya Kita dengan rela hati menjadi mortir”. Sungguh, Aku tidak mengerti.

Aku pandangi tubuhnya yang telungkup terdorong oleh dua peluru yang kemudian bersarang di punggungnya. Sesekali lampu mobil menunjukan lubang tempat peluru bersarang. Darah. Merah. Membuncah.

Siapa gerangan yang telah dengan sengaja menodai kecintaanku pada hujan di waktu malam, dengan letusan di tengah kelam, dengan peluru saat hujan, dengan darah pada jernihnya air.

Aku suka hujan, namun Aku benci kematian. Malam ini, Lelaki itu telah pergi, nyawanya dirampas dengan paksa oleh dua peluru. Padahal, teka-teki tentang lelaki itu masih terlalu sedikit untuk Aku simpulkan.

Pertama Aku dapati Lelaki itu di malam Bulan Desember saat hujan dengan rinainya yang lembut seperti tepung yang keluar dari ayakan. Lampu di perempatan tak dapat memperlihatkan wajahnya yang ditudung topi. Mengenakan jaket hitam pun celana dan sepatu kulit warna hitam.

Rasa ingin tahuku timbul, setelah pertemuan yang berulang-ulang tanp tegur sapa. Dia dengan pakaian yang dikenakan, dengan kebiasaannya, dan dengan keacuhannya pada hujan. Dia sama sekali tak perduli dengan angin yang mengusapkan air hujan pada wajahnya. Juga tak perduli saat ban mobil menyiramkan air yang tergenang pada pakaiannya.

Arah Kami bersilangan. Persilangan Kami selalu di tempat yang sama, pada jam yang sama. Untuk mengenalinya, Aku mencoba merubah ruteku dengan mengikuti rutenya.

Hujan cukup deras. Langkahnya tak berubah. Air hujan tampak panjang-panjang di bawah sinar merkuri yang ditembakkan kendaraan bermotor. Sesekali angin berembus pelan membuat air hujan seakan menari. Dengan angin itu, hujan menaburi wajah Kami. Dingin. Dalam. Menggetarkan.

”Mengapa Kamu berubah rute?” tanyanya saat Aku mulai mendekat.

”Aku ingin dapati sesuatu yang lain,” jawabku.

”Silakan Kamu duluan.”

”Apakah kehadiranku membuatmu terusik?”

”Tidak juga,” jawabnya, tanpa merubah irama langkahnya. Tak pernah Aku dapati raut wajahnya.

Lalu lalang kendaraan yang semakin cepat saat malam makin dalam. Garis putih median jalan menjadi penanda berharga bagi pengemudi yang lelah mata.

Lampu lalu lintas menyisakan warna kuning berkedip-kedip. Seseorang Aku dapati menari-nari di bawah lampu penerang jalan saat senyap. Mereka begitu menikmati. Tarian mereka meniru tarian para sufi, berputar ke kiri dengan tangan kanan terlentang dan tangan kiri ditekuk menunjuk ke atas, sesekali menengadah dengan mulut menganga, kemudian menelan airnya, dan tersenyum.

Aku terbiasa dengan perhatianku pada semua yang aku dapati selama perjalanan. Para pengisi malam dengan kegiatannya, Satpam yang tertidur di kursi pos jaga dengan kaki yang disilangkan di atas meja dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.

Pedagang sekuteng memarkirkan gerobaknya di samping halte. Kursi papan persegi panjang dengan beberapa pembeli. Para pembeli sengaja berlama-lama dengan semangkuk kecil sekutengnya.

Penjual nasi goreng keliling menjajakan dagangannya, menabuhi tepi piring memakai sendok. Terus berjalan hingga mendapati peminat.

Malam itu Aku tak mendapati apa-apa tentang dirinya.

Malam berikutnya, Aku dapati Dia sedang menyeruput kopi panas yang tersisa setengah gelas di warung pinggir jalan tepatnya di perempatan taman kota. Dia bergegas hendak pergi saat Aku akan duduk di sampingnya. Aku tidak berhasil.

Malam berikutnya lagi, Aku dului Dia di warung itu. Berbincang sebentar dengan pedagang tentang lelaki itu. Aku peroleh jawaban, ”kurang tahu, biasanya memang Dia mampir ke sini, tapi Aku tak mendapati apapun dari mulutnya, hanya suara hmm, lama-lama Aku malas bertanya”.

”Hanya itu?” tanyaku memastikan.

”Ya. Dan Dia selalu pergi saat ada yang duduk disampingnya, sambil meletakan uang sepuluh ribu,” jawab pedagang kopi berwajah keriput.

Sesaat Aku tunggui Dia. Saat muncul Dia tak menghentikan langkahnya meski hujan amat lebat malam itu. Aku pandangi Dia. Dari hembusan nafasnya terlihat kabut dingin diterpa sinar lampu penerang jalan. Aku bergegas mengikutinya.

”Aku tahu, Kamu mengikuti Aku. Apa perlunya Kamu?”

Aku gelagapan dibuatnya. Ternyata Dia membaca gerak-gerikku. Aku mencoba untuk tenang. Dan, dengan senyum Aku balas pertanyaannya.

Dia tak membalas. Wajahnya tertutup topi laks yang kenakannya. “Rupanya ada orang yang tertarik untuk memperhatikanku,” lanjutnya.

Aku jawabi Dia dengan senyum.

“Kamu bekerja di mana?” tanyanya.

Aku jawabi semua pertanyaannya. Hingga pada waktunya Aku ajukan pertanyaan-pertanyaan padanya.

Malam beranjak ditemani hujan dan sedikit angin yang mengibas-kibas tenda warung kopi. Lepas tengah malam, kami berpisah. Dia selalu mengambil jalan yang berlawanan arah dari jalan yang ingin Aku lewati. Aku tidak mau Kamu mendapati kesulitan karena berteman denganku, begitu ucapnya saat mengakhiri pembicaraan.

Hingga akhirnya menjadi rutin Kami bertemu. Dari sikapnya, Aku baca Dia begitu tertutup. Dari cara bicaranya, Aku yakin Dia orang yang tegas dalam prinsip. Dari perilakunya, Aku percaya Dia orang yang pemberani.

”Tak perlu Kami tahu siapa namaku dan dari mana asalku atau tempat tinggalku. Manusia dikenal dan dikenang oleh orang lain hanya dari kepribadian dan atas apa yang telah dilakukan,” jawabnya saat Aku menanyakan namanya.

”Lalu, Aku harus memanggil Anda apa?” tanyaku.

”Panggil saja Aku, ’Lelaki’”.

Aku tak pernah sekalipun melihatmu di waktu siang.”

”Sebagian orang melihat malam adalah sosok yang menakutkan, sebagian orang menggunakan malam sebagai gorden.”

”Aku suka hujan. Sepertinya Lelaki pun demikian.”

”Hujan mampu meredam emosi. Airnya mampu menghayutkan kegelisahan.”

”Di Kota ini, Lelaki tinggal bersama siapa?”

”Bersama perjuangan.”

”Apa yang ingin Lelaki perjuangkan?”

”Melepaskan masyarakat dari jerat para lintah darat.”

”Sudah dimulai langkah itu?”

”Sudah, dan akan terus dilakukan.”

”Apa saja yang telah Lelaki lakukan?”

”Telah Aku pisahkan lengannya dari tubuhnya.”

Terhenyak Aku dibuatnya.

”Negara tak mampu menyusun kebijakan ekonomi yang berkeadilan. Aparat telah gagal melindungi rakyatnya dari ganasnya cengkraman para rentenir. Hukum telah diperjualbelikan.”

”Tidakkah ada cara lain?”

”Bagi yang lain, pastinya ada. Tapi, bagiku inilah jalan satu-satunya.

***

Hingga akhirnya, Malam ini Aku dapati Dia telungkup bersimbah darah dengan punggung yang tertembus dua peluru yang disarangkan oleh entah siapa.

Hujan masih mengguyur dalam kelam berkabut dendam.

***

Oleh :Muhlisi, mahasiswa STIE Bina Bangsa Banten jurusan Akuntansi

Sangat menyukai Sastra dan cukup produkti dalam membuat Puisi dan Cerita Pendek

Berminat mengetahui karya-karyanya yang lain? hubungi 0813.8482.2765



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment