bantenmuda’s Blog






         Just another Friendster Blogs weblog

December 17, 2008

PIALA CITRA MOTIVASI VINO BERIKAN YANG TERBAIK

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:25 am

Jakarta - Ketidakhadiran Vino G. Bastian saat dinobatkan menjadi Pemeran Utama Pria Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008 dikarenakan sedang menderita gejala tipes. Ia merasa senang dirinya mampu meraih Piala Citra yang merupakan penghargaan tertinggi untuk insan film terbaik di tanah air.

“Saya sudah mengkonfirmasikan ketidakhadiran saya ke panitia, waktu itu saya juga minta maaf ke Pak Deddy Mizwar,” ujar Vino di Kantor IFI, Jl. Sampit IV No. 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/12). Hal ini sekaligus mengklarifikasi kabar yang tersiar kalau pria kelahiran Jakarta 24 Maret 1982 ini melecehkan ajang FFI 2008.

Pemeran Radit dalam film ‘Radit & Jani’ itu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya selama ini, “Penghargaan ini bukan klimaks, tetapi justru merupakan awal untuk saya menjadi lebih baik lagi dan bersaing dengan insan film lainnya,” ungkapnya.

Di akui oleh putra bungsu pengarang Bastian Tito penulis komik Wiro Sableng ini, kalau sekarang banyak pendatang baru yang memiliki talenta dan berkualitas sehingga persaingan di dunia film lebih kompetitif, “ini bagus dan Piala Citra memotivasi diri saya untuk terus meningkatkan kemampuan dan tetap bisa bersaing dengan mereka,” katanya.

Karir Vino diawali sebagai seorang model dan kemudian melebarkan sayapnya ke dunia film. Sebutnya saja debutnya di film 30 Hari Mencari Cinta yang membawa dirinya membintangi beberapa film, diantaranya berjudul Realita, Cinta dan Rock n Roll, Pesan dari Surga, Badai Pasti Berlalu, Coklat Stroberi, Tentang Cinta, Radit dan Jani, serta In The Name Of Love.

Selain Vino G Bastian yang meraih Pemeran Utama Pria terbaik di FFI 2008, Fahrani pasangan Vino dalam Film Radit dan Jani juga menyabet penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita terbaik. Film Radit dan Jani adalah produksi ke dua IFI (Investasi Film Indonesia). IFI adalah adalah sebuah perusahaan investasi film yang telah melakukan investasi terhadap film-film seperti Banyu Biru, Alexandria, Untuk Rena, dan Berbagi Suami. Mulai tahun 2007, IFI memproduksi filmnya sendiri. Film pertama IFI, Coklat Stroberi (sutradara Ardy B. Octaviand) memenangkan penghargaan dari Bali International Film Festival. Film keduanya, Radit dan Jani (sutradara Upi Avianto) sebelum meraih penghargaan di Festival Film Indonesia, juga meraih penghargaan dari Indonesia Movie Awards dan terakhir Coblos Cinta merupakan sebuah film yang bertaburan bintang. Bersama TriXimages, IFI memproduksi film berjudul 3 Doa 3 Cinta yang akan diputar 18 Desember 2008 di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Salah satu pemain 3 Doa 3 Cinta, Yoga Pratama meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Pria terbaik di FFI 2008 dan uniknya, sebelum di release di negeri sendiri, film ini lolos di berbagai festival di mancanegara. (*)

EKONOMI SYARIAH, SOLUSI TUNGGAL ATASI KRISIS KAPITALISME

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:21 am

Serang – Krisis keuangan global yang terjadi hingga detik ini belum menunjukkan tanda-tanda reda. Krisis yang dipicu oleh kredit macet di bidang properti (subprime mortgage) di AS itu kini menjalar ke mana-mana menimbulkan efek domino bagi perekonomian dunia. Negara-negara Eropa pun terkena getahnya dan secara kasat mata menerjang perekonomian Indonesia. Meski banyak pendukung kapitalisme masih tetap membelanya, namun tak bisa disangkal bahwa penyebab krisis finansial global adalah sistem kapitalisme itu sendiri.

Demikian disampaikan oleh Direktur Operasional SEM Institute, Mohammad Arif Yunus dalam Seminar Nasional Dampak Krisis Global di Indonesia di Untirta Banten, Selasa (16/12). “Ada tiga pilar utama pendukung sistem ekonomi kapitalisme yang memiliki internal toxic, yaitu pertama riba yang diwujudkan dalam bunga perbankan; kedua adalah judi yang mewujud dalam bursa saham dan pasar uang; serta yang ketiga sistem uang kertas dengan standar dollar US,” ungkapnya.

Dikatakannya, karena krisis finansial global ini disebabkan oleh persoalan sistem/ideologi, maka solusinya adalah dengan mengganti sistem/ideologi yang menjadi asas kegiatan ekonomi tersebut. “Perubahannya harus dilakukan secara revolusioner dan total, karena jika perubahannya hanya parsial saja, namun tetap menyandingkannya dengan sistem kapitalisme, niscaya efek sampingnya tak pernah hilang. Hegemoni kapitalisme tetap akan menguasai perekonomian dunia.”

“Karena itu, beberapa langkah solusi yang harus diterapkan adalah mencegah ketidakstabilan ekonomi dengan menghilangkan kegiatan riba; mencegah kegiatan spekulasi non-produkstif di pasar uang, pasar modal dan bursa berjangka komoditas; mengembalikan fungsi uang ke fungsi aslinya, bukan sebagai komoditi yang diperdagangka; dan mengatur sistem kepemilikan, misalnya khusus kepemilikan umum harus dikelola oleh negara dan tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta (privatisasi) dan hasilnya didistribusikankepada seluruh masyarakat dengan harga murah atau gratis, kenapa demikian? karena rakyatlah sejatinya pemilik kepemilikan umum tersebut,” terangnya.

Menurut Dosen Luar Biasa Ekonomi Syariah AMK Bogor ini, sistem keuangan dunia pun harus diganti dengan sistem keuangan Islam. Ada beberapa ketentuan pokok dalam sistem keuangan Islam, diantaranya penerapan mata uang emas dan perak sebagai standar satuan uang, dilarangnya riba dan aktivitas pembungaan uang, larangan penimbunan uang walaupan telah dikeluarkan zakatnya, larangan kegiatan spekulasi di pasar uang, pasar saham dan pasar berjangka komoditi, serta pemanfaatan harta Baitul Mal untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengatur distribusi kekayaan.

Menutup paparannya di acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Untirta ini, Mohammad Arif Yunus menganjurkan setiap muslim haruslah berusaha menjalankan kegiatan ekonomi dan finansial sesuai dengan ketentuan syariah meskipun itu berat. Upaya pendirian berbagai lembaga keuangan syariah adalah upaya untuk mewujudkan hal tersebut. Namun langkah itu tidaklah mudah serta mengalami banyak kendala. Hal ini karena sistem keuangan dunia sedang dikuasai oleh sistem kapitalis global. “Penerapan sistem keuangan syariah dalam lingkup yang lebih luas akan terkendala dengan sistem kapitalis yang penuh spekulatif dan ribawi. untuk itu harus ada sistem alternatif, yakni sistem Khilafah yang dapat mengemban pelaksanaan seluruh prinsip-prinsip keuangan syariah dengan sempurna,” tambahnya. (*)

December 11, 2008

3DOA3CINTA, ANTARA IMPIAN DAN HARAPAN

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 9:11 am

JAKARTA – Pesan Kedamaian dan Cinta akan mengalahkan segala bentuk Kekerasan dan Kebencian akan tersebar luas pada 18 Desember 2008 ini. Sebuah pembuktian bahwa Islam adalah agama yang damai, anti dengan kekerasan dan menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan beragama serta saling menghormati, menunjukan pula kalau pesantren penuh dengan nilai - nilai humanisme dan kedamaian, bukan tempat teroris seperti yang diperkirakan oleh orang-orang barat.

Harapan ini disampaikan seorang sutradara muda Nurman Hakimlewat film layar lebar perdananya yang berjudul 3Doa3Cinta. Setelah banyak membuat film pendek dan salah satu diantaranya pada tahun 2003 berhasil memenangkan festival film independent, Nurman Hakim kembali menulis dan menyutradarai 3Doa3Cinta dengan proses penulisan kurang lebih dua tahun. “Waktu pertama kali saya menulis film ini, terinspirasi dari tragedi WTC 11 September. Setelah saya menulis, ternyata script saya ini berhasil mendapatkan beberapa grant, dari Global Film Initiative di San Fransisco, Amerika Serikat; Goteborg International Film Festival Fund di Swedia dan Fond Sud Cinema di Perancis. Judul aslinya adalah Pesantren, biar lebih akrab saya buat menjadi 3Doa3Cinta,” terangnya.

Saya memang pernah tiga tahun hidup di Pesantren, 3Doa3Cinta adalah film yang bercerita tentang proses pendewasaan santri yang dididik secara Islam dalam memahami kehidupan diluar pesantren. Saya mau berbicara tentang dunia pesantren di Indonesia yang penuh cinta dan kedamaian. Disini saya mencoba ingin menepis anggapan bahwa pesantren itu tempat orang-orang yang radikal, ceritanya sendiri sangat menyentuh dan dalam film ini kita dapat melihat potret kehidupan di pesantren yang diwarnai dengan cinta, ibadah, persahabatan, dan nilai kemanusiaan” ujar Nurman Hakim yang saat ini masih aktif sebagai pengajar di Fakultas Film dan Televisi, IKJ.

Kelebihan film ini, cenderung untuk menonjolkan kepada hubungan manusiawinya. Bagaimana kehidupan ketiga santri yang masih remaja menjadi tokoh ceritanya sehingga terlihat unik untuk dieksplorasi. Menampilkan bintang-bintang muda yang memiliki talenta seperti Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama dan Yoga Bagus, film ini bercerita tentang tiga orang sahabat, Huda, Rian dan Syahid, tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka.

Huda (Nicholas Saputra), adalah santri yang patuh pada gurunya, Kyai Wahab yang telah mengasuhnya sejak ibu kandungnya meninggalkannya begitu saja di pesantren itu. Huda mulai merencanakan hidupnya di luar pesantren nanti. Yaitu mencari ibunya yang kabarnya berada di suatu tempat di Jakarta. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang sangat seksi ketika di panggung dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta.

Rian (Yoga Pratama) santri dari suatu kota besar. Dia mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Rian seolah melihat dunia baru dari balik viewfinder, ia asyik merekam berbagai peristiwa yang ada di lingkunganya. Rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa itu membuat Rian semakin obsesif terhadap kamera.

Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Karena situasi sosial dan psikologis dirinya, membuat Syahid tergabung dalam kelompok islam garis keras yang berada di luar pesantren. Terlebih ketika sawah milik orang tua Syahid dibeli paksa oleh sebuah perusahaan ternama milik Amerika untuk dijadikan pabrik. Syahid merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya.

Kepada Banten Muda, Dian Sastro mengungkapkan kekecewaannya pada media yang menyamakan dirinya dengan film Mendadak Dangdut yang dibintangi Titi Kamal. ”Saya mendukung film ini karena aku suka film ini, banyak inspirasi dan pesannya besar sekali, suatu kehormatan bagi saya bisa terlibat dan film ini perlu ditonton oleh banyak orang,” tukasnya.

Main dengan Dian tentunya menyenangkan sekali, karena kita sudah kenal satu sama lain, sudah tahu juga cara kerja masing-masing, jadi sudah paham dan tidak menemukan kesulitan juga dalam komunikasi” ungkap Nicholas Saputra.

Sementara Yoga Bagus menambahkan bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan di Pesantren sehingga tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam mengikuti film ini. Namun sebagai pendatang baru, Yoga juga banyak belajar dari rekan-rekannya yang lebih senior.

Walaupun proses penggarapan skenarionya memakan waktu lebih dari 3 tahun, Proses shooting filmnya sendiri hanya membutuhkan waktu 16 hari, yang dilakukan selama bulan April-May kemarin. Sebuah waktu yang terhitung singkat karena shooting film ini dilakukan di beberapa kota, Jakarta, Yogyakarta dan Magelang. Waktu yang padat ini tidak menjadikan film ini dibuat dengan seadanya. Seluruh kru film tetap serius dan total. Profesionalitas dan efektivitas kerja membuat film ini selesai tepat pada waktunya.

Di film ini kita bisa lihat bagaimana Nicholas Saputra begitu menjiwai perannya sebagai seorang santri yang jatuh hati dengan penyanyi dangdut keliling, yang diperankan sangat apik oleh Dian Sastro yang juga melantunkan 2 buah lagu dangdut,” ujar produser film, Adiyanto Sumarjono.

Untuk mendalami peran sebagai penyanyi dangdut kampung, setiap hari aku dengerin lagu-lagu dangdut, aku juga belajar joget dangdut. Aku dengerin semua lagu dangdut, diantaranya lagu pemenang-pemenang KDI, itu semua aku dengerin, kemudian setiap hari aku juga dengerin lagunya Ike Nurjanah dan Iyet Bustami,” jelas Dian.

Kerja keras itu pun mulai membuahkan hasil, pada bulan Mei yang lalu, 3Doa3Cinta diundang ke Cinema du Sud di Cannes Film Festival di Perancis dimana film ini diputar didepan para produser, sutradara dan distributor film international. Setelah World Premiere pada Oktober yang lalu di Pusan International Film Festival, Korea, 3Doa3Cinta berhasil lolos dalam Official Selection Competition di Dubai International Film Festival yang diselenggarakan tanggal 9-18 Desember 2008. 3Doa3Cinta terpilih dari sekitar 1800 film yang diterima oleh panitia festival. Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena sebelum film ini release di Indonesia sudah berhasil lolos dalam berbagai festival film di mancanegara.

Selain itu, di Festival Film Indonesia yang akan diselenggarakan di Bandung pada tanggal 12 Desember ini, 3 Doa 3 Cinta berhasil meraih 7 (tujuh) nominasi untuk kategori: skenario cerita asli (Nurman Hakim), penyuntingan (Sastha Sunu), tata suara (Khikmawan Santosa), tata musik (Djaduk Ferianto), pemeran utama pria (Nicholas Saputra), pemeran pendukung pria (Yoga Pratama) dan film secara utuh.

Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, walaupun perlu diingat bahwa saya membuat film ini bukan untuk festival, melainkan untuk penonton. Film ini dibuat sangat ringan, sehingga penonton setingkat anak SMP pun dapat menikmati film ini, harapan saya agar penonton bisa mengerti juga nilai-nilai yang terkandung dalam film ini. ” tegas Nurman Hakim.

3Doa3Cinta merupakan produksi TriXimages dan Investasi Film Indonesia (IFI). TriXimages telah memproduksi antara lain “Bendera” dan terakhir “The Photograph” di tahun 2007. IFI sendiri telah membiayai lebih dari 6 film dan memproduksi antara lain Coklat Stroberi (2007), Radit dan Jani (2008) dan terakhir Coblos Cinta (2008).

Sebagian Harapan Nurman Hakim mungkin sudah tercapai. Tapi Bagaimana kehidupan Huda, Rian dan Syahid dalam film ini? terwujudkah segala impian dan harapan yang pernah mereka tulis di tempat rahasia itu ? Saksikan pada tanggal 18 Desember 2008, serentak di bioskop-bioskop kesayangan anda! (*)

GERAKAN RAKYAT ANTI KORUPSI DARI UNTIRTA

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 9:09 am

SERANG - Sebagai tindak lanjut dari Pendidikan Anti-Korupsi untuk Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untirta pada 20 November 2008 yang lalu, bertepatan dengan Peringatan Hari Anti-Korupsi se-Dunia, telah di deklarasikan Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERASI) Untirta.

Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta Soeroyo mengatakan, Gerasi merupakan Lembaga Otonom bentukan BEM Untirta dan telah beranggotakan sekitar 60 mahasiswa. “Sebelumnya mereka telah mengikuti Training of Trainer (TOT) Pendidikan Anti-Korupsi selama tiga hari. Setelah dibekali, mereka pun melakukan kampanye dari sekolah ke sekolah dan alhamdulillah mendapatkan respon yang baik,” ujarnya.

Kepada Banten Muda, Herbert Nababan dari KPK mendukung penuh terbentuknya Gerasi Untirta yang telah dideklarasikan di Kantor KPK yang dipandu oleh Ketua KPK Antasari Azhar. “KPK memang memiliki program TOT ke kampus-kampus di Indonesia. Dan selama dua tahun perjalanannya, sudah terbentuk beberapa komunitas pelajar dan mahasiswa untuk mendukung gerakan anti korupsi,” tukasnya.

Dikatakan oleh Herbert, program TOT ini adalah salah satu upaya pencegahan korupsi yang dilakukan oleh KPK ke semua jenjang masyarakat. “Dalam TOT itu, kita perkenalkan, apa itu KPK, bagaimana tupoksinya, apa itu korupsi berikut dampak-dampaknya. Kita juga paparkan bagaimana peran kaum muda dalam upaya pemberantasan korupsi, diantaranya yang menarik adalah adanya film dokumenter sumbangan dari anggota masyarakat bernama Leksi yang menyoroti apa dan bagaimana korupsi di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Kita juga samakan persepsi, apakah perilaku korupsi itu suatu budaya atau membudaya? kita juga bagikan buku panduan bagaimana memahami dan melawan korupsi, disitu kita akan temukan beberapa definisi korupsi. Tapi intinya, mau dilihat dari sudut pandang apapun, korupsi itu adalah tindakan yang salah karena merugikan negara dan membuat sengsara orang lain,” terangnya.

Kendati demikian, Soeroyo menjelaskan Gerasi mempunyai keterbatasan wewenang. “Tugas kami hanya mencegah tindak korupsi, dan pencegahan itu harus dilakukan sejak dini. Ingat, menyontek, titip absen, bolos, jam karet dan berbohong merupakan hal-hal yang termasuk dalam tindakan korupsi. Namun kita tetap berkonsultasi dengan KPK, silahkan hubungi kami apabila ada masyarakat yang ingin mengadukan tindak korupsi.” ungkapnya.

Rabu (10/12), Gerasi dan BEM Untirta mengadakan kampanye anti korupsi ke sejumlah titik keramaian di Kota Serang dan Cilegon. Para mahasiswa tersebut melakukan orasi dan membagi-bagikan stiker bertuliskan ‘Awas Bahaya Laten Korupsi’ di Kampus Untirta, Perempatan Ciceri, Alun-alun, Mall Serang, Royal, Pemprov Banten, Pemkot, Pemda, Kampus Fakultas Teknik Cilegon dan Mayofield Mall Cilegon.

Menurut Herbert, tidak perlu ragu dan takut untuk melaporkan tindak korupsi di sekitar kita. “Sepanjang pelapor tidak mempublikasikan diri, identitas dan keselamatan diri si pelapor sepenuhnya akan dilindungi oleh KPK. Pengaduan bisa disampaikan ke KPK lewat surat melalui Kotak Pos 575, Jakarta 10120, bisa juga melalui email di pengaduan@kpk.go.id, telpon di 021-25578389 atau sms di 08558575575.” (*)

November 26, 2008

Jasa Raharja Banten dan STIE Bina Bangsa Banten Gelar Pelatihan Kewirausahaan Bagi Mitra Binaan

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 4:21 am

Untuk meningkatkan usaha sektor kecil dan menengah (UMKM) PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Banten menggelar Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Diri Kewirausahaan yang dilaksanakan di Hotel Mahadria Serang pada Senin, 24 November 2008. Kepala Cabang asuransi Jasa Raharja (Persero) Banten mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan para pengusaha mikro, kecil dan menengah hingga mampu menjadi wirausaha yang unggul, mandiri dan profesional sesuai bidang usahanya. Acara ini terselenggara bekerjasama dengan STIE Bina Bangsa Banten.

“Semangat dan kemauan saja tidaklah cukup dalam membangun sebuah kesuksesan di kalangan pengusaha mikro, kecil dan menengah. Kita bisa lihat kesuksesan yang sudah diraih para pengusaha saat ini karena mereka didukung dengan pengetahuan manajemen yang baik. Untuk itu, selain memberikan pinjaman modal usaha, PT. Jasa Raharja (Persero) juga memberikan pelatihan manajemen keuangan, yang tentunya sangat berguna bagi pengusaha UMKM dalam mengelola dan mengembangkan usahanya ke depan,” ujar Kepala Cabang asuransi Jasa Raharja (Persero) Banten.

Ditengah Pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Diri Kewirausahaan, Kepala Cabang asuransi Jasa Raharja (Persero) Banten menjelaskan, kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta dari Mitra Binaan ini sangat penting dan strategis dalam membantu sektor usaha kecil dan mikro di Banten. “Tantangan pembangunan yang kita hadapi akan semakin berat dan kompleks, di mana senantiasa berhadapan dengan dengan dunia persaingan. Sebagai pelaku ekonomi yang langsung berhadapan dengan masyarakat, pengusaha kecil, mikro dan menengah perlu mempersiapkan diri untuk meraih kesempatan di era kompetitif ini. Kita harus memperbaiki sumber daya manusia dan bertindak secara profesional sehingga posisi usaha kecil dapat bersaing dengan pelaku-pelaku ekonomi lainnya. Dan pelatihan ini merupakan salah satu upaya Jasa Raharja dalam membantu pengusaha UMKM guna mewujudkan hal itu,” tambahnya.

Sementara itu Ketua STIE Bina Bangsa Banten, Furtasan Ali Yusuf mengatakan, “Pelatihan dengan metoda partisipatif ini merupakan kerjasama yang kedua dengan PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Banten dan akan melibatkan enam fasilitator yang akan memberikan pengayaan wawasan dan ilmu dalam hal akuntansi dan manajemen pengelolaan keuangan. Peserta juga akan akan dibekali bagaimana melakukan perencanaan pengembangan usaha dan memahami manajemen pemasaran dan penjualan.”

Menurut Furtasan, usaha kecil dan menengah mempunyai peran sangat penting, terutama sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi dan sebagai sumber inovasi, “pada awalnya pengusaha kecil dan menengah lebih dilihat sebagai pembuka kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, namun seiring dengan semakin gencarnya proses globalisasi, usaha kecil dan menengah sangat diharapkan dapat berperan seperti di negara-negara maju yakni sebagai salah satu sumber penting peningkatan ekspor non migas.”

Sedemikian pentingnya kaitan usaha kecil dengan manajemen, Furtasan memandang untuk memahami seluk beluk usaha kecil diperlukan pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan ilmu ekonomi serta konsep-konsep pokoknya agar usaha kecil dapat dikelola dengan baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diinginkan, “Untuk itu kami dari STIE Bina Bangsa Banten telah menyiapkan tim yang akan membantu meningkatkan keterampilan manajerial dari para pengusaha kecil dan menengah mitra binaan PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Banten. Tidak hanya itu, untuk mewujudkan visi dan misi usaha serta memperoleh keunggulan bersaing dan survaivel dalam menjalankan usahanya, peserta juga akan dibekali bagaimana membangun jiwa entrepreneurship dan problem solvingnya.” (*)

November 10, 2008

HARI PAHLAWAN: KOBARKAN SEMANGAT JUANG GENERASI MUDA

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 11:06 pm

Generasi Muda dalam konteks sekarang, harus mampu meneruskan perjuangan para Pahlawan yang rela mengorbankan harta, benda, jiwa dan raga demi keutuhan bangsa dan negaranya. Peringatan hari Pahlawan pada 10 November 2008 dapat dijadikan momentum yang baik untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Mulai saat ini harus diniatkan dalam hati untuk membangun negeri dengan dilandasi semangat dan nilai kepahlawanan. Kalau mau belajar dengan sungguh-sungguh dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, kedepan kita akan mampu menjadi bangsa yang besar dan sejajar dengan bangsa lain yang sudah maju,” ujar Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah usai ziarah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ciceri Serang, kemarin (10/10). Hadir pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Banten HM Masduki, Sekretaris Daerah Provinsi Banten Muhadi, Bupati Serang Taufik Nuriman, Penjabat Walikota Serang Asmudji HW, sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov Banten, Pemkab Serang dan Pemkot Serang, unsur TNI AD, TNI AL, kepolisian dan para tamu undangan lainnya.

Ditempat yang sama, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten mengadakan refleksi hari pahlawan. Sekitar 50 Mahasiswa melakukan orasi, mengheningkan cipta dan tabur bunga di makam pahlawan. ”Jangan sekali-kali melupakan sejarah, perjuangan keras dari mereka harus memotivasi generasi muda untuk memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga dalam pembangunan bangsa ini. Orientasi perjuangan mahasiswa harus berubah dari dunia politik ke pangabdian masyarakat,” ungkap Soeroyo, Presiden Mahasiswa Untirta.

Sementarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memilih untuk berunjukrasa di depan kantor Gubernur Banten. Aksi damai ini diwarnai dengan longmarch, teatrikal perjuangan pahlawan tempo dulu dan orasi yang menyatakan keprihatinan atas semangat kepahlawanan yang mulai memudar. Mereka menghimbau pemerintah dan berbagai elemen masyarakat untuk mengobarkan kembali semangat juang sesuai dengan profesi masing-masing, kurangi ketergantungan pada pihak asing dan mampu berpijak diatas kaki sendiri. Dalam kesempatan itu disinggung juga soal kurangnya perhatian terhadap para veteran di Provinsi Banten.

Masih dalam rangkaian peringatan hari pahlawan, puluhan tamu undangan dari aktivis pemuda, tokoh masyarakat, akademisi, pelajar dan sejumlah pejabat SKPD menghadiri Saresehan Antar-Generasi di Aula Setda Pemprov Banten. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Pemprov Banten ini menghadirkan Direktur Utama LKBN Antara Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Direktur Bank Muamalat Indonesia Udin Saefudin Noer, Kepala BPH Migas Tubagus Haryono dan Rektor IAIN Banten Prof Dr. MA Tihami.

Dengan tema ’Perspektif Pembangunan Banten 20 Tahun ke Depan’, para pembicara yang semuanya lahir di Banten ini sepakat bahwa Banten harus mempunyai mimpi 20 tahun ke depan. Berani merangkai mimpi jangka panjang merupakan suatu prestasi, karena dengan mimpi itu kita akan berfikir bagaimana melangkah maju dan mengembangkan seluruh potensi alam di Provinsi Banten yang sangat kaya. Untuk meraih mimpi itu, Sumber Daya Manusia di Banten harus sudah disiapkan dari sekarang. ***

November 9, 2008

THE SHAMAN

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 1:21 am

Setelah beberapa kali tertunda penayangannya, film THE SHAMAN akhirnya siap dirilis di bioskop mulai 13 November. Produksi bersama Pendulum Filmworks dan Indika Entertainment yang mengangkat tema penjualan organ dan human trafficking ini termasuk salah satu film paling ditunggu tahun ini. “Paling tidak kita lihat dari animo yang terpantau di sejumlah forum internet seperti kaskus, kafegaul, lautanindonesia hingga forumdetik, “ kata Ayu Anggreni selaku marketing manager. Rencana semula, film THE SHAMAN akan diputar terlebih dulu di luar Jakarta yang menjadi strategi unik dari tim publicist dan marketing. Namun melihat animo yang cukup besar, diputuskan akhirnya film tersebut akan diputar serentak di seluruh Indonesia.

Dikisahkan seorang dokter muda bernama Ryan ditugaskan di sebuah klinik di sebuah desa yang dekat dengan Sendawar, Kutai Barat. Beberapa kejadian aneh menghampirinya tak lama setelah ia berdiam di desa itu. Penampakan seorang gadis dengan wajah penuh luka, orang – orang dengan luka di perut seperti dioperasi hingga hilangnya beberapa penduduk secara misterius membuat Ryan makin tersudut. Ditambah lagi dengan sikap penolakan beberapa tokoh terkemuka di desa tersebut.

Menyadari kondisi yang tak menguntungkan, Ryan mengundang 2 orang sahabatnya, Deny dan Hasan. Sayangnya kehadiran 2 sahabatnya ini tak membawa pengaruh positif. Pengalaman mendebarkan dan tragedi malah menimpa mereka di tengah belantara kelam hutan Kalimantan.

THE SHAMAN mengedepankan Oka Antara (pemeran Syaiful dalam Ayat – Ayat Cinta) sebagai bintang utama. Oka yang sebelumnya bermain meyakinkan dalam Gue Kapok Jatuh Cinta dan Hantu ini dipasangkan dengan bintang muda, Farah Debby (jebolan Gadis Sampul yang kini juga merambah dunia akting). THE SHAMAN juga didukung Vicky Nitinegoro, Kemal Mochtar, Piet Pagau, Julia Perez, Kamidia Radisti dan Dirly Idol.

Menjelang rilisnya, THE SHAMAN juga terpilih sebagai salah satu film paling dinantikan versi Detikhot di ajang Indonesia International Fantastic Film Festival 2008 (berlangsung di Jakarta pada 14 – 23 November dan Bandung pada 28 – 30 November). THE SHAMAN difavoritkan dengan sejumlah film kaliber internasional seperti The Spirit yang disutradarai Frank Miller (Sin City, 300) dan Time Crimes yang berasal dari Spanyol. (Ichwan Persada).

November 3, 2008

WUSHU THE YOUNG GENERATION

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 7:26 am

Pada 18 Oktober lalu aktor laga sekaligus produser Jackie Chan bersama sutradara sekaligus koreografer adegan aksi laga asal Australia peraih penghargaan International Antony Szeto serta seluruh pemain film Wushu antara lain; aktor laga gaek Sammo Hung, Liu Feng Chao (peringkat 6 permainan pedang dan tombak kompetisi di Hebei 2003 sampai 2005), Wang Wen Jie (seorang pemain wushu profesional lulusan Songjiang Wushu School, salah satu sekolah wushu terbaik di Cina), Wang Fe, Zhang Jin (Grup Yuen Clan 1998 sebagai pemeran pengganti dan sutradara bela diri) dan Mao Jun Jie berada di Beijing saat digelarnya acara gala premiere dan press confrence film Wushu. Film yang telah release di Hongkong, Cina 23 Oktober lalu ini sarat dengan pesan agar para generasi muda bekerja keras dalam berlatih bela diri dan membantu melestarikan olahraga wushu.

Untuk mempromosikan film yang diproduksinya ini, Jackie Chan mengajak para pemainnya yang tidak lain adalah para atlet muda Wushu profesional ke Festival Film Cannes di Prancis bulan Mei lalu. Dengan berjalan bersama-sama di karpet merah dan membiarkan para pemainnya mendemonstrasikan keahlian mereka di depan seluruh media Nasional dan Internasional, hal tersebut cukup menarik perhatian besar.

Sutradara Antony Szeto yang juga koreografer adegan aksi laga dan teknik beladiri di film ini mengatakan; “film ini hanya menampilkan adegan pertarungan yang sebenarnya, hampir tanpa special efeck, film ini dimainkan secara jenius oleh aktor/pe-Wushu- muda yang berbakat dan luar biasa”.

Wushu bercerita tentang Li Er, seorang anak muda yang memiliki talenta sebagai seorang petarung Sanda (Chinese Kick Boxing) yang jatuh cinta kepada seorang gadis cantik yang sedang berlatih Wushu bersama seorang aktor laga internasional Jet Li.

Untuk merayu gadis tersebut Li Er berpaling dari keinginan gurunya yang menginginkannya menjadi petarung Sanda sejati. Demi cintanya tersebut Li Er berjuang mati-matian mempelajari Wushu dan rela melepaskan gelarnya sebagai petarung Sanda profesional untuk menjadi atlit Wushu seperti gadis pujaannya. Pada saat yang bersamaan timbul konflik karena Li Er juga harus berusaha mempertahankan nilai pelajarannya agar tidak dikeluarkan dari sekolah.

Selain informatif dan mengandung pesan yang dapat memotifasi generasi muda untuk selalu giat berlatih dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, film ini sangat menarik dan tetap ringan untuk ditonton seluruh kalangan. Masih dalam masa tayang di Cina, kini film Wushu akan segera tayang di Blitzmegaplex seluruh Indonesia. Nantikan dan jangan lewatkan Wushu The Young Generation. *** (oz2008)

November 1, 2008

“INDONESIA- JAPAN EXPO 2008”

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 7:19 am

JAKARTA, 1 November 2008 – Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono bersama dengan Ketua Asosiasi Indonesia Jepang yang juga mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuo Fukuda, secara resmi membuka pameran INDONESIA-JAPAN EXPO (IJE) 2008, Sabtu, 1 November 2008, di arena JIExpo PRJ, Kemayoran, Jakarta. Pameran ini akan diselenggarakan selama sembilan hari, 1-9 November 2008.


Turut hadir menyaksikan acara pembukaan IJE 2008, Presiden Komisaris Kompas Gramedia Group, Jakob Oetama dan Ketua Panitia Nasional Peringatan 50 Tahun Hubungan Indonesia Jepang, Ginanjar Kartasasmita.
Kegiatan Expo ini diselenggarakan oleh dua media utama dari masing-masing negara yaitu harian Kompas dan harian ekonomi Nikkei sebagai penggagas utamanya.

IJE 2008 dibuat dengan berbagai kegiatan mulai dari pameran, seminar dan diskusi hingga pergelaran seni dan budaya serta pertemuan berbagai komunitas. Ini merupakan salah satu dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun emas (50 tahun) hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Jepang yang sebelumnya telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Pangeran Akishino, pada 20 Januari 2008 di Taman Mini Indonesia Indah. Moment ini bertepatan dengan tanggal penandatanganan traktat perdamaian Indonesia-Jepang yang terjadi pada 20 Januari 1958


“IJE 2008 merupakan pameran terlengkap yang tidak saja menampilkan pameran bisnis, tetapi juga pameran seni budaya yang interaktif yang melibatkan dua bangsa. Selain itu pameran ini juga menjadi ajang reuni para mahasiswa dan expatriat untuk kembali duduk satu meja merumuskan masa depan bangsa ke arah yang lebih baik sesuai dengan filosofi tema acara ini,
Grow together, redefining a better tomorrow,” kata Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, pada pembukaan acara IJE 2008 yang berlangsung, Sabtu 1 November 2008 di Arena PRJ Kemayoran, Jakarta.

Senada dengan Agung, Shiro Saito, Managing Director Nikkei mengatakan, “Sinergi yang terbentuk dari interaksi dan kolaborasi budaya kedua negara pada pameran ini akan menjadi sebuah dasar penting guna saling memahami dari hati ke hati dan membangun kesepahaman di masa mendatang untuk lebih baik lagi dan menumbuhkan rasa mencintai budaya antara kedua negara.”

Pameran IJE 2008 yang berlangsung di Hall A dan Hall B JIExpo kemayoran ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai perusahaan Jepang, institusi, dan komunitas yang beroperasi di Indonesia. Expo ini diharapkan menjadi pusat informasi tentang berbagai produk industri, teknologi, komoditas, dan budaya antara Indonesia dan Jepang.

Pada acara pembukaan IJE 2008, pemerintah Jepang memberikan penghargaan kepada 15 badan/institusi dari Indonesia yang dianggap berjasa dalam rangka memajukan hubungan antara kedua negara.

Simposium & Seminar

Dalam IJE 2008 diselenggarakan juga serangkaian kegiatan Simposium dan seminar yang digelar dengan tajuk; “Japan-Indonesia Symposium (1 Nov ‘08)”, “Panel Discussion (2 Nov ‘08)”, “Indonesia-Japan Seminar (3&4 Nov ‘08)”, “JBIC Partnership Seminar in Asia (4 Nov ‘08)”, dan “National Investment Seminar (4 Nov ‘08)”.

Acara ini sangat menarik dan berbobot karena dihadiri langsung oleh mantan perdana menteri Jepang, Yasuo Fukuda yang akan berbagi pengalaman, sebagai keynote speaker dalam Indonesia –Japan Seminar bertajuk “50 Years of Heartfelt Ties & Strategic Partnership for The Future”. Seminar ini diadakan selama dua hari pada 3-4 November 2008, atas prakarsa Kedutaan Besar Jepang bekerja sama dengan PPIJ, Persada, CSIS, dan CIDES.

Pesta Rakyat Antar Dua Negara

Pada kesempatan yang sama, selain menggelar pameran produk ekonomi dan bisnis dari perusahaan-perusaha an dan institusi, ataupun seminar dan simposium, IJE 2008 menggelar pesta seni budaya rakyat dengan format yang menghibur. Acara - acara yang menarik untuk publik khususnya anak muda adalah Harajuku Street Competition yang memadukan mix & match gaya berpakaian ala Jepang, model rambut dan makeup; Indie J-band Competition acara ini akan berlangsung mulai 4-7 November ‘08 dimana group band peserta wajib menyanyikan 1 lagu Jepang dan 1 lagu dari Indonesia; Miku-miku Dance Competition sebuah kompetisi tarian (dance) yang mengharuskan peserta mengikuti gerakan tarian seperti yang ada di layar video; serta Street & Talent Performance serta beberapa acara lainnya.

Komunitas penyuka komik Jepang atau Manga akan hadir di IJE 2008 dan diharapkan bisa memberi nuansa berbeda. Khusus untuk manga, Indomanga yang digandeng panitia akan memamerkan karya-karya manga hasil gambar anak-anak Indonesia dan Kompetisinya akan diadakan pada 8 November 2008 dengan mengangkat tema Fanart X Japan.

Workshop atau seminar tentang manga juga akan digelar dan terbuka untuk umum. Acara workshop ini akan menjadi satu acara yang ditonjolkan karena menjadi ajang untuk memperkenalkan lebih dekat manga dan komunitasnya di Indonesia. Kesempatan tampil dalam IJE 2008 memang menjadi momentum yang menarik untuk manga. Diharapkan mereka yang sudah profesional, amatir atau baru belajar manga, bisa saling memberikan informasi dan bertukar ilmu. Aneka budaya Jepang lainnya yang ditampilkan adalah cosplay, anime, fashion harajuku, Japan Martian Art, Obake (rumah hantu), Japan Doll Exibition, Origami Workshop,Para- Para Dance, Fun Art, Karaoke, Igo, Taiko, Mini Studio, Ikebana, dll.

Budaya dari Indonesia yang ditampilkan antara lain; Indonesian Dance Performance yang menampilkan Reog Ponorogo, Kuda Lumping, Debus, Sisingaan dan Pencak Silat. Kompetisi 5 games tradisional Indonesia seperti; Balap Enggrang, Gobak Sodor, Sonda, Congklak, dan Balap Kaleng. Selain itu ada juga acara yang memadukan kolaborasi budaya kedua negara Fashion Show Kimono-Batik, yang mengkolaborasikan antara busana khas Jepang, Kimono dan kerajinan khas Indonesia , Batik. Dengan adanya sinergi budaya antara kedua negara, diharapkan makin mencintai budaya dari kedua negara.

Shinkansen dan Teknologi Jepang

Jepang saat ini masih menjadi barometer teknologi dunia. Teknologi kereta api super cepat Shinkansen yang memukau dunia akan hadir di IJE 2008 dan para pengunjung dapat merasakan sensasinya. Melalui wahana Shinkansen 3D yang berada di Hall B, berdaya tampung 600 orang, pengunjung akan disuguhi tontonan realistik berdurasi 8 menit seolah-olah berada di atas kereta Shinkansen sungguhan, dan 8 menit selanjutnya sensasi pengunjung berganti, mereka akan dibawa ke tempat-tempat wisata terindah di Jepang. Pertunjukan ini menggunakan kacamata 3D dengan layar setinggi 4,5 meter dan lebar 7,5 meter. Pertunjukan penuh sensasi ini akan diputar dua kali dalam satu jam dan berlangsung mulai dibukanya pameran IJE hingga berakhir pada 9 November 2008.

Salah satu acara utama perayaan IJE 2008 adalah Robot Contest yang akan digelar pada tanggal 9 November 2008. Sebanyak 10 tim dari dalam negeri ( Indonesia ) dan 2 tim dari Jepang yang semuanya berasal dari perguruan tinggi, akan mengikuti kontes ini. Untuk tahun ini peserta kontes ditentukan berdasarkan undangan yang disepakati oleh pihak JICA. Tema kontes diambil dari gabungan KRI (Kontes Robot Indonesia) yang mensyaratkan sistem pertandingan berhadap-hadapan, dan KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) yang melombakan robot berdimensi kecil yang berfungsi – secara sendiri-sendiri - untuk memadamkan api lilin.

Representasi kemajuan dan keunggulan teknologi juga ditampilkan oleh beberapa pabrikan otomotif yang turut serta pada pameran ini dengan mengusung teknologi ramah lingkungan antara lain teknologi fuel cell (listrik) dan hybrid (gabungan dua unsur motor bensin dan listrik) yang telah dikembangkan oleh Toyota, HINO, Honda, Daihatsu dan Mitsubishi.

Target Pengunjung

Untuk melihat stan-stan yang ada, mengikuti permainan dan hiburan interaktif, pengunjung dapat membeli tiket seharga Rp10.000. Panitia juga menyediakan angkutan shuttle bus dengan rute Stasiun Gambir – JIExpo dan Hotel Golden - JIExpo hanya pada hari Sabtu & Minggu.

Pada hari Senin, 3 November 2008 bertepatan dengan Hari Pelajar, semua pelajar bebas masuk tanpa harus membeli tiket. Diharapkan arena pameran IJE akan dipadati oleh para siswa dari berbagai sekolah di Jakarta dan mereka juga melibatkan diri secara langsung kedalam acara yang bersifat edukatif maupun hiburan.

Selama berlangsungnya pameran IJE 2008, diharapkan sekitar 300.000 orang akan datang dan turut ambil bagian dalam berbagai acara hiburan seperti festival seni dan kebudayaan yang digelar secara interaktif. Pengunjung dapat mengikuti dan merasakan beragam seni tradisional, pemainan, dan juga hadiah-hadiah langsung yang menarik di acara yang digelar bersamaan dengan IJE 2008 ini,” kata Ernst K Remboen, Direktur Dyandra Promosindo selaku penyelenggara event ini. (*)

October 30, 2008

Cerpen : Sekadar Ingatan-ingatan

Filed under: Uncategorized — bantenmuda @ 7:47 am

Sekadar Ingatan-ingatan

Cerpen: Niduparas Erlang

Selama tiga tahun berjalan, mencarinya, tak banyak yang bisa kulakukan. Selain terus menerus mempertajam ingatan, dan menuliskan sesuatu tentangnya sambil menceritakan pula kondisiku saat ini. Kutulis secara serampangan di secarik kertas. Dan aku menyebutnya sebagai surat. Namun, walaupun aku menyebutnya surat, aku tak pernah bermaksud untuk mengirimkannya ke alamatnya. Sebab aku pun tak tahu keberadaannya. Ini hanyalah sebuah upaya untuk merekam. Mengabadikannya lewat tulisan. Dan telah begitu banyak coretan-coretan itu. Dan kubiarkan saja menumpuk di dalam tas hitamku yang telah lusuh. Jika kau, kawan, bersedia mendengarkannya, baiklah akan kubacakan beberapa coretanku tentangnya:

Sayap rinduku membentang semakin lebar. Tapi sepertinya, masih begitu luas ruang yang menjaraki kebersamaan kita. Masih ada sekat yang sengaja kau pertahankan dalam pekat. Ah, Non, ingin kupugar pagar ragumu dengan segenap kesungguhanku. Walau bulu-bulu sayapku terkadang dirontokkan cuaca, dicukur ocehan-ocehan beberapa kawan yang merasa mengerti dan banyak mengalami cinta. Namun ketika hujan mendera, menggenangi ceruk hati, membikin rumah-rumah udara pendek usia, selalu aku kembali ke lampau waktu. Mengingat kenangan denganmu. Ya, rindangnya hujan selalu mengingatkanku pada rindang rambutmu yang nampak basah yang pernah kudapati di sebuah pagi yang panas. Dan bukankah pertemuan kita kerap ditandai dengan hujan? Kemudian bulu-bulu sayapku kembali bertumbuhan. Lebih rimbun dan lebih melebar lagi. Aku ingin merengkuhmu, Nona. Mesti ada dekap untuk menyelamatkan kewarasanku. Karena bulu sayapku yang rontok, tak kujadikan penanda jalan untuk mengantarku pulang. Dan aku telah melupakan muasal. Telah pula kutanggalkan pakaianku. Agar aku merdeka dari segala dalam perjalanan lamat ini. Perjalanan yang mempertemukanku dengan berbagai hal. Begitu banyak kutemui peristiwa, fragmen, yang sebelumnya tak terpikirkan sama sekali. Peristiwa-peristiwa yang terkadang membuatku harus menceburkan diri ke dalam kubangan kerbau. Dapatkah kau rasakan baunya? Terkadang juga aku mesti berebut tulang dengan anjing-anjing gila. Atau seringnya aku tersesat dalam labirin hari. Tapi, tak semua layak dan menarik untuk kuceritakan padamu. Sebab hujan dan angin yang kali ini menghampiriku, tak sedikitpun memberi kabar tentang keberadaanmu, atau paling tidak menyampaikan selarik berita tentang kondisimu. Apa kau telah sembuh dari sakit yang menyebabkanmu harus meninggalkan kota tempat kali pertama kita bersua dan bercengkrama? Yang membuatmu meninggalkanku? Akan tetapi, aku berharap, disaat angin dingin dan hujan menerpa senja raya seperti saat ini, kau sedang menikmati matahari yang seperti buah jeruk di ufuk barat. Namun sejenak kemudian, hujan tiba-tiba saja mereda. Hanya daun yang terceraikan ranting jatuh menimpah kegelisahanku. Aku pikir, barangkali inilah cenderamata darimu. Bahwa kau juga sama merindunya kepadaku. Walau aku tahu kau masih ragu. Dan aku pun tahu bahwa aku masih takut. Atau kita sama-sama pengecut. Aih, ternyata jujur telah melebur dalam warna-warna kabur. Tak seperti warna lengkung pelangi yang kendak kutiti itu. Yang barangkali di ujung sana tempatmu kini. Berluluran cahaya sembari mandi dan mengusir debu-debu yang melekat di tubuhmu. Dan aku ingin menemuimu setelah kau usai. Tubuhmu segar. Bolehkah aku memintanya secangkir saja? Agar kerongkonganku sedikit basah. Agar tulang lidahku tak kelu saat kukatakan: aku mencintaimu, mengagumi seluruhmu. Tapi simpul penat yang membebat kaki ini belum selesai kurelai. Istirah beberapa jenak ternyata tak mengembalikan energi yang tercecer seharian. Dan sedari tadi aku masih tergeletak di bawah pohon ini. Merenungi senja. Menikmati gemercik dan jeram-jeram liar dari sebatang sungai berair bening. Yang kemudian berkelebat keinginan untuk menghanyutkan diri di arusnya yang tak begitu deras. Manut mengikuti alurnya. Adakah ini akan bermuara di matamu? Ah, Non, matamu membuatku iri. Sekaligus membuatku takut jika terlalu lama berkaca pada beningnya. Tetapi, aku pun enggan berpaling jika sudah menatapnya. Aku memilih terhisap ke dalam pusaran arus matamu. Sebab bentuknya penuh dengan mosaik atau ornamen memesona, menyimpan misteri asing yang nampak akrab. Sorotnya mengalirkan denyutan yang meluncur kencang di dalam sarafku. Dan aku pun tenggelam. Berputar-putar seperti gasing yang dibanting tangan-tangan perkasa, dan menimbulkan suara desing yang sengau.

Seperti itulah surat yang kutulis di tahun pertama. Ditulis di tepi sungai, sebelum masuk ke sebuah perkampungan yang penduduknya ramah-ramah. Entahlah bagaimana aku bisa sampai ke kampung itu. Karena waktu itu, aku hanya berjalan mengikuti kehendak hati. Dan membiarkan saja kakiku melangkah semaunya. Hingga tengah malam, aku merasa lelah dan membaringkan tubuhku begitu saja di depan rumah panggung seorang warga. Esoknya aku terbagunkan oleh gonggongan anjing yang menggigiti sepatuku. Lalu segerombolan bocah-bocah yang hendak berangkat sekolah, terkesima menontoniku yang berebut sepatu dengan seekor anjing. Mereka tertawa-tawa nyaring. Dan setelah aku berhasil mengusir anjing itu, mereka pergi sembari terus tertawa-tawa. Kulihat ada seorang anak lelaki yang memiringkan telunjuknya di keningnya. Dan disambut anggukan kepala dari kawan-kawannya yang lain.

Tak lama setelah itu, si empunya rumah, seorang lelaki yang sudah lumayan tua keluar dari dalam rumah ini dan mendekatiku. Kukira, ia akan banyak menanyaiku perihal mengapa aku bisa tidur di rumahnya, atau semacamnya. Tetapi tak. Ia hanya melemparkan senyum sesaat. Lalu berkata: “Ikut saya.” Aku bingung, tak tahu mesti menjawab apa. Dan nampaknya pak tua itu dapat membaca kebingunganku dari air mukaku. “Tidak usah takut. Ayo,” ajaknya. Dan ia masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku semakin bimbang. Apa gerangan yang akan dia lakukan? Dan mengapa ia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. “Mari Nak, sini. Sarapan sama-sama.” Suara yang kudengar kemudian berbeda dari suara lelaki tadi, dan sepertinya suara perempuan. Ah, barangkali istrinya. Namun, mendengar kata sarapan, makhluk-makhluk liar di dalam perutku meronta. Mencabik-cabik lambungku. Dan tiba-tiba saja rasa lapar begitu sangat terasa menyiksa. Dan aku yang memang sudah dari kemarin tak makan, mendapat tawaran yang bagus, amat sayang untuk dilewatkan. Maka, kulepas sepasang sepatu yang solnya sudah menipis itu, dan dengan sedikit malu, agak canggung, aku mengendap masuk ke dalam rumah panggung itu.

Di dalam ternyata mereka telah menggelar makanan di atas tikar pandan. Dan hanya dua orang yang duduk menghadap makanan. Satu lelaki tua yang tadi mengajakku masuk, dan satunya lagi seorang perempuan yang sangat mungkin yang tadi suaranya terdengar mengajakku sarapan. Lalu dipersilakannya aku duduk. Kupandangi wajah mereka satu-satu. Dan mereka hanya tersenyum ramah. Apalagi perempuan tua itu. Lekuk dan kerut di wajahnya mengingatkanku pada nenek. Aih, nenek, maafkan aku yang tak bisa merawatmu—tapi maaf, aku tak hendak menceritakan nenekku.

Kemudian pak tua itu memimpin doa, dan yang perempuan mengamininya. Aku ikut-ikutan. Walau tak tahu doa apa yang mereka baca. Sebab, jika aku mau makan, makan saja. Tak pernah berdoa dulu.

“Mari, silakan. Makanan kami seadanya. Maklum di kampung,” kata perempuan itu sembari memberikan piring padaku.

Akh, apa-apaan ini. Mengapa mereka begitu menghargaiku. Seolah aku adalah tamu yang sengaja mereka undang. Dan perempuan itu bilang, makanan kami seadanya, padahal aku bisa dengan jelas melihat bahwa menu sarapan mereka sangat istimewa. Betapa tidak. Selain nasi putih yang masih mengepul di dalam bakul. Lauk yang mereka sajikan begitu beraneka; tempe goreng, tahu goreng, ikan asin panggang, tumis kangkung, sayur toge beserta irisan tahu, daun singkong yang direbus, mentimun, sambal, bahkan kerupuk. Jarang-jarang aku bisa temukan sarapan seperti ini. Biasanya sarapanku cuma seiris roti, dan segelas kopi, dan sebatang rokok. Dan itu harus bisa tahan sampai sore hari. Namun kali ini aku disuguhkan makanan yang begitu melimpah. Jelas tak akan aku sia-siakan. Rasa malu serta canggung yang tadi masih memuncak, tiba-tiba saja lenyap. Menguap entah ke mana. Lesap ke dasar entah.

Kusendok nasi yang masih hangat itu ke atas piringku sampai menggunung. Kulirik lagi wajah-wajah mereka. Dan lagi-lagi hanya senyum yang kudapati. Dan aku menafsirkannya sebagai ungkapan mempersilakan untuk mengambil sebanyak-banyaknya. Dua iris tempe, dua iris tahu, sepotong ikan asin, tumis kangkung, sayur toge, mentimun, daun singkong, sambal, dan kerupuk. Tumplek semua di atas piringku. Dan tanpa basa-basi, aku melahap makananku dengan rakusnya. Dalam hitungan beberapa menit saja, semuanya ludes, dan berpindah ke dalam perutku. Hingga aku benar-benar merasa kenyang, puas, dan bersendawa.

Tetapi perempuan ini masih menawariku untuk menambah order makanan. Dan aku menolak, sebab perutku sudah tak lagi sanggup menampung. Kemudian lelaki itu menawariku rokok. Jarum coklat. Tanpa malu-malu, kulolos sebatang dari bungkusnya. Namun, ketika ingin kupinta pemantik api dari tangannya, ia malah menyalakannya terlebih dulu dan menjulurkannya pada rokokku. “Terima kasih,” ucapku dibarengi embusan asap rokok.

Sementara istrinya membereskan piring dan semua sisa sarapan, aku dan lelaki itu saling melempar senyum sembari menikmati rokok masing-masing. Terkadang asap yang kukeluarkan dari mulutku membentuk lingkaran-lingkaran. Selang beberapa jenak, istrinya kembali sambil membawa dua gelas kopi hitam pekat dan menaruhnya di antara aku dan lelaki itu yang duduk tak tepat berhadapan. Dan mulai lagi pertanyaan-pertanyaan berseliweran di dalam kepalaku. Semakin lama, perasaanku semakin tak keruan. Serasa ada sesuatu yang janggal tengah terjadi. Maka, pelan-pelan kukumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan semua pertanyaan yang berkelindan di otakku dan menyoal perlakuan mereka yang seolah menyambut kedatanganku.

Dan dari berondongan pertanyaanku, akhirnya aku beroleh sebuah pengakuan dari lelaki itu. Bahwa sepuluh tahun yang lalu, anak perempuannya satu-satunya, diperkosa sekelompok orang tak dikenal. Lalu anak perempuannya kehilangan kewarasaannya. Ia lupa menyimpan alamat akal sehatnya. Sehingga ia tersesat di entah mana. Dan orang-orang kampung menyebutnya gila.

“Bapak sudah mencoba mengobatinya dengan berbagai cara, tapi Sumyati, Sumyati tidak sembuh-sembuh.”

Di ambang pintu menuju dapur, kulihat istrinya tertunduk dan bersedih. Lalu ia menceritakan bahwa, seorang dukun yang pernah ditemuinya untuk mengobati anaknya itu, memberikan semacam wewejang. Agar ia dan istrinya mau bersabar dan memberi makan kepada sembilan puluh tujuh orang yang secara tak sengaja mampir ke rumahnya. Dan menurut pengakuannya, aku adalah orang yang kedelapan puluh tiga selama sepuluh tahun ini.

“Apakah saya boleh melihat anak bapak?”

Ia dan istrinya saling menatap. Kemudian hening mengambang. Hanya derit pilu amben yang terdengar ketika aku memperbaiki posisi dudukku. “Boleh, pak,” pintaku lagi. Kulihat istrinya mengangguk pelan. Dan lelaki ini pun mengiyakannya. Lantas, diajaknya aku ke belakang rumahnya, ke tempat Sumyati dikurung.

Dan betapa tersentaknya aku ketika melihat anaknya terkerangkeng di dalam sebuah kandang. Ya, sekotak ruangan yang lebih mirip kandang kambing ketimbang tempat manusia. Dan siapa yang akan mengira kalau di dalamnya ternyata ada seorang perempuan yang dipasung karena dianggap gila.

“Bapak terpaksa memasungnya. Karena anak-anak kecil di sini, kerap melemparinya dengan batu dan mengolok-oloknya. Padahal, Sumyati tidak pernah mengamuk atau mengacak-acak apa pun.”

Sementara itu, Sumyati seperti tak menyadari kehadiran kami. Ia seakan asyik terpekur tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya sepenuhnya tertutupi rambut yang menjuntai ke depan. Kakinya berselonjor—atau terpaksa berselonjor—karena pergelangan kakinya diapit dua balok besar. Dan entah apa yang tiba-tiba merasuki tubuhku. Sebab aku begitu penasaran dan ingin melihat wajahnya. Maka pelan-pelan kudekati ia. Ayahnya memegang lenganku sambil mengisyaratkan agar aku jangan mendekati anaknya. Namun kubilang, tak akan apa-apa. “Saya hanya ingin menyapa anak bapak.”

Perlahan, kusibakkan rambutnya yang agak lengket berminyak dan sedikit menggimbal. Ah, perempuan malang. Dan Sumyati perlahan pula mengangkat wajahnya. Seberkas cahaya yang masuk lewat jendela, menyentuh kulit wajahnya yang pucat. Dan aku kembali tersentak, terkesiap, ada sesuatu meledak di dalam diriku. Tak mungkin! Bukan, bukan, dia…, aku tergagap, megap-megap. Kutilik lebih jeli lagi lekuk-lekuk wajahnya. Dan aku semakin tak percaya dengan apa yang kulihat. Mengapa wajahnya begitu mirip dengan seorang Nona yang aku cari selama ini. Ya, nyaris tak ada yang berbeda. Hanya saja, mata Sumyati kosong melompong. Tak menyiratkan tanda-tanda kehidupan. Bahkan ketika mata kami bersirobok hanya kekosongan yang kudapati. Akan tetapi, ada sesuatu yang sungguh tak dapat kucerna. Sesuatu yang rumit, yang berkitar-kitar di antara kami.

Sumyati tersenyum. Sedang aku terempas, retak. Diriku porak-poranda. Lebih dahsyat ketimbang aku mereguk senyum yang tersungging dari bibir Nona. Kini, aku tak hanya mabuk, melainkan juga hancur. Remuk-redam.

***

Dan aku kembali menulis surat:

Nona, kutemukan dirimu yang bukan engkau di dalam diri seorang, di dalam kondisi yang mengenaskan. Siapakah Sumyati? Siapakah engkau? Adakah kalian saling mengenal? Nona, sebenarnya aku yang telah benar-benar gila. Sebab telah kusingkirkan sekat pembatas gila dan waras. Kulupakan semuanya. Kubiarkan engkau membawa semua akal sehatku. Dan kini aku sungguh sekarat, sakitku bukan hanya psikis, melainkan juga fisik. Aku tersiksa, memang. Tetapi…, ah, biarlah. Engkau tak perlu merasa terbebani deritaku. Engkau hanya perlu tersenyum. Tersenyumlah!

***

Kutinggalkan kampung Sumyati dengan perasaan nyeri yang aneh. Aku mulai merasa asing pada diriku sendiri. Benarkah wajah Sumyati mirip dengan Nona? Atau itu hanya karena aku tak ingin melepaskan ingatanku tentangnya? Atau…, akh, serta merta saraf-saraf di kepalaku berdenyar. Sakit. Hingga tanganku terpaksa mencengkeram rambut. Menahan siksa. Tapi semakin lama aku menahan rasa sakit, seekor makhluk buas yang tengah merajam isi kepalaku semakin ganas mencabik. Tubuhku ingin berontak namun tak mampu. Aku hanya bisa meronta-ronta. Lalu terjerembab. Dan menggeliat-geliat seperti belut yang kepalanya dipukul benda tumpul.

Aku meraung. Lalu terkapar….

***

Lalu apa yang terjadi setelah itu?” barangkali kau, kawan, akan bertanya begitu.

Tak banyak lagi yang bisa kuingat. “Ia sakit, lalu pulang ke kampungnya.” Demikianlah kata seorang perempuan yang menggantikan posisinya sebagai kasir di wartel itu. Sementara aku yang semakin takut menerima kenyataan sebab mulai berpikir; bagaimana jika ia…? Hanya mampu berceloteh banyak menanyakan apa saja yang mungkin kuperlukan pada perempuan itu. Hanya saja, perempuan itu tak tahu banyak. Bahkan, ia tak tahu di mana alamat si Nona. Ia hanya menyebutkan sebuah nama kota kecamatan; Legok.

Ya, Legok. Sebuah kota kecamatan yang baru kali pertama kudengar. Agak asing. Namun, keinginan yang kuat memompa darah sampai ubun-ubun. Muncrat sampai ke kota senja, kota yang nyaman untuk melepaskan ruh. Dan ternyata, kota si Nona tak ada dalam peta, juga tak bermukim dalam malam yang kerap melemparkanku pada kegelisahan dan simpulan yang bukan-bukan.

Demikianlah, ingatan-ingatan dan kemungkinan-kemungkinan yang pernah tercatat dalam sejarah muram perjalanan. Tak semuanya bisa kau percaya. Dan memang kau perlu percaya, sebab aku pun sudah tak lagi bisa membedakan antara yang pernah kualami dengan yang kurekayasa. Namun semua itu terdapat pada bagian-bagian tubuhku. Hilang atau berkurang sedikit saja berarti cacat. Maka ceritaku itu harus tetap seperti itu. Sebab kini, tatkala aku mendusin, aku tak lagi bisa mengingat apa-apa. Bahkan, kemarin, aku lupa kenapa aku bisa terkapar di atas kuburan. Di atas segunduk tanah merah, yang di nisannya tercetak nama: EVA HERLIYANA. [#]

Rangkasbitung, 11022008

Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. [menjadi] Niduparas Erlang hanya jika menulis cerper—agar terkesan agak genit sedikit. Karir kepenulisannya dimulai sejak bergabung dengan Akademi Sastra Tangerang (Astra), sebuah wadah atau semacam workshop hasil bentukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berkerja sama dengan Dewan Kesenian Tangerang (DKT). Tulisannya berupa Puisi, Cerpen, Esai, Resensi, tercecer di beberapa media massa cetak dan syber, sementara coret-moret omong kosongnya cuma untuk konsumsi pribadi. Kini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Komunitas Musikalisasi Puisi (Kompi) Banten, dan Bengkel Penulisan Sastra (Belistra-Untirta). Selain itu, ia juga sebagai Redaktur Budaya Tabloid Kaibon dan penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Sampai saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia, Fak. Bahasa dan Seni, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

« Previous PageNext Page »